Rabu, 31 Desember 2008

Sebelum 2008 ditinggalkan

2009 tinggal berapa menit lagi. Aku menuliskan ini mungkin sebagi postingan terakhir di 2008. Tetapi aku selalu berharap terakhir untuk 2008 saja. Semoga Tuhan masih memperpanjang umurku di 2009 nanti. Berharap memang selalu menjadi senjata terakhir setelah segala usaha telah dilakukan. (wah... ketika sampai pada kalimat ini sebuah petasan meledak dekat warnet dan terdengar seperti bom). Itulah ciri-ciri optimis. Didalam kehidupan, optimis mutlak selalu diperlukan. Tidak saja diperlukan, tetapi juga harus dilaksanakan. Perwujudannya dalam berpikir positif. kata dwi, alam akan menyerap segala harapan, dan optimisme seperti itu.

Bagi kawan-kawan yang sedang berjuang, dalam apa saja, selalulah berpikir positif, optimis dan menaruh harapan itu di depan setelah perjuangan itu dilakukan. Kegagalan mungkin akan kita temui di lapangan nanti. Tetapi itu bukan menjadi alasan bagi kita untuk mundur dan tidak melakukan apa-apa. Sekarang saatnya bergerak, bergerak dalam goresan penamu, dalam lentik jarimu, dalam tarikan indah vokalmu, dalam hentakan kaki kanan dan kirimu, dengan semangat yang terus menyala bagi diri kita, keluarga kita, orang-orang yang kita sayangi, bangsa dan negara kita.

Ah....tiga menit lagi pukul 12 malam waktu indonesia bagian tamalanrea...
Aku tak punya terompet, tetapi aku akan meniup terompet semangat tahun baru ini dalam hatiku. Terpatri kuat disana dalam tarikan nafasku.

Selamat Tahun Baru 2009 .....!!!!

2008 dalam alunan lagu

Kendaraan yang berlalu lalang di depan warnet terlihat bertambah ritmenya. Semakin banyak dan semakin cepat. Kebanyakan menuju ke arah kota. Hari ini memang hari terakhir di tahun 2008. Sejak sore tadi kuperhatikan hal tersebut. Tidak terasa sudah setahun ini berlalu. Sepertinya baru kemarin blog ini kuluncurkan. Ternyata ketika melihat tanggal postingan pertamaku : "saraswati library" itu bertanggal 23 pada februari 2008. Waktu memang hebat, membius kita hingga tidak mampu mengingatnya.

Dalam setahun ini, terkadang ada kepingan-kepingan dalam hidup kita secara spontan ataupun tidak kita sadari terlepas begitu saja, sehingga membutuhkan waktu untuk menyusunnya kembali menjadi suatu puzzle kehidupan yang utuh. Di sisi lain mungkin kita juga menemukan kepingan baru dengan keunikan dan kelebihannya tersendiri untuk melengkapi bahkan mengganti kepingan lama kita. Aku memilih memilih lagu sebagai media kepingan-kepingan tersebut diletakkan. Lagu dapat mewakili perasaan meski itu pun tidak semuanya, tapi aku akui sangat efektif menyalurkan sedikit kepenatan dan kegelisahan.

Seperti saat ini, sayup-sayup lagu "januari di kota dili" terdengar di seantero ruangan warnet xtranet. Aku memutarnya agak keras untuk mengusir sepi karena hanya ada satu pelanggan yang tersisa menjelang pergantian tahun. Awalnya aku mengira lagu yang cocok bagiku pada tahun ini adalah lagu milik ipang dengan "sahabat kecil" karena mengingat greget laskar pelangi telah merasukiku, mulai dari buku hingga filmnya diputar di bioskop beberapa waktu lalu. Ternyata seiring waktu berjalan, silih berganti lagu-lagu lainnya mengisi relung hati untuk menyejukkan jiwa. Sebutlah "malaikat juga tahu" milik dewi lestari pada cerita dalam rectoverso yang sangat menggugah padahal sampai sekarang aku belum membacanya sampai tuntas. Kemudian ada juga tembang lawas big yellow taxi yang di aransemen ulang oleh counting crows, lagu ini sarat akan pesan moral tentang kerusakan lingkungan. Tetapi aku sangat mengingat lagu ini bukan karena alasan itu, melainkan karena Dwi benci terhadap vannesa charlton yang cuma nampang nyanyi dengan sebuah lirik : "huuuu pap pap pap..."

Bertolak belakang sedikit dengan dwi, beberapa waktu lalu ketika ecy masih sering ke warnet, ia sangat suka lagu "thousand miles" milik vannesa charlton. Aku selalu memutarkan lagu ini ketika ecy baru sampai di warnet. Saking seringnya diputar ecy malah jadi marah-marah sendiri. Kalau darma lain lagi, suatu sore ia datang ke warnet dan langsung mencari sebuah lirik lagu. Ketika beberapa saat kemudian setelah dapat, ia memintaku memutarkan sebuah lagu. Ternyata lagu itu milik fastball, yaitu "out of my head", entah kenapa tiba-tiba tingkah darma seperti itu. Dengan lirik yang sudah didapatnya tadi, darma bersiap menunggu bait pertama "out of my head". Dan mengalirlah darma bernyanyi mengikuti alunan vokal Tony Scalzo.

Sementara itu dewiq kembali menggebrak belantika musik indonesia, melalui lagu "pernah muda" yang disuarakan oleh bunga citra lestari. Lagu ini sangat menyentuh sekaligus lucu karena iramanya yang membuat orang sedikit bergoyang. Suara BCL yang mendesah membuat ani di pondokan turut pula menyukai lagu ini. Aku pun sangat menyukai irama bossanovanya sehingga membuat orang yang memainkannya dalam alunan gitar terlihat sangat jago.

Akhirnya di penghujung tahun 2008 ini, aku bertemu narti. Teman sekaligus keluarga jauhku yang memaksa memoriku terlempar kembali ke tanah kelahiranku, tanah lorosae melalui cerita-ceritanya ketika dia nekat memasuki negara timor leste tersebut 2006 silam. Dari sinilah air mataku tak tertahankan ketika tak ada lagu yang cocok selain "januari di kota dili" dari rita effendi itu mengalun pelan kemudian kukeraskan kembali, sekali lagi untuk mengusir sepi.

Disini aku sendiri, masih seperti dulu, masih menunggumu (ranes)

Dua langit telah membaur di suatu cakrawala
Dua biduk t’lah berlabuh di satu dermaga cinta

Januari di kota Dili
tak terkira cinta bersemi
Januari lekas berganti
dan terhempas cintaku

Januari di kota Dili
kian hangat dalam ingatan
nantikanlah aku kembali
‘tuk menjemput cintamu

Cintamu Timor Lorosae
Cintamu Timor Lorosae

Selasa, 30 Desember 2008

Mengemas masa lalu, merangkai masa depan

Mungkin kota ini sudah bosan melihatku tidak pernah beranjak setelah sekian lama menuntut ilmu di salah satu bangunan diatasnya. Padahal waktu yang disediakan seharusnya dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga efektif dalam kehidupan. Tapi begitulah aku. Entah karena selalu merasa tak pernah cukup atas anugerah ini ataukah penghalusan daripada istilah “malas” dalam diriku sehingga rasa betah ini mengalahkan segala keinginan untuk pulang apalagi memikirkan masa depan, kerja dan kawin kemudian beranak pinak.

Tetapi mau tidak mau, tujuh tahun adalah waktu yang disediakan untukku. Kampus merah sudah menggariskan batas tersebut jauh sebelum kelahiranku di sini dari rahim UMPTN 2001 silam. Perjalanan waktu dan aturan seakan tidak mau berdamai denganku. Ataukah aku yang memang keras kepala tidak mau tahu segala ketentuan tersebut ?

Aku sempat kalah di beberapa lini dan waktu itu. Kalau saja tidak bertemu ranes dan orang-orang disekitarku yang terus memberi baterei semangat agar lampu perjuangan ini terus menyala. Tidak terhitung sudah jasa-jasa mereka. Ketika rasa terpuruk itu kembali datang, maka aku teringat semua wajah-wajah tersebut. Semangatku pun berkobar kembali. Tugas akhir yang selalu menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa tingkat akhir seperti diriku, berubah menyenangkan karena adanya tangan halus Kak Syamsuddin Aziz, ditunjang dengan kondisi pasar mace yang begitu bersahabat secara tidak sadar mengumpulkan ide-ide dari teman-teman seperti abang, bento, kak harwan, arya, yudha dan masih banyak lagi . Api semangat itu juga ditiupkan oleh beberapa adik spesialku rahma "pelangi", nendenk, debra dan keluarga cuacanya (riana shunshine, dll), ifzan, ruztan, cokke dan masih banyak lagi

Tampang sangar seekor naga memang membuat ciut siapa saja yang menatapnya. Tetapi disini, naga-naga itu menyayangiku seperti saudara sendiri. Aku sengaja memang menuliskan nama-nama itu disini, mereka bejumlah sembilan makanya disebut Sembilan Naga. mereka itu adalah : Dwi, ecy, shanty, were, icha, darma, azmi, wuri dan emma. Persahabatan itu terjalin begitu indah dan tak terasa terus memompa hingga puncaknya tanggal 25 oktober kemarin aku bisa ujian meja bersama seorang temanku, saudaraku, Fajar .

Kini dalam penantian ijazah yang insya allah akan keluar januari nanti, aku akan mencoba berdamai dengan waktu. Mencoba melepaskan pelampungku dan berenang ke tengah lautan nasib. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, pengalaman masa lalu, dan setumpuk harapan akan masa depan yang lebih baik, aku akan kembali mencoba. Mencoba merasakan kata "pulang" meskipun makna pulang itu sebenarnya telah kurasakan disini. Ketika makassar telah memelukku dan menerimaku seperti anaknya sendiri. Maka tidak salahlah aku selalu sedih jika "feels like home" chantal kreviazuk terdengar olehku. Dalam 7 tahun ini Makassar sudah seperti ibuku sendiri. Tapi aku tak akan memaksanya mengakuiku sebagai anaknya.

Pulang disini dalam arti sesungguhnya. Arti oleh kebanyakan orang. Ketika kau menyebutkan asalmu dari mana disitulah kau akan kembali pulang. Dalam hal ini ketika berkenalan dulu, aku selalu menyebutkan gorontalo sebagai asalku.

Mungkin kesanalah aku pulang nanti....


Jumat, 26 Desember 2008

menulis kehidupan

seorang teman pernah bertanya
atau lebih tepatnya aku yang menganggapnya bertanya

mungkin seperti ini inti pertanyaannya,
(karena sebelumnya saya pernah dengar abang rahmad bilang : "menulislah supaya kau abadi")
lalu muncul lah seperti kata teman saya ini
"ketika produsen alat-alat tulis menghentikan produksinya,scara tidak langsung mereka telah menghentikan keabadian seorang manusia?

ooh..
menulis yang satu ini “beda”
menulis bukan berarti mengabadikan diri kita dengan alat tulis
menulis seperti mencintai,
ketika kita menanyakan alasan apa bagi kita untuk mencintai sesuatu/seseorang
maka sebenarnya tidak alasan untuk mencintai sesuatu/seseorang tersebut

sebenarnya kita tidak perlu alasan untuk mencintai

begitu juga menulis,
maka tulislah…..
tulislah dalam kehidupan
melalui apa saja…
melalui bidikan kamera seorang fotografer
melalui sepakan kaki pemain sepak bola
lewat indahnya kelentikan jemari seorang penari
dalam alunan suara alto seorang biduan
atau pukulan maut seorang petinju
atau ayunan cangkul seorang petani
dan masih banyak lagi
maukah kalian menanmbahkannya ?

Kamis, 25 Desember 2008

Entah kenapa...

entah kenapa...
tapi saya merasa harus menyampaikannya...

SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU....

Rabu, 24 Desember 2008

24 desember, ketika malam pukul 11 lewat sedikit

Tepukan tanganku sengaja agak kukeraskan ketika memanggil pete-pete' (angkot) 05 jurusan cendrawasih-kampus karena jam sudah menujukkan pukul 11 malam lewat sedikit. Kami, (saya, patang dan debra) baru saja pulang dari acara syukuran wisuda anak-anak kosmik periode desember ini yang mayoritas angkatan 2004. Kabar baiknya, kami (patang dan saya - AKHIRNYA!!!) juga termasuk di deretan wisudawan tersebut.

Aku tak akan bercerita panjang tentang acara tadi. Kami datang memang agak telat, tetapi masih banyak anak kosmik yang hadir. Acara sebenarnya sudah dimulai sejak sore tadi. Banyak anggota kosmik dari senior sampai abang-abang yang datang, bahkan kabarnya ketua jurusan illmu Komunikasi yang baru, Bapak Nadjieb dan beberapa dosen-dosen serta staf administrasi hingga pak saleh, staf administrasi FISIP yang sangat berjasa membantu para wisudawan mengurus berkas kemarin pun turut hadir.

Malam semakin larut, untungnya bintang yang tampak di langit dengan jelasnya dan selalu kuperhatikan dengan seksama sejak berangkat tadi masih kelihatan bersinar terang. Ini berarti tidak ada awan mendung yang menutupinya. Otomatis hal seperti ini biasanya menandakan bahwa malam ini tidak akan turun hujan. Beberapa minggu ini Makassar memang selalu diguyur hujan. Makanya aku agak trauma, mungkin sama seperti lainnya. Manusia memang selalu belajar dari alam, dan tuhan menujukkan dirinya melalui tanda-tanda seperti itu. Mendung dan hujan selalu berpasangan untuk mengingatkan. Meskipun ada salah satu lirik lagu "mendung tak berarti hujan..." tetapi ku pikir itu merupakan kiasan untuk menyemangati kita bahwa ketika mendung mengancam akan turun hujan, bukan berarti segala kegiatan harus terhenti. "Life mus go on," masih ada payung, jas hujan atau daun pisang yang bisa di comot untuk melindungi diri agar tidak basah.

Angin dimalam ini bertiup sepoi-sepoi saja, tetapi tidak jika berada dalam kendaraan, apalagi seperti pete-pete' tumpangan kami ini. Pintu utamanya yang menganga membuat angin terasa lebih kencang ditambah dengan kekuatan daya dorong mobil hingga Aku agak menggigil dibuatnya. Beberapa kali pete-pete ini mengubah arah keluar dari jalur resminya karena di sepanjang jalan menuju kampus ini ada beberapa gereja telah disesaki umat nasrani untuk merayakan misa kudus peringatan natal yang jatuh pada esok hari.

Terlihat penampilan para jemaat itu sangat spesial malam ini, mulai dari tua, muda, bapak-bapak, ibu-ibu, para gadis, hingga anak-anak. Karena umat nasrani di kota ini di dominasi oleh etnis selain bugis-makassar, maka pemandangan di jalanan ini terasa lain. Kebanyakan terlihat olehku adalah dari etnis cina. Terkadang ada juga kudapati muka-muka selain cina dengan tanda bermata tidak sipit dan tidak putih. Meskipun begitu, mereka berbaur dalam nyanyian, doa dan kekhusyukan malam natal.

Di sudut jalan lain, cafe-cafe, tempat bilyard serta bar terlihat mulai berdenyut. Dinginnya malam memang menjadi penghibur tersendiri bagi para pengunjung tempat-tempat tersebut. Mungkin karena siang hari mereka harus kerja mencari nafkah, dan keadilan Tuhan menciptakan malam untuk beristirahat pun dimanfaatkan sedemikian rupa.

Ketika pete-pete' tumpangan kami mulai memasuki daerah tamalanrea, denyut kehidupan malam pun berangsur hilang, di kawasan pendidikan ini atmosfirnya memang terasa beda dari kehidupan kota. Ketenangan dan keheningan khas wilayah pendidikan menyelimuti kecamatan ini. Kecamatan yang selalu mengajarkan kepada kita agar tidak pernah menyerah dalam segala hal, termasuk menempuh pendidikan. "Tamalanrea" kata orang berarti "tak jemu-jemu" . Itulah alasan nama itu diberikan.

Tapi....itu sebelum berdirinya beberapa pusat perbelanjaan di sekitar sini. Ah... aku tak tahu apa maunya para pemilik modal itu, para pengambil kebijakan itu, atau para pengawal negara itu. Mungkin juga jika aku di posisi mereka, aku akan berbuat hal yang sama. Bukankah keuntungan memang selalu diatas segala-galanya...?

Di depan pintu satu UNHAS pete-pete' berhenti, kami pun turun dan berpisah. Patang dan debra ke arah pondokan, sedangkan aku kembali ke warnet.
Sebelum berlalu, aku sedikit berteriak ke arah patang dan debra : "off the record yang tadi ya...!!!"

Minggu, 14 Desember 2008

Relax time, minggu pagi itu entah tanggal berapa..

Saya menemukan foto ini dari kumpulan foto di salah satu profile fiendster temanku.

Jumat, 12 Desember 2008

Negeri “seng”, dan Pondok “hanya karena cinta”


Aku belum pernah membayangkan tempat seperti ini. Jalan pendek sekitar 1 km yang memiliki dua tikungan menyambut perjalanan kita sebelum memasuki gerbang negeri ini. Tidak dapat disebut gerbang, karena pembatas antara negeri ini dan dunia luar itu adalah sebuah jembatan yang aspalnya sudah terkelupas, tetapi masih bisa dilalui oleh mobil dan motor serta sepeda. Terkadang pula kawanan sapi serta kambing melalui jembatan itu. Lewat dari jembatan itu lah negeri ini berada. hawa khas yang tidak kita temui di tempat lain mulai terasa. Hawa itu muncul dari persetubuhan kulit seng yang menjadi dinding-dinding tempat tinggal disini dengan sinar matahari dan angin yang berhembus pelan, terkadang pula kencang,


Ya, seng merupakan bahan utama penyusun rumah-rumah yang ada di negeri ini. Jikalau ada rumah dari semen dan batu bata, maka jumlahnya tidak lebih dari jumlah kedua tangan dan kedua kaki yang digabung. Rata-rata lantai di rumah-rumah itu sudah menggunakan campuran semen bahkan tegel. Kecuali rumah bertingkat dua, yang lantai atasnya menggunakan susunan papan-papan sehingga bila kita menginjaknya, maka akan terdengar di telinga penghuni di lantai bawah.

Fungsi rumah kost mendominasi sebagian besar rumah yang dibangun dinegeri ini. Ada dua system pembayaran kost-kosan disini. Per bulan atau per tahun, tinggal pilih saja. Harganya pun bervariasi, ada yang perbulannya

Seperti pondokan yang ku tempati ini. Pembayarannya bisa per bulan yang berharga 70 ribu rupiah. Dengan atap seng dan berdinding seng, maka pada siang hari kita akan disuguhkan dengan fasilitas “mandi uap keringat” karena panas yang dihasilkan terbilang diatas normal menembusi setiap inci tubuh ini.

Yang tersisa bagi penghuni kamar-kamar ini mungkin hanyalah cinta pada pasangannya masing-masing. dan ini menjadi alasan untuk bertahan di tengah himpitan kebutuhan hidup sekarang ini. sebagian besar penghuni pondok ini adalah orang yang berkeluarga. Malah ada sebuah pasangan suami istri yang mengontrak 3 kamar berdampingan sekaligus. Untuk menghubungkannya, maka sekat pemisah antara ketiga kamar tersebut di singkirkan. Hasilnya sebuah kamar yang memanjang dan lebar serta luas cukup untuk ditinggali sebuah keluarga.

Oh.. sejak tadi aku lupa ya menyebutkan nama resmi kawasan ini. Letaknya di belakang pasar daya, jikalau hendak kesini, Engkau hanya perlu membayar dua ribu rupiah untuk menumpang pada tukang ojek. Katakan saja tujuanmu : "pondok sawah"

Minggu, 30 November 2008

Maryamah Karpov pertama di makassar

Hari ahad, penyebutan untuk hari minggu dalam agama islam. Ahad yang berarti satu atau yang pertama. Entahlah apakah ini berkaitan dengan bahasa tubuh dwi yang mengisyaratkan bahwa dia sedang menuggu sesuatu ketika aku baru tiba di pondokan pagi ini. Dengan kaus putih dan celana abu-abu dwi tersenyum-senyum sendiri dan tebakanku kali ini betul. Ternyata dia sedang menanti sesuatu. Sesuatu yang istimewa, kalau dalam istilah makassarnya "powerful".

Tentu saja itu istimewa karena yang ditunggu itu adalah "MARYAMAH KARPOV" !!!!!

ya buku tersebut akan datang pagi ini setelah ka yusran mendapatkannya kemarin. Dan pagi ini, salah satu saudara kak yusran membawanya langsung ke makassar. Beberapa saat kemudian dwi menerima kabar baru, dan dwi memutuskan untuk menjemput maryamah karpov itu saja.

Hari minggu memang hari yang tepat untuk bermalas-malasan. Acara di tv pun sepeti sengaja di program untuk hiburan seharian penuh. Mulai dari film kartun, sinetron hingga reality show hadir di hari ini dari pagi hingga pagi lagi. Film kartun mendominasi sepanjang pagi hingga siang ini. Sambil menghabiskan waktu luang ini, detective conan dan dilanjutkan dragon ball hingga naruto ku tonton habis.

Tidak berapa lama selepas kepergian dwi menyongsong maryamah karpov di BTP (rumah saudara kak yusran), dwi pun pulang dengan senyum sumringahnya. Kata dwi dia seperi mercon yang meledak. Aku melihatnya, "MARYAMAH KARPOV" tepat di depan mataku. Aku pun menyentuhnya merasakan ketebalan halamannya dan menciumnya sesaat.

Entah ini hanya perasaanku saja, tapi aku bolehlah merasa bahwa Maryamah Karpov di depanku itu adalah maryamah karpov pertama yang tiba di makassar. Dan boleh pula aku berbangga hati termasuk beberapa orang pertama yang melihatnya disini.

Ah.. penantian-penantian itu pun pelan pelan terobati, tapi aku malah semakin takut

Aku justru merasa penantian itu seperti buah yang mendekati masak. Bunga yang mendekati mekar. dan daun yang akan menguning. Ketika telah masak, atau mekar dan menguning, pelan-pelan pula akan habis dan gugur serta terlupakan.

Aku pun merasa perpisahan ini semakin dekat...

Belajar melepaskan

Terkadang memang kenyataan tidak selalu seperti rencana. Makanya rencana yang muluk-muluk bisa mengakibatkan sakit hati bahkan stress. Dengan belajar dari sebuah kenyataan yang tidak seperti rencana inilah kita bisa mengetahui tentang ikhlas.

Sedikit pelajaran tentang ikhlas kita dapat pula memahami arti cinta. Karena cinta bukan sekedar memiliki dan memahami serta menyayangi. Terkadang pula berupa bagaimana kita harus melepaskan sesuatu.

(untuk sebuah cinta yang kemudian harus dilepaskan karena dengan melepas itulah arti cinta yang lain)

Hari ini aku kembali melepaskan setelah beberapa kali berusaha menggenggam
dan kini ku tahu arti memiliki yang sebenarnya
yaitu ketika sang pemilik sesungguhnya datang untuk memintanya



Sabtu, 29 November 2008

Menanti maryamah karpov

Berapa hari yang lalu Fajar dengan setengah terpekik meemberitahu sesuatu. Dari situs buku www.inibuku.com, ia melihat "Maryamah Karpov" sudah bisa dipesan. Aku pun memberitahu dwi yang kebetulan juga sedang online dari warnet dekat pondokan lewat yahoo messenger.

Kini tanggal 29 mendekati hari terakhir bulan november. Buku tersebut memng dijadwalkan untuk terbit akhir bulan ini dan beredar awal desember nanti. Mungkin sekitar tanggal 3 atau 4 buku tersebut sudah beredar di makassar.

Ah... penantian panjang kami pun akhirnya berujung. Barusan sinopsis dari buku maryamah karpov sudah kudapatkan dari www.bukabuku.com serta bukudiskon.com yang kurang lebih sebagai berikut :

"Jika dulu aku tak menegakan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadapi gunung timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai magrib, menggantikan tugas ayahku, yang menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib kepada ayahku dan kepada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpi mimpiku. atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani.

Keberanian dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan perstiwa. Sudut-sudut dunia telah dia kunjungi demi menemukan A Ling. Apa pun Ikal lakukan demi perempuan itu. Keberanian ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap dengan sihir kata-katanya, Anda akan dibawa Andrea pada kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan."



Rabu, 26 November 2008

Lelaki yang menjadi suamimu

Suasana Pasar (tempat kumpulan mace2 penjual makanan dan minuman yang letaknya di belakang fakultas ekonomi dan sospol serta samping mesjid nurul ilmi) terlihat rame ketika aku dan Hj. Hasma baru datang. Sebelumnya aku bertemu dengan hasma di lantai dua gedung akademik fisip yang sedang menunggu pak ikbal. Karena mungkin masih lama jadi aku turun ke bawah dan hasma pun mengikutiku.

Coffemix 3 gelas di pesan hasma, untuk aku, aidil dan dia sendiri. Kami pun berbincang-bincang sekedarnya sambil mataku melihat di layar notebook yang sedang di gunakan oleh upi'. Sesekali upi' tertawa melihat gambar atau info dari internet yang ada di layar laptop itu. Internet memang bukan lagi barang mewah saat ini. Cukup bermodalkan laptop yang punya wifi (wireless idelity) dan mencari daerah kampus yang ada sinyal acces pointnya, maka kita bisa berinternet sepuasnya.

Selang 15 menit aku duduk disitu sambil mengedarkan pandangan, mataku tertuju pada satu sosok yang sangat ku kenal. Dia berada diantara kumpulan anak-anak antro dan sosiologi di kantin FISIP yang berjarak beberapa meter di depanku. Dia tersenyum. Aku pun membalasnya dan kemudian beranjak menghamprinya. Berjabat tangan kemudian memeluknya.

Rambutnya di potong pendek 3 cm. Dengan jas levis yang necis dan helm besar di tangan senyumnya tak lepas dari mulutnya sambil bertanya kabar kepadaku dan mengeluhkan bahwa sedikit sekali muka yang dia kenali di kampus ini. Hanya ka iccang (politik 97) dan anto (poltik 98) serta diriku.

Aku mengenalnya sejak mahasiswa baru, waktu itu rambutnya gondrong sehingga tampak sangar dihadapan maba apalagi waktu itu ospek. Orang memanggilnya yang kalau dalam bahasa indonesia artinya "anak laki-laki". Sewaktu awal kuliah dia sering menitip salam buat salah seorang teman angkatanku.

Kini dia berdiri dihadapanku sebagai salah seorang pegawai bank di tanah kelahirannya, papua. Dia berada disini karena sedang cuti. Katanya anaknya yang baru lahir kemarin hari minggu adalah laki-laki. Aku pun tak kuasa menahan rasa bahagiaku. Meskipun rasa perih ini juga sedikit menusuk. Aku tahu dia bahagia seperti bahagianya dirimu. Karena dia lelaki yang menjadi suamimu.


"lelahmu jadi lelahku juga.."
"bahagiamu bahagiaku juga.."

(dee)





Sabtu, 22 November 2008

Sebuah mitos tentang telepon koin

22 november itu…
Telepon umum koin mungkin sudah jarang terlihat di sekitar kita, apalagi yang terlihat digunakan. Di sekitar kampus unhas tamalanrea sendiri bisa dihitung dengan jari keberadaannya. Yang masih bisa disaksikan sampai sekarang adalah dua buah di pintu satu unhas yang tidak dapat lagi digunakan dan empat buah di lantai dasar rektorat dekat mesin atm yang masih dalam keadaan bagus meskipun terkadang butuh kesabaran dalam menggunakannya.

Tetapi bukan itu yang membuatku teringat kepada telepon-telepon koin ini, melainkan di tanggal yang sama pada hari ini 5 tahun lalu, ketika angin malam bulan ramadhan meniup bulu-bulu kuduk dan yang terdengar hanyalah dua suara. Sebuah suara di tamalanrea ini dan suara lainnya di ujung telepon itu berasal dari kejauhan jalan cendrawasih. Waktu itu kau masih kuliah tetapi sudah pada taraf penyelesaian skripsi, sedangkan aku masih semangat-semangatnya berdiri pada kaki mahasiswa semester 4.

Suara disini terdengar, telinga disana mendengarkan. Aku bernyanyi, lagunya selamat ulang tahun. Aku tahu kau tersenyum, meskipun hanya telingamu yang mendengar. Lalu kau bilang bahwa aku terlambat beberapa jam. Karena siang sebelumnya seseorang lainnya berkata duluan persis seperti pintaku pagi itu dan kau tak kuasa menolaknya.

Kini 5 tahun berlalu, dan aku masih berucap yang sama di tanggal dan bulan ini tapi sekarang tidak dengan lagu. Karena ku tahu engkau pasti sangat lelah dengan kondisi tubuhmu saat ini untuk mendengarkan. Engkau bilang sedang cuti, makanya berada kembali di makassar ini. Aku tahu dengan perut 9 bulan itu engkau kepayahan berdiri berlama-lama. Tempat telepon di rumahmu hanya terletak di dinding dan tidak ada kursi di dekatnya. Tapi aku tahu kau masih tersenyum dan memintaku untuk datang, setidaknya menyemangatimu.

Aku tahu engkau pasti deg-deg an menanti kelahiran itu. Katamu lelaki perempuan sama saja ketika ku tanya yang mana akan kau pilih ?

Aku akan datang, nanti
Karena bahagiamu bahagiaku juga

Aku tak tahu kenapa lagu ini baru muncul sekarang
Apakah memang dee sudah menunggu kapan waktu tepatnya diluncurkan lagu ini ?
Meskipun begitu Aku bersyukur masih bisa mendengar lagu ini
Aku bersyukur pernah mengenalmu
dan Aku bersyukur kepada dwi yang mengenalkanku pada Dee


"mundurlah wahai waktu
ada s'lamat ulang tahun..."







Kamis, 20 November 2008

Pencapaian-pencapaian...

Huff.....!!
Akhirnya beberapa pencapaian sudah aku penuhi, setidaknya untuk diriku sendiri.

Menyaksikan dwi ujian meja kemarin merupakan salah satu dari beberapa pencapaianku. Masih ada dua lagi, melihat "malaikat dan iblis" yang akan diputar di bioskop 2009 nanti serta menanti "solomon key" yang juga akan terbit di tahun yang sama dan tak lupa pula nasib akhir ikal pada maryamah karpov.

Aku sebenarnya tidak muluk-muluk pada ketiga hal terakhir ini, melihat dwi yang ujian saja sudah menjadi hal terakhir setelah menanti film laskar pelangi dan tentu saja menyelesaikan skripsiku.

Aku ingin berdamai dengan lelah dan diriku sendiri, sedikit saja.

Selasa, 18 November 2008

Besok dwi ujian meja

Hari rabu besok mungkin menjadi sebuah hari istimewa bagi dwi. Fenomena Jurnalisme warga yang diangkatnya menjadi ulasan skripsi akan mengantarkannya menuju gerbang sarjana dengan sebuah kunci yang bernama “ujian meja”. Berbagai macam rasa sudah tentu menyatu di pikirannya saat ini. Aku bisa merasakan hal yang sama ketika tanggal 25 september lalu “da vinci code” ku di uji.

Sekarang aku hanya bisa berdo’a, tentu saja ku harap bersama teman-teman yang lain pun turut larut bersamaku.......


Ayo DWI… semangat………..!!!!!


Senin, 17 November 2008

Greget DEWIQ, dari "Sunny" yang "pernah muda" hingga "50 tahun"

Pancaran sinar memang lebih besar dan terang daripada sumber sinar itu sendiri. Senter mungkin menjadi salah satu alat yang seperti itu. Seperti halnya senter, dalam dunia musik, aku mengenal satu sosok pencipta lagu dengan nama DewiQ.

Beberapa waktu lalu lagu-lagu “aneh” seperti “Sunny” telah akrab di telinga orang. Aku masih ingat salah satu artikel kompas pernah menyebut lagu itu termasuk dalam beberapa deretan lagu yang abadi di telinga pendengar mungkin sampai puluhan tahun yang akan datang.

Sama seperti lagu-lagu yang diciptakannya, nama DewiQ yang dipilih oleh Cynthia Dewi Bayu Wardhani ini pun terdengar unik. Wanita yang menjadi istri dari ipank salah satu mantan personel Slank ini merupakan putri kelahiran Ujung Pandang 15 Juni 1975. boleh lah aku berbangga diri pernah menjejakkan kaki di tanah kelahirnya.

Kekuatan Sang dewiQ menurutku adalah bagaimana dia bisa membangun karakter yang kuat pada orang yang menyanyikannya sehingga dengan sendirinya sosok sang penyanyi itu sendiri bisa kuat melekat di ingatan para pendengar tanpa mengilangkan jiwa DewiQ dalam lagu itu. Tengoklah lagu “temui aku” yang pernah di nyanyikan oleh audy sehingga melambungkan nama audy beberapa waktu lalu. Lagu tentang cinta sebenarnya yang kadang tidak menyebut kata “cinta” di dalam lagunya, ini merupakan kekhas-an DewiQ berikutnya. Lalu ada “50 tahun” yang dibawakan oleh warna, kembali menegaskan tekad dan perjuangan menegakkan cinta, dulu aku mengira ini adalah lagu perjuangan.

Kita juga tidak akan lupa pada lagu “OK” yang dibawakan dengan gaya centil oleh duo Tika dan tiwi afi. Ada juga “jenuh” oleh rio febrian dan “Bukan Permainan” melalui suara gita gutawa serta “Cinta di Ujung Jalan” dalam suara favoritku, Agnes Monica.

Bunga citra lestari yang pernah melambung namanya melalui “sunny”, kini baru beberapa waktu setelah melepas masa lajangnya dengan pangeran dari negeri seberang pun telah meluncurkan album terbarunya yang bertajuk “tentang aku”. Nah salah satu karya “aneh” DewiQ kembali dibawakan yang berjudul “pernah muda”. Lagu ini berkisah tentang calon mertua. Aku mengatakan sekali lagi disini, lihatlah karakter bunga yang dibangun dewiQ (apalagi kalau dikaitkan dengan pernikahannya yang baru-baru ini).

Bilang papa mu
Ku takkan buat kau berubah menjadi anak yang nakal
Bilang mama mu
Ku cinta padamu dan aku tak pernah main main

Reff :
Biarkanlah saja dulu kita jalan berdua
Mereka pun pernah muda... pernah muda...

Bilang papa mu berhenti urusin semua urusan kau dan aku
Bilang mama mu tak perlu kuatir atau pun curiga kepadaku

Biarkanlah saja dulu kita jalan berdua
Mereka pun pernah muda...
Saatnya kau dan aku sekarang

Namun seperti senter diatas tadi, DewiQ tidak terlalu terkenal seperti sinar yang dipancarkannya. Tetapi disinilah sekali lagi kekuatan seorang DewiQ, tak pernah berhenti untuk Terus Berkarya.



Sabtu, 15 November 2008

Andai saja

Andaikan kemarahan maupun kesedihan yang selalu berupa pukulan tendangan tikaman pisau atau pun hujaman pedang, maka aku akan memilih dalam bentuk kata-kata ini saja.

Andaikan kita tak pernah bertemu
Andaikan beras di kamar waktu itu tidak pernah habis sehingga memaksaku memintanya pada kakak mu
Andaikan aku tidak ikut berlibur di kampung itu naik motor bersama saudara mu
Andaikan engkau tidak menyuruh ku mengambil air seember untuk keperluan mengepel dapur
Andaikan engkau tidak pernah menanyakan cantikkah alismu kalau dicukur ketika lulus SMP dulu ?
Andaikan aku tidak usah ikut UMPTN saja
Ah…Andaikan kita tidak pernah bertemu….

Tapi… aku bersyukur kita bertemu
Malah sangat bersyukur
Aku lebih merasa mengerti banyak hal seperti indahnya sebuah lagu,
sedikitnya beras, sulitnya fakir miskin, arti hemat bagi sebagian orang
beratnya buruh bekerja, kebahagiaan seorang ibu menyusui bayinya,
terik mentari yang dirasakan daeng becak dan penjaja roti,
sakit hati seorang kekasih ketika di khianati, kebutuhan seorang wanita akan kasih sayang di mana pun itu, dan tentu saja AGNES MONICA.

Namun sampai saat ini pun aku selalu tak pernah mengerti akan dirimu
Seperti Sigmund freud yang tidak pernah mengerti akan wanita
Seperti juga dirimu sendiri yang mungkin tidak mengerti akan pribadimu

Meskipun begitu, aku akan selalu mencoba,…mencoba dan mencoba
Berusaha mengerti akan dirimu
Baik kau tahu maupun tanpa kau tahu
Baik bersamamu atau pun tanpa mu
Baik waktu hidup ku hingga mati ku

Karena kau (tiga huruf)

Senin, 03 November 2008

Bertemu Jenderal

Hari masih pagi, ketika langkah kaki ini mulai terasa kasar diatas aspal jalan raya di pintu satu aku mengayunkannya menuju kampus. Setiba di pasar, anak-anak belum terlalu banyak. hanya ada taro, wanto, om (syahrul) dan diman sedang berbincang-bincang. Tidak terlalu jelas apa yang sedang menjadi topik. Aku mengambil

Kamis, 23 Oktober 2008

Dewi dewi yang berjuang .....


BERJUANGLAH WAHAI DEWI....!!!!!

DEWI PEMILIK ILMU PENGETAHUAN

TAK ADA GERAK TERCIPTA TANPAMU...

ALAM DAN SEGALA MAHLUK BERMUNAJAT PADAMU

DAN MALAIKAT PUN MELETAKKAN SAYAPNYA BAGIMU

(untuk sang dewi sedang yang berjuang)




dewi lestari, di nama itu kita bertemu

Aku tak pernah tahu kalau dulunya engkau mempunyai inisial "DL" dibelakang namamu. Ketika engkau menerangkan bahwa inisial itu berarti Dewi Lestari, aku berjibaku di masa kini. Saat aku sedang menyukai karya-karya Dee atau dewi lestari, aku tak tahu ini sebuah pertanda atau firasat seperti salah satu karya terakhir dee dalam rectoverso.

Sesungguhnya hal ini tidak akan terjadi kalau saja engkau tidak memperlihatkan akte kelahiranmu itu dan bukan salah Tuhan yang membiarkan cerita di balik inisial Dewi Lestari di belakang namamu itu mengalir dari mulutmu beberapa hari lalu. Kisah itu sebenarnya tidak terlalu istimewa hanya saja ini menyangkut tentang dirimu, maka semua menjadi lain. Aku sangat mengagumi setiap langkah dan sepak terjangmu. Bagaimana dengan gagah berani kau menghadapi ancaman kakak kelasmu waktu di bangku SD yang iri hanya karena engkau mempunyai nama yang sangat indah, “dewi lestari”, dan bagaimana juga engkau menantang berkelahi teman-temanmu yang laki-laki sewaktu kecil dulu.

Ah ranes…. engkau memang selalu istimewa, meskipun terkadang sikap dan keteguhanmu yang sekuat batu karang itu membuat kelabakan banyak orang. Tak tergoyahkan memang, bahkan ayahmu dan kakak-kakak laki-laki mu sendiri bingung menghadapi mu.

Ranes, dewi lestari, dan penantian ini selalu untukmu.






Kamis, 09 Oktober 2008

Aku berharap ini hanya mimpi

Aku berharap ini hanya mimpi,
Ketika pagi kemarin engkau menyatakan akan pindah dari sini
Dan sore ini aku mendapati surat mu yang menegaskan kembali bahwa hari ini engkau sedang mencari tempat tinggal baru
Aku kembali sedih
Sedih sekali…
Aku memang bukan siapa-siapa mu
Kakak karena umurku lebih tua, bukan
Saudara karena satu ayah atau sama ibu, bukan
Atau pacar, karena bisa mengerti dirimu, bukan juga
Aku bukan siapa-siapa, atau apa-apa dari mu

Kalau lah aku melarangmu…
Kalau lah aku berkata keras pada mu
Dan memintamu agar tetap disini…
Aku tak tahu …

Aku hanya.....ah.. aku tak tahu , sungguh
Itu saja..

Sabtu, 04 Oktober 2008

Reminder, antara membantu dan memanjakan

Tanggal 6 oktober nanti merupakan hari ulang tahun salah seorang sahabatk saya bernama ilo yang kini berada di Jakarta. Ini baru saya tahu setelah pagi tadi surat pertama di dalam inbox yahoo berisi pesan yang mengingatkan ada yang berulang tahun pada tanggal 6 tersebut. Saya sebenarnya tidak terlalu ingat akan tanggal tersebut. Dengan adanya pesan tersebut, maka saya bersiap akan mengirimkan ucapan selamat ulang tahun untuknya.

Di masa kini, pesan seperti itu dikenal dengan reminder. Biasanya pengirim pesan tersebut adalah situs penyedia jasa pertemanan seperti friendster, facebook, tagged, myspace, multiply, dsb. Yang mana pelanggan telah mendaftarkan biodata mereka untuk menjadi member di situs-situs tersebut. Otomatis segala data diri standar seperti tanggal kelahiran, jenis kelamin, umur dan alamat e-mail pun terekam baik di sana. Seiring dengan menjamurnya situs-situs seperti itu, maka persaingan pun terjadi dalam menarik member sebanyak-banyaknya. Salah satu fasilitas dan kenyamanan yang di berikan adalah reminder tadi.

Sebenarnya Fungsi reminder ini telah kita temukan pada fitur telepon genggam. Baik itu yang bertipe lama hingga keluaran terbaru. Dalam lingkup telepon genggam, reminder bisa berupa pesan apa saja. Kita tinggal mengaturnya sesuai keinginan. Perisitiwa seperti kelahiran anak, tanggal jadian dengan pacar, jadwal keberangkatan kapal, bahkan kalimat puitis yang diucapkan seseorang yang tidak kita kenal dan kita ingin mengabadikannya bisa terwujud melalui fitur ini.

Adanya fungsi reminder seperti ini di satu sisi sangat membantu apabila kita lupa terhadap suatu peristiwa tertentu, seperti hari ulang tahun tadi karena banyaknya aktivitas di sana sini dan juga kapasitas memori ingatan kita yang terbatas. Sementara di sisi lain, sebenarnya reminder seperti ini terkadang membuat kita malas untuk mengingat sesuatu. “Kan ada Handphone atau email”. Tinggal membuka Handphone atau mengklik email jadi tak perlu repot. Masalahnya, bagaimana bila suatu saat baterei Handphone kita habis atau Handphone itu sendiri hilang. atau tidak bisa mengakses internet karena mati lampu dan tidak ada akses internet karena sedang di daerah terpencil ? disinalah peran ingatan kita terlihat. Atau bisa juga kita membawa serta sebuah buku kecil tempat mencatat hal-hal penting kemana saja.

Terlepas dari itu semua, otak dengan salah satu fungsi pengingat yang diberikan tuhan kepada kita tetaplah menjadi sebuah anugerah yang tak ternilai, karena tanpa itu maka semua reminder tersebut takkan bisa dikenali sebagai sebuah perisitiwa dan hal penting bagi kita selaku pribadi yang menjalani kehidupan ini.



Rectoverso, dua rasa dalam satu sentuhan

Rabu, 01 Oktober 2008

Lebaran bersamamu...

Antara cita-cita, keinginan, dan harapan mungkin beda-beda tipis.
tetapi satu-satunya keinginan dalam hidupku adalah seperti saat ini
meskipun itu hanya sebentar saja
dan lebaran kali ini menuntaskan segalanya
hari ini lebaran bersamamu
bagiku sudah cukup

meskipun nanti kau pergi
aku akan selalu menunggu dan memintamu untuk kembali
meskipun kulit yang mengeriput nanti akan menyapa
nama yang selalu ku cari hanya satu dan takkan berubah,
nama itu, dirimu...

Senin, 22 September 2008

Puasa hari kedua puluh dua, "romansa"

Pagi ini kulihat ranes baru bangun. Dengan mukanya yang kusut itu justru menimbulkan kesan lucu. Dengan berjongkok di depan pintu antara dapur menuju kamar mandi sambil menunggu giliran, kulihat ranes memandang jauh kedepan. entah apa yang dipikirkannya. Ketika tak sengaja dia menegokkan kepalanya, mata kami beradu. Spontan dia membuang mukanya. Untunglah keadaan ini tidak berlangsung lama,karena tidak lama kemudian dia memanggilku dan bercerita soal NSP barunya yang terdengar aneh. Ranes juga mengutarakan keinginannya untuk membelikan Satu dus montea rasa black currant dan ale-ale untuk Mamanya Risma yang sering menanyakannya.

Matahari mulai menanjak siang ketika aku berangkat menuju kampus setelah bersama ranes membeli semua yang diutarakannya tadi.

Pasar hari ini terlihat rame. Setelah pembongkaran korps minggu lalu, maka tempat nongkrong anak-anak pun berpindah. Ada yang lebih memilih pewe (pariwisata) dengan alasan dekat dengan tempat kuliah dan ada pula yang lebih sering di pasar meskipun mace tidak ada. Aku termasuk salah satu yang memilih pasar sebagai tempat nongkrong karena disini banyak pohon yang rindang dan dekat dengan mesjid bila ingin tidur-tiduran.

Hari ini sebenarnya ada acara seminar proposal milik Ica, Nire dan Didi. Tetapi aku datang terlambat jadi aku tidak sempat melihat mereka seminar, aku hanya bisa mengucapkan selamat kepada mereka ketika seminar itu telah usai.

Ketika sedang bercengkerama dengan teman-teman yang lain, datang lah beberapa orang maba yang ingin minta tanda tangan. Aku mengenal salah seorang diantara mereka, yaitu jo'. Dia memang sangat aktif bergerak ke sana kemari dalam kegiatan terakhir kosmik yaitu buka puasa meskipun dia bukan muslim. Sewaktu memindahkan barang-barang laboratorium dan jurusan serta korps kemarin pun dia sangat antusias. Sehingga diantara teman-temannya, apalagi dengan namanya yang simpel, "JO" dia cukup terkenal.

Seiring berjalannya matahari menuju barat, anak-anak di pasar semakin berdatangan. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu di laptop milik taro telah diputar film dokumentasi frame 04 (ospek 2004). Aku pun ikut nimbrung bersama anak-anak yang lain larut dalam sukacita menertawakan tingkah laku lucu mahasiswa angkatan 2004 yang sedang diospek seperti eci, darma, taro, dwi, ema, azmi, mbak wuri, wiwie, aci, dkk.

Dokumentasi seperti itu membawa kenangan lama akan masa-masa jahiliyah perekrutan dan penerimaan mahasiswa baru yang penuh dengan perpeloncoan. Ada sakit hati, tawa dan tangis. Tetapi momen-momen seperti ini tidak akan lagi dirasakan semenjak angkatan 2006 masuk kemarin. Era seperti itu kini telah berubah. Seiring dengan itu pula kekerasan dan penindasan mulai terkikis. Seperti halnya rasa hormat yang kian berkurang. Entah mungkin ini perasaanku saja. Biar bagaimanapun yang terpenting rasa kebersamaan mesti dipupuk dengan ataupun tanpa kekerasan.

Adzan magrib tak terasa mulai terdengar, ah malam ini aku rindu lagi
Meskipun dekat, aku selalu rindu,
Rindu sekali.........

Kamis, 18 September 2008

Puasa hari ke delapan belas, "menjelang ulang tahun ina..."

Ranes masih bermuka masam kepadaku. Tapi kali ini aku berharap ia masih memaafkanku soal kemarin. Dan akhirnya ia mengajakku berbicara untuk menginformasikan bahwa besok Ina akan berulang tahun.

Rabu, 17 September 2008

Sudut mata yang terbuka dari buka puasa

Matahari tamalanrea mulai berkurang rasa panasnya ketika hari sudah sore dan saya melihat motor biru milik Jun terparkir di depan telaga safar. Setelah sebelumnya ada info bahwa hari ini ada buka puasa di rumahnya sari (kosmik 06), maka kami berboncengan menuju ke sana. Meskipun Blok M BTP tidak sama blok M di Jakarta, tetapi rumah sari 06 yang berada disini bisa mempunyai nilai lebih Karena sebentar lagi akan menjadi salah satu saksi tempat berkumpulnya anak kosmik di makassar dalam ajang buka puasa.

Suara adzan berkumandang tidak berapa lama setelah kami tiba. Dalam jarak pandangan mata ini, saya masih dapat membedakan yang mana maba dan senior diatasnya (2007) apalagi 2004 hingga 2002. Kebetulan hanya saya dan patang angkatan 2001 yang hadir disini. dari 2002 ada jun sendiri. Kemudian angkatan-angkatan muda lainnya yang jumlahnya masih agak banyak.

Di jajaran Maba, seorang gadis manis dengan pakaian putih yang menawan serta rambut hitamnya yang gelap menambah kesan elegan dalam dirinya. Mel, saya mendengar teman-temannya memanggilnya begitu. Mungkin dia termasuk salah satu bidadari kosmik 08 ini. gerak-geriknya yang lincah kuperhatikan dengan seksama. Ketika salah satu anak 06, rakhmawaty la’lang yang berasal dari Jakarta sedang membidikkan kamera untuk dokumentasi, mel memperhatikannya dengan mata tak berkedip. Ada kesan takjub yang saya tangkap. Selanjutnya hal ini ditindaklanjutinya sendiri dengan bertanya langsung pada rakhma, sehingga terjadilah kursus kilat memegang dan mempergunakan kamera DSLR itu.

Perhatian saya kemudian berpindah-pindah, mulai pada ode dan arya yang sedang berbincang serius, kemudian ada santy yang sedang bercengkerama dengan anak-anak 07 lalu pada lilies yang baru-baru ini berulang tahun. Mbak sisca yang hilir mudik serta ain dan sari yang masih sibuk di dapur bersama lisda, semuanya dari angkatan 2006.

Maba tahun in bisa dibilang cukup lincah, pendapat ini berasal dari saya, jadi terserah yang lain mau bilang apa. Mereka (maba) segera tahu apa yang harus dilakukan setelah ada tugas yang di serahkan kepadanya. Seperti Idham, maba 08 ini tengah serius mendengarkan jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan kepada patang 01 mengenai kosmik itu sendiri. Ini merupakan satu tugas dari salah biro di kosmik yaitu membuat profil tentang senior kosmik. Patang 01 selaku mantan ketua korps pun dipilih idham untuk menjadi profilnya. Di beberapa sudut lain terlihat seorang maba cewe’ (manis juga, tapi saya lupa namanya) sedang mengerubungi fitri 04 yang sempat bekerja di kompas makassar beberapa waktu lalu. Maba tersebut juga sangat antusias mendengarkan kata demi kata yang meluncur dari mulut fitri tesebut.

Tawa renyah beradu dengan bunyi sendok dan piring serta harumnya kuah sayur dan ayam yang tadi dimasak sebagai makanan setelah berbuka puasa degan es buah, masih terasa sampai malam ini.

Ah suasana seperti itu kembali saya rindukan sehingga membuat saya terjaga dari tidur dan mencoba menuliskannya disini.




Puasa hari ketujuhbelas, "arya ujian meja, dwi online dari kampung"

Senin, 15 September 2008

Puasa hari kelimabelas, "rabu nanti arya ujian..."


Ketika tiba di pasar siang ini yang telah dipadati para naga yang tengah sibuk mengurusi tugas akhir masing-masing, aku melihat arya sedang mempersiapkan beberapa map plastic merah yang berisi semacam paper. Arya mengatakan itu adalah laporan akhir skripsinya yang berwujud film documenter. Rupanya rabu nanti arya akan menghadapi ujian meja dan siang ini akan pergi mengantarkan undangan sekaligus film documenter ke rumah para penguji dan pembimbingnya. Aku menawarkan menemaninya dan ia pun menyambut baik tawaranku. Bergegas kami menuju pewe (pariwisata) tempat motor milik ridho yang tadi sudah dipinjam arya akan kami pakai.

Bertolak dari depan pewe kami menuju deanet untuk mengambil helm kecil. Selanjutnya kami memulai perjalan mengantar undangan ini dengan tujuan pertama adalah stikom fajar, tempat Ka Ompe’(pak akbar) berada. Hari sudah menjelang sore ketika motor thunder yang kami kendarai memasuki daerah parkir Stikom Fajar yang telah berubah nama menjadi UNIFA (universitas fajar) ini. Ka ompe kebetulan melaksanakan shalat ketika kami tiba, jadi Beliau mempersilahkan kami mnuggu sebentar.

Setelah undangan untuk ka ompe diserahkan, kami pun kembali ke tamalanrea menuju perumahan dosen. Disitu ada dua tempat tujuan kami. Yaitu rumah kak mul (Pak mulyadi mau) dan pak edi (pak edy soedjono). Rumah kak mul terletak di ujung jalan bersebelahan dengan rumah pak mursalim, blok dan nomornya aku lupa. Yang jelas di depan rumah kak mul ada sebuah mesjid, dan tak jauh dari situ juga terletak rumah kak soni. Ketika pintu dibuka, ternyata kak mul yang langsung membukakan pintu rumahnya. Beliu terlihat kecapean di tengah suasana sore yang masih agak panas ini. kak mul memang masih sakit-sakitan beberapa tahun belakangan ini. tetapi semangatnya dalam mentransformasikan ilmu kepada kami tidak pernah surut. Meskipun sangat dipahaminya bahwa gaji seorang dosen tidaklah seberapa. Kami sempat berbincang sedikit menenai keadaan jurusan ilmu komunikasi hingga nasib laboratorium yang memprihatinkan itu.

Lambaian tangan kak mul bersama arif, anaknya yang bungsu masih terlihat ketika motor kami meninggalkan rumahnya. Deru halus motor itu mengiringi perjalanan kami mnuju tujuan selanjutnya yaitu rumah pak edi. Aku tahu persis rumah pak edi, karena sejak zaman kak adol (kosmik 97) masih kuliah aku sudah di perlihatkan sewaktu mengantar undangan yang sama seperti saat ini. Rumah tersebut berpagar besi berwarna hijau. Di samping rumah, bertengger mobil kijang inova berwarna krem. Dari situ kami tahu bahwa pak edi sedang berada di rumah. Kami pun melangkah masuk di dahului oleh arya. Aku menyusul kemudian ketika melihat istri pak edi sudah membukakan pintu. Tidak lama kemudian pak edi muncul dan menerima langsung undangan tersebut. Arya sempat menanyakan nomor hp pak subhan yang juga menjadi penguji nanti. Karena rumah pak subhan tidak diketahui pasti. Setelah arya menerima nomor dari pak edi dan mnelpon pak subhan, ternyata saat itu ia berada di rumahnya yang berada di BTP. Aku tahu rumah itu karena beberapa waktu lalu, aku bersama khalid mencari pak subhan untuk keperluan perbaikan nilai.

Rumah pak subhan yang di BTP terletak di blok A bernomor 633. rumah itu mudah di dapat karena tidak jauh dari jalan utama BTP. Ketika kami sampai disana ternyata pak subhan sedang keluar sebentar. Jadi kami menitipkannya pada istrinya karena arya sudah memberitahukannya kepada pak subhan.

Sebenarnya tujuan selanjutnya adalah rumah pak nadjib, tetapi arya akan mengantarkannya bersama ecy malam hari nanti, jadi hari ini pak subhan menjadi tujuan terkahir kami. Motor yang kami tumpangi diarahkan arya kembali ke kampus.

Aku pun kembali ke pondokan dan selajutnya menuju warnet karena telah gelap.

Hal pertama yang aku lakukan adalah berdoa untuk arya untuk hari rabu nanti. Insya Allah, Tuhan selalu membukakan pintu-pintu rahmatnya bagi para penuntut ilmu begitu pula sayap-sayap malaikat yang dibentangkan.

Minggu, 14 September 2008

Puasa hari keempatbelas, "Kosmik dalam raga yang pindah dan hati yang masih sama"

Mataku memandang menysuri area gedung FIS, sepanjang fakultas ekonomi, sospol dan sastra yang telah dibongkar gentengnya dan kini menjadi gedung yang bolong atasnya. Pemandangan yang menakjubkan tidak jauh beda dengan lokasi di adegan film perang yang melibatkan penghancuran gedung-gedung.

Sekretariat kosmik atau yang familiar di telinga kami dengan sebutan korps juga bernasib sama. Ruangan yang dulunya bekas kamar mandi berukuran 6 x 5 meter itu pun juga harus dibongkar. Barang-barang korps di hari sebelumnya telah dipindahkan ke rumah wakil ketua korps, khaerul di BTP. Yang tersisa kini hanyalah sebuah lemari tempat penyimpanan buku dan arsip-arsip.

Korps, selain merupakan tempat rapat bagi pengurus kosmik, juga menjadi persinggahan untuk melepas lelah sehabis kuliah. Otomatis berbagai aktivitas bisa terjadi di dalamnya. Nonton TV, bediskusi kecil-kecilan, ngobrol ngalar ngidul serta menjadi tempat tidur adalah fungsi tak tertulis lainnya dari korps ini. Seiring perkembangan zaman dengan masuknya internet wifi di kampus unhas, maka korps pun ikut menjadi warnet gratis di tengah hiruk pikuk perkuliahan. Ada satu lagi fungsi menarik dari korps, yaitu tempat bermain playstation. Dengan TV korps yang lumayan besar itu, maka suasana bermain game playstasion pun menjadi mengasyikkan. Apalagi di bulan puasa ini. Kelaparan dan haus waktu puasa bisa sedikit teratasi dengan beberapa aktivitas ini.

Dengan dibongkarnya korps dan ruangan lain di fisip termasuk laboratorium yang berumur muda dan penggunaannya yang belum maksimal itu membuat aku tidak dapat berkata apa-apa selain berharap didalam hati dan mudah-mudahan akan selalu sama dengan teman-teman lain. Kosmik memang berkedudukan di korps dengan berbentuk ruangan ukuran sedang. Tetapi bukan berarti dengan tidak adanya korps karena sedang dibongkar itu menjadikan kosmik hilang bersama wujud korps itu sendiri. Setelah membaca salah satu tulisan di milis kosmik yang beasal dari kegelisahan cokke, aku sangat tergugah dan berharap kita semua akan selalu mewujudkan kosmik di mana saja. di mulai dari hati masing-masing kita.

Sabtu, 13 September 2008

Kuda Tunggangan yang bernama Renovasi

Entah apa yang ada di benak para pengambil kebijakan yang bertempat di gedung berlantai delapan dengan warna aneh di kampus merah ini. “Penghancuran” secara ekstrem saya menyebutnya demikian atas proses yang tengah dilakukan terhadap gedung FIS ini. Itu juga karena bunyi pecahan genteng satu beradu dengan pecahan genteng lain dan benda-benda yang dijatuhinya terdengar beberapa hari terakhir.

Disebut proyek penggantian genteng dan langit-langit, karena atap gedung FIS ini memang merupakan gedung pertama di kampus unhas tamalanrea sejak tahun 80-an silam. sebenarnya peremajaan telah dilakukan sekitar pertengahan 2005 kemarin. Tetapi itu hanya terbatas pada penggantian lantai dan plafon, itupun tidak secara utuh.

Saya teringat kembali tahun 2002 silam ketika anak-anak harus memindahkan korps dari FIS IV lantai bawah karena perseteruan dengan pihak BEM FISIP hingga membuat kak harwan (ketua korps waktu itu) harus mengangkat tongkat komando dengan instruksi kosmik menarik diri dari kema fisip. Waktu itu ada beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab memanfaatkan momen ini untuk membekukan lembaga kemahasiswaan. Hasilnya sejak berpisahnya KOSMIK dari BEM FISIP, menjadi seuah alasan yang terkesan dibuat-buat menyebabkan penyakit mati suri berjangkit di antara HMJ-HMJ Se-FISIP. Ini berlanjut pada prosesi penerimaan MABA sejak tahun 2006 yang dengan kekuatannya pihak rektorat menindas lembaga kemahasiswaan pada tingkatan pengkaderan dengan konsekuensi yang berat yaitu “skorsing” bagi siapa saja yang berani menyelenggarakan pengkaderan di luar dari pengkaderan resmi yang diadakan rektorat.

Di kondisi seperti sekarang pun tidak jauh beda. Dalih pembangunan yang berwujud renovasi kembali digulirkan rektorat. Mungkin ini terlalu naïf, di kalangan universitas gaung protes terhadap kebijakan-kebijakan kampus memang sering datang dari arah fakultas non eksakta (ekonomi, sospol hukum dan sastra). Terkadang rektorat kehabisan akal menghadapi suara dari anak-anaknya sendiri ini. Pada akhirnya tindakan represif pun sering menjadi pilihan. Kita tidak perlu lagi menyebutkan kasus-kasus kebakaran yang menimpa himpunan bahkan ruang kuliah dengan penyebab yang tidak jelas dan teror-teror terhadap para aktivis kampus oleh oknum preman yang dipelihara oleh rektorat.

Renovasi yang tidak pada waktunya. Ditambah lagi bertepatan dengan bulan puasa dan dalam waktu dekat akan diadakan laporan tahunan tentang keadaan keuangan dan pembangunan unhas. Saya tidak tahu harus bagaimana ketika melihat genteng-genteng itu diluncurkan satu persatu dari tempatnya, anak-anak kosmik yang sedang berpuasa memikul barang-barang, senyuman puas dari para kontraktor dan pemborong proyek ini serta tidak lupa orang-orang di rektorat yang mungkin saat ini telah menghitung keuntungan di meja-meja licin dan ruangan harum ber-AC.

Puasa hari ketigabelas, " ...dan jurusan pun pindah"

Jumat, 12 September 2008

Puasa hari keduabelas, "Lilies '06 ulang tahun.."

Pintu pondokan lantai atas terbuka subuh ini tidak biasanya. Aku pun langsung naik ke atas. Aku yakin Ranes masih tidur tetapi aku tidak melihatnya di kamarnya, sudah pasti dia tidur di kamar sebelah dengan ina.
Bersama



Kamis, 11 September 2008

Puasa hari kesebelas, "buka bersama sabtu nanti..."

Langkah kakiku tertahan ketika melihat ke dalam kamar ranes, karena yang berada disana bukan ranes. Beberapa saat kemudian aku mendapati jawaban atas kebingungan ini. Mina yang kebetulan lewat di depanku mengatakan bahwa ada teman ranes yang menginap di kamar itu. Teringat kemarin ina yang merintih menahan sakit atas perutnya yang rasanya seperti melilit. “Itu seperti gejala penyakit maag” kata mina sambil mencoba menenangkan Ina kemarin.

Matahari pagi yang menyingsing turut membangunkan aku disamping suara pintu warnet yang pagi ini di buka ka anwar lebih awal. Setelah menutup laporan, aku menuju ke pondokan. Ketika sedang asyik aku memperbaiki ikat pinggang yang sudah mulai usang ini, aku seperti mendengar suara siulan khas yang memanggilku. Aku mencri sumber suara itu, dan mendapati ranes tengah berdiri di depan pondokan dengan kaus birunya bergambar ukiran toraja sambil tersenyum dan gerakan tangan menyuruhku naik ke atas. Rupanya dia ingin menyetor uangnya di rekening tabungannya. Dia menitipkannya padaku karena ada BANK BRI di dalam kampus. Aku pun menerimanya dan bergegas menuju kampus.

Tangga art yang merupakan bagian dari FIS IV ini dipenuhi beberapa mahasiswa dari FISIP. Aku tak tahu anak jurusan apa dan angkatan berapa, yang jelas selepas berpisahnya kosmik 2002 silam dari Kema FISIP anak-anak dari luar kosmik sudah jarang ku kenali lagi. Aku melangkah naik menuju korps melalui tangga ini. Aku ingat sekali di tangga ini di tahun-tahun yang lalu biasa di pakai anak-anak untuk sekedar duduk sambil main gitar dan bercanda menunggu jam masuk kuliah. Dinamai art karena dulu selalu lahir ide-ide gila untuk mempentaskan berbagai macam seni, musik atau pun diskusi kecil seputaran masalah kerakyatan. Namun kini zaman telah berganti. Nyawa dan semangat bermahasiswa seperti itu kini mulai pudar. Entah itu disebabkan oleh penghapusan sistem penerimaan mahasiswa baru yang mulanya diserahkan sepenuhnya pada senat untuk mengkader jiwa-jiwa baru, ataukah memang semangat perjuangan dalam diri mahasiswa ini sudah mulai tergantikan dengan komersialisasi segala lini kehidupan. Aku tak tahu

Ketika tiba di korps aku mendapat beberapa anak kosmik. Dan seperti biasa penghuni utama korps ini akan di dominasi oleh angkatan yang menjabat pada periode yang sedang berjalan. disadari atau tidak memang itulah yang terjadi. Generasi tua akan mulai menyingkir, dan generasi muda yang masih takut-takut untuk masuk ke dalam korps. Aku sempat melihat seorang Mahasiswa baru membawa sebuah pamflet dan sebuah kertas yang ada gambar petanya. Aku menebak itu pasti informasi acara buka puasa.

Benar saja, pamflet yang berisikan undangan buka puasa bersama itu mempunyai lampiran peta tempat acara buka puasa yang insya allah akan diadakan pada, (berikut saya contek saja dari milis kosmik)

hari /tanggal : sabtu, 13 september 2008

tempat : puri taman sari blok G5 / 11 ( toddopuli 6 )

jam : mulai pukul 4 sore (karena ada beberapa acara, seperti pemutaran film dan ceramah agama)

Ah.... akhirnya setelah menunggu sekian lama acara berbuka bersama anak kosmik kembali diadakan. Aku selalu optimis, saat seperti ini merupakan salah ajang untuk berkumpul dan melepas rindu dengan teman, adik, kanda, pacar, mantan pacar, odo-odo', mantan odo-odo', rival maupun mantan rival. Kejadian-kejadian tak terduga pasti akan terjadi nanti, kita tunggu saja.

Rabu, 10 September 2008

Puasa hari kesepuluh, "Ina sakit..."

Angin berhembus lagi pagi ini ketika baru saja aku memutar kunci pintu warnet dan beranjak menuju pondokan untuk sahur. Sambil menenteng notebook milik wiwik yang kemarin dia titipkan padaku langkahku kuseret melintasi jalur hijau depan unhas kemudian menyeberang hingga ke jalan politeknik yang dimulai dari pintu nol itu. 

Sampai di pondokan aku membuka pintu kamar fajar dan mendapati kak harwan sedang asyik membaca novel dan brown (milik dwi/kak yusran) yang sempat kujadikan skripsi kemarin. Sudah pukul 3 pagi, tapi kak harwan masih bertahan dan tenggelam dalam samudra kisah yang dituliskan Dan Brown pagi ini. Sambil tersenyum aku berlalu dan melangkah ke lantai atas. 

Pintu kamar Ina ku ketuk untuk membangunkan ranes dan ina yang masih tidur. Tiak lama terdengar suara Ina yang mnandakan mereka sudah terjaga. Pintu di buka dan ranes keluar menuju dapur memasak air. Setelah mendidih ia membawa air tersebut ke kamar Ina, lalu memanggilku makan bersama.

Senin, 08 September 2008

Puasa hari kedelapan, "ilo kembali ke jakarta"

Hawa angin malam yang menusuk sampai ke dalam kamar Ina subuh ini membuatku mendekap bantal di depanku lebih erat. Ranes sedang memasukkan nasi ke mulutnya dengan lahap. Aku selalu merasa senang jika melihatnya makan dengan semangat seperti itu.

Siang nanti ilo akan pulang kembali ke jakarta. Aku masih melihatnya subuh ini menelpon dengan posisi badan yang berbaring di kamarnya fajar. Mungkin salam-salaman terakhir di makassar dengan yani.

Ilo masih serius menelpon dan sesekali tersenyum menatap kami dengan mata sayunya. Aku hanya merasa geli dengan teman yang satu ini. Pencarian cinta yang sejati (dan terakhir) dengan pengorbanan tak ternilai.

Aku pun hanya bisa berdoa sambil berlalu, mungkin ini terakhir kita ketemu untuk saat ini.

Selamat jalan Lo, Allah selalu bersamamu.




Minggu, 07 September 2008

Puasa hari ketujuh, "pertemuan tak terduga di dunia yang dilipat"

Pagi ini aku berkesempatan pulang lebih awal. Ranes masih tidur ketika aku mengetuk pintu kamarnya. Dia terbangun dan mengucek matanya dan bertanya sudah jam berapakah saat itu? aku bilang sudah jam 3. Antara sadar dan tidak ranes membawa langkahnya menuju kamar mandi untuk cuci muka, aku tertawa melihat tingkahnya seperti itu.

Hari ini begitu panas, meskipun masih pagi tetapi matahari sudah sangat terik. aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 pagi begitu aku tiba di xtra, pengunjung belum ada yang datang. Aku pun masuk kembali ke dunia ini, dunia yang dilipat.

Yahoo messenger adalah sebuah aplikasi untuk bercakap-cakap dengan teman, saudara, kerabat, guru, pacar, musuh, nenek, kakek, dan apa saja di dunia ini. Dengan syarat ia bisa mengetik dan membaca. Hanya saja aplikasi ini terbatas pada pemilik email yahoo saja. Yah mungkin sedikit narsis dan tertutup. Tapi di zaman sekarang, siapa sih yang tidak kenal yahoo ? Belakangan ini yahoo sudah mengembangkan jangkauan yahoo messengernya hingga bisa chat (ngomong) dengan pemilik hotmail. "Ye-Em" Sebutan gaul buat yahoo messenger, siang ini aku iseng-iseng menyapa teman-teman yang ada di daftar YM ku. Ketika baru beberapa kata ku ketik untuk temanku yang bernama "sharon keisha" aku melihat sebuah e-mail masuk berasal dari Puput 01. Aku terhenti sebentar, Puput? Puput yang itu kah? Puput teman angkatanku yang dulu setelah menikah tidak pernah lagi terdengar kabarnya.

Aku pun membuka inbox ku dan mendapati memang puput itu. Mempunyai nama panjang amelia putri, puput merupakan teman yang sangat menyenangkan. Tidak saja cantik, tetapi dia mempunyai berbagai macam keahlian yang jarang dimiliki kaum hawa lainnya. Musik, puput sangat piawai memainkan gitar, terkhusus bagian Bass, dan piano. Seni lukis, gambar anime yang ada di komik-komik itu bisa dibuatnya dengan singkat. Dia juga menciptakan karakter-karakter kartun teman-temannya. Aku pernah melihatnya melukis Ira (teman kami yang berjilbab sekarang berada di pulau antah berantah) dengan sangat lucu. Aku pun pernah di buatkan karikatur tentang ospek (gambar serigala imut). Pernah juga ketika puasa tahun pertama waktu masih mahasiswa baru menjelang idul fitri, aku minta dibuatkan kartu lebaran yang ada gambar sailormoon lagi memegang ketupat. Menulis, fotografi, Dunia broadcasting semua pernah pernah dilaluinya di makassar. Maka tak heran jabatan produser salah satu acara prambors sempat di pegangnya.

Tahun berganti, penampilan puput yang awalnya tomboy dengan rambut pendek dan cepak berubah menjadi sosok anggun yang dibalut dengan jilbab. Bersamaan dengan itu, ia berkenalan dengan seorang senior dari jurusan lain (saya ingat namanya tapi tidak usah ditulis disini). Dari perkenalan itu mereka memutuskan untuk menikah dan memiliki anak. Setelah itu puput tinggal di makassar sampai februari tahun 2007. Kabarnya tak terdengar hingga puput melahirkan seorang anak laki-laki yang lucu (foto dan namanya barukuketahui dari hasil pertemuan kami di dunia maya ini).

Aku melihat isi surat yang puput kirimkan berisi pertanyaan apakah masih ada yang mengingatnya atau tidak?. Spontan aku menjawabnya melalui milis. Dari tanggal pengirimannya ku ketahui surat itu baru dikirmkan 1 menit yang lalu. Aku langsung memasukkan dalam daftar temanku, dan hasilnya..... sebuah seruan panjang dari puput : "RAHE..............!!!"

Aku pun suka cita menjawabnya. Tak terasa tetes air mataku meleleh (biar keren dan sedikit menyentuh, hehehe). Kami pun saling menanyakan kabar. Dari percakapan ini aku baru tahu puput sempat mengalami cobaan dan masa-masa sulit dalam hidupnya. Itu terjadi sekitar tahun 2007 lalu. Setelah menderita demam berdarah pada titik akut dan masuk rumah sakit, ditambah dengan meninggalnya sang ayah secara tiba-tiba membuat penopang hidup di keluarganya tidak ada. Hal ini membuat puput mengalami depresi berat dan berujung pada temporary amnesia. Aku tidak dapat membayangkan sosok yang sangat lembut itu menghadapi semua rintangan ini. Tetapi dengan kekuatannya, Puput tetap tegar. Cahaya mata zidane (anaknya yang lahir waktu final piala dunia 2006) termasuk yang memperkuat keteguhan hati puput.




Kini puput bekerja di Showroom Hyundai, di sela-sela kesibukannya dia membuka kursus menggambar komik. Tempat kursus ini dikelolanya bersama adikynya rahma yang lulus di LP3i. Karena bakat keduanya yang hampir mirip pada seni lukis ini, maka sekolah yang dibangunnya baru beberapa bulan ini sudah mempunyai murid yang lumayan banyak.



Puput online dari rumahnya, hari minggu begini dia libur. Jadinya di rumah mengurus si kecil zidane. Puput sempat menanyakan kapan kita bisa reunian kembali dengan teman-teman, aku pun meniatkan dalam hati suatu saat nanti kita akan berkumpul bersama kembali meskipun hanya dalam waktu singkat.



Aku jadi ingat kembali, semuanya, BLUR 01, kabar anak-anak...
ah puput, semoga engkau selalu dilindungi yang maha kuasa
kuatkan hatimu ya.....
kami selalu mendukungmu....


Ini profil puput :

http://www.perfspot.com/profile.asp?uid=99BB1D2D-A41F-4FF5-9398-82535CDA4947







Sabtu, 06 September 2008

Puasa hari keenam, "cerita kecil dari sudut antang"

Aku tersentak bangun ketika guncangan kecil menghampiriku. Aku sangat terkejut melihat dengan jelas ranes berdiri dihadapanku sedang tersenyum. Lalu dengan langkah perlahan membalik badannya dan berjalan ke arah luar, aku pun mengikutinya. Dia lalu bertanya mengapa aku tak pulang untuk sahur, lalu ku jelaskan bahwa aku menemani seorang yang sedang mendownload programnya, tidak enak ditinggal sendirian dan Ranes pun mengerti. Kedatangannya ke warnet mngabarkan bahwa ia akan masuk pagi, sehingga otomatis dia akan pulang kepondokan sore hari nanti.

Matahari pagi sudah mulai agak keras sinarnya. Aku pulang ke pondokan segera setelah ardi datang. Aku ingat hari ini akan ada acara buka puasa di rumah Kak Syam, sekaligus mungkin sebagai acara perpisahan. Dosen yang menjadi pembimbingku dalam menyelsaikan skripsi ku kemarin itu akan berangkat menuntut ilmu lagi dalam pencapaian gelar Doktor (S3) nya di Melbourne, Australia hari selasa 9 september 2008 nanti.

Jumat, 05 September 2008

Puasa hari kelima, "sehari tak bersamamu..."

Pukul setengah empat pagi aku dibangunkan ka anwar, setelah tadi mengcapture beberapa gambar dari video wisuda nya ke computer, aku tertidur. Kini sudah hampir imsyak. Aku tidak pulang ke pondokan, karena masih ada Pak Hafied yang mendownload programnya. Apa boleh buat, hari ini sahur tanpa Ranes. Padahal kami berencana melanjutkan menjawab soal-soal di buku psikotest itu. Tak berapa lama adzan subuh pun berkumandang. Aku bergegas mengambil air wudhu dan shalat subuh di belakang meja operator ini. Sengaja aku shalat duluan karena takut nanti tidak sempat subuh. Dan setelah itu aku tertidur lagi.

Aku bangun ketika matahari sudah tinggi. Karena ardi sudah datang, maka aku pulang ke pondokan kemudian terus ke kampus. Shalat jum'at di dalam kampus tetap penuh meskipun bulan puasa. Mushalla di ekonomi maupun sastra tidak cukup menampung banyaknya jemaah yang ada. Aku pun ikut di barisan luar yang hanya beralaskan koran dan tenggelam dalam kekhusyukan masing-masing.

Sore hari ketika bingung mencari dimana akan berbuka puasa hari ini, jun tiba-tiba mengajakku untuk pergi berbuka bersama kak nara (senior kosmik yang kerja di kompas). Bersama Irwan, dan wanto, kami bertolak menuju rumah makan padang yang blum lama ini dibuka dan terletak dekat kantor Briton tamalanrea. Sampai disana telah ada lisda, dkk bersama kak nara telah menunggu. Acara berbuka ternyata telah dimulai dari tadi.

Semua makanan dan minuman yang terhidang di atas meja sangat lebih dari cukup, aku sempat tertegun beberapa saat seperti teman-teman di sekelilingku. Akan diapakan makanan begini banyak?

Pikiranku melayang mencari dirimu, aku membayangkan kau masih tegak berdiri dengan senyum manis yang sedikit dipaksakan demi sesuap nasi. Ah Ranes.....

Kamis, 04 September 2008

Puasa hari keempat, "jangan berjanji, tapi berbuatlah..."

Ranes memanggilku pagi ini. Ketika menjelang adzan subuh berkumandang, dia masih sempat meminum seteguk air untuk menghilangkan rasa manis di lidahnya karena sebelumnya segelas susu coklat habis diminumnya. Setelah itu ia mengajakku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari buku psikotest yang ada di kamar ina. Soal-soal di buku itu gampang-gampang susah. Ada soal seperti ini,

Di tengah acara menjawab soal-soal itu, ranes sempat menanyakan dimna letak pondok Darussalam. Aku heran kenapa ia menanyakan tempat itu. Aku ingat nama pondokan itu karena aku, ilo, fajar, adi dan angga pernah tinggal di sana selama setahun sewaktu status kami masih menjadi mahasiswa baru 2001 silam. Pondokan itu memiliki kamar yang sangat mungil. Begitu muungilnya hingga Ilo yang tingi itu harus menundukan kepalanya bila akan masuk ke dalam kamarnya. Demikian halnya jika ingin mandi. Kamar mandi yang dimiliki juga sangat kecil.sehingga ada istilah dari angga untuk posisi mandi di kamar mandi tersebut. “tidak jelas itu duduk, jongkok atau berdiri”

Kata ranes ada temannya yang punya teman yang tinggal di Darussalam diwisuda hari ini, dan ia ingin peri ke sana tetapi tidak tahu jalannya. Aku pun langsung menyanggupi untuk mengatarkan teman ranes itu dan berjanji sore nanti akan menunggunya. Tetapi sampai matahari terbit ranes belum memberikan kepastian soal temannya itu. Hingga datang telepon dari temannya dan dia berbicara panjang lebar, aku pun tak ingin mengganggunya jadi aku turun ke bawah.

Kiranya matahari pagi sudah terbit, aku bergegas kembali ke warnet. Siangnya aku kembali ke pondokan, mencuci baju dan terus ke kampus. Di kampus sendiri, acara wisuda telah selesai, aku melihat dari kejauhan sosok Ilo sedang bersama seseorang yang mengenakan toga dan bersanggul layaknya putri keratin. Itu pasti Yani, tumpuan hati ilo yang membuatnya terbang melintasi beberapa pulau dan lautan hanya untuk menyaksikan Yani bertoga hari ini. Ku lihat mereka berjalan menuju pasar, aku mengikutinya hingga di pasar dan mendapati saudara-saudara dikosmik seperti yuda, kak riza, rani, kak yusran, dwi, arya, dan kak harwan. Seperti biasa, kalau sudah ngumpul seperti itu, pasti ada saja topic yang dibicarakan meskipun itu tidak jelas arahnya.siang itu pembicaraan mulai dari soal facebook, YM dan friendster sampai soal keberangkatan kak syam yang menurut kak riza tanggal 8 merupakan tanggal kepastian kak syam akan berangkat menuju Australia. Jadi ia menyarankan agar jika anak kosmik berencana mengadakan buka puasa di rumahnya sebaiknya dalam satu atau dua hari ke depan, agar sehari sebelum keberangkatannya kak syam bersama keularga sudah tenang.

Panas mtahari kampus, membuatku gerah. Aku memutuskan untuk pergi ke korps saja. Mengingat disana ada pendingin udara. Jun juga sepertinya berpikiran sama denganku. Jadinya kami berdua naik ke atas dan mendapati Korps sedang tenang-tenangnya. Hanya ada debra yang sedang bermain dengan kucing, lalu ada edi yang sedang tidur dan darma di bagian dalam sedang bersiap akan nonton film di laptop bersama wuri dan rahmat. Aku pun masuk dan membaca Koran sebentar. Hembusan angina pelan dari pendingin udara membuatku terbuai dan tertidur hingga menjelang magrib. Opan membangunkanku karena sebentar lagi akan buka puasa.

Ah… aku jadi lupa akan janjiku pada ranes untuk menunggui temannya yang akan pergi ke Darussalam. Aku mengutuki diriku sendiri sepanjang perjalan kembali ke warnet. Penyesalan memang tidak pernah datang duluan.


Rabu, 03 September 2008

Puasa hari ketiga, "dwi, jun dan ilo (pejuang-pejuang yang berdatangan)

Ina membukakan pintu lantai atas dengan ragu-ragu ketika ku ketok pintunya subuh tadi. Lantas ku bertanya apakah ranes sudah bangun. Tetapi yang kudapat hanyalah gelengan kepala Ina. Ternyata dari tadi malam ina belum bertemu dengan ranes, anehnya di kamarnya Kartu absen dan baju kerja ranes tergelatak di dalam lemari yang menandakan bahwa ranes sudah pulang tadi malam. Aku bingung. Hingga pagi tiba barulah ku ketahui ranes tidak bermalam di pondokan, ia bermalam di rumah temannya dan tak sempat makan malam apalagi sahur. Aku cemas, mana lagi sebentar siang yang terik dia harus ke tempat kerja nya lagi.

Matahari semakin merangkak pelan, tiba-tiba aku dikejutkan suara cempreng dari arah teras bersamaan dengan deru abu yang beterbangan ditimbulkan oleh mobil AVP berwarna perak. Dwi datang...!!!! Dengan menenteng tas laptop dan berbaju putih, dwi tiba. Tak lupa senyuman khas serta suara cemprengnya yang memecah kesunyian pondokan hari ini. Wah... bakalan rame lagi pondokan. Dari pernyataannya yang menggebu-gebu dengan tema "ingin menyelesaikan skripsinya secepat mungkin", aku seakan melihat sosok dwi saraswati hadir di tempat ini. Aura mistis pun seperti terpancar dari arah kamar milik dwi tersebut. Aku lalu berdoa untuk mendukung semangatnya itu.

Aku memutuskan untuk pergi ke korps, entah kenapa hari ini aku rindu korps lagi. Dan seperti gayung bersambut, tuhan memberikan kekuatan baru bagi kaki ini untuk bisa melangkah di tengah teriknya matahari yang diselimuti awan mendung melewati lapangan satu unhas, tugu volcom, taman segitiga rektorat, dan terakhir tangga art FIS IV menuju ruangan korps. Tiba disana telah ada Jun, mbak wuri, nida, echy, darma, yudha, ruztan, kapten, wawan, cokke, dan taro yang sedang tidur. Ada gitar yang nganggur, ku ambil dan kupetik sedikit untuk mengobati rasa rinduku akan suara gitar yang beberapa bulan ini tidak sempat ku dengarkan karena gitar milik patang yang biasa aku mainkan sedang dipinjam angga.

Tidak berapa lama, jun berinisiatif untuk memainkan lagu sambil mencari lirik dan cord gitarnya di internet. kebetulan ada laptop milik kapten (khaerul) yang sedang dipinjam. Jadilah suatu kombinasi yang apik : ada gitar, lirik lagu plus kuncinya di depan mata, dan para penyanyi sekaligus penonton yang ada di sekitar. Maka alunan lagu pun mulai mengalir. Lagu-lagu berbahasa inggris era 90-an yang dipilih jun karena memang jun suka sekali akan lagu barat. Dari backstreet boys, beeges, ronan keating, blue, westlife sampai savage garden. Ketika lagu trully , meadly deeply dilantunkan, Nire pun ikutan nyanyi bersama jun. Kami pun terkesima akan duet dadakan ini. Darma mengisyaratkan kepada semuanya untuk tenang. Jun dan Nire semakin bersemangat bernyanyi dengan syahdunya. Kami pun semakin bersorak karena terhibur akan aksi jun dan nire ini. Dari gerak-gerik jun agaknya dia sedang berjuang mencari simpati dari nire, ataukah ini hanya sebagai ajang latihan untuk mendekati seseorang lain di sana ? aku tak tahu, aku hanya bisa menebak-nebak. Acara menyanyi ini tak terasa berlangsung menjelang sore, sampai sedikit lagi waktu berbuka puasa. Anak-anak pun berpindah dari korps menuju pasar, karena sebelumnya ada informasi dari ain, bahwa mace akan mengadakan buka puasa bersama di situ.

Malam pun datang, aku bergegas menuju warnet. Dengan rutinitas yang sama dalam beberapa tahun ini, satu-satunya yang dapat menjadi alasanku masih disini adalah keyakinanku akan ranes. Entah itu saat ini, atau nanti bahkan di hari tua nanti, aku selalu yakin. Internet yang tiap hari aku temui ini sebagai pelajaran dan bekal bagi pencapaian kepadanya kelak.

Sedang asyik melihat apa yang sedang terjadi di dunia nyata dari dunia maya ini, aku dikejutkan oleh sesosok tubuh yang tinggi. Wajahnya sempat terhalang monitor di depanku. Tetapi ketika ku mencondongkan sedikit badanku kesamping, tampaklah wajah itu. Sumringah dan semangat, Ilo ternyata datang lagi. Menempuh perjalan ribuan kilometer melintasi pulau jawa, bali dan kalimantan untuk sampai di pula sulawesi ini. Semua itu untuk sebuah perjuangan masa depan. Dan masa depan itu di mulai dari besok, tanggal 4 september, hari dimana tambatan hatinya akan diwisuda.

Aku selalu berdoa agar semangat yang terpancar dari Dwi, Jun dan Ilo selalu di dengar yang maha kuasa. Ah... kekuatan semangat itu terasa mengalir di sekitar ku.


Selasa, 02 September 2008

Puasa hari kedua, "...dan musim pun berganti"

Sahur tadi ranes membangunkanku. Dia turun langsung ke kamar patang untuk membuatku terjaga, kemudian menyuruhku ke atas untuk makan disana. Sehabis sahur, ketika Ina sudah terlelap, Ranes masih ingin main game. Jadilah aku menemaninya main game kartu yang katanya pernah dimenangkannya waktu pertama kali memainkannya kemarin. Tapi ternyata kini permainan kartu itu terasa susah sekali. Akhirnya kami memilih main “bounce” saja. Balon-balon yang berjatuhan itu sangat disukai Ranes karena suaranya. Meskipun begitu kami hanya bisa menyelesaikannya sampai level 3 saja. Selalu game over pada level tersebut Karena susah sekali. Atau mungkin otak kami berdua yang tidak mampu ya? Ah tidak apa, yang penting kami menikmatinya saja. Tak terasa hari sudah mulai pagi, ranes pun mengantuk. Kemudian dia tertidur di samping Ina. Aku pun turun ke lantai bawah melanjutkan tidur ku.

Hari sudah siang ketika baru saja ku buka mataku. Sejenak aku berpikir akan kemana hari ini? Aku pun berinisiatif mandi dan berpakaian kemudian langsung menuju kampus. Tiba di sana, banyak sekali mahasiswa yang hilir mudik dengan urusannya masing-masing. Beberapa orang saja ku kenali sepanjang perjalanan menuju kampus tadi. Hm… rupanya orang-orang sudah berbeda dari tahun ke tahun. Kini tinggal dalam komunitas kosmik saja yang masih aku kenal, itu pun mahasiswa baru 2008 dan angkatan 2007 kemarin sebagian tidak dapat aku bedakan. Zaman betul-betul sudah berganti. Begitu pun musim perkuliahan yang sudah dimulai lagi bertepatan dengan bulan puasa tahun ini.

Mungkin inilah menjadi satu-satunya hal yang abadi di dunia ini, "Perubahan"

Senin, 01 September 2008

Puasa hari pertama, "Sesuatu yang tertunda"

Ramadhan baru memasuki hari pertama. Sahur pertama bersama ranes dan ina pagi tadi dengan makanan seadanya menambah semangat untuk puasa hari ini. Tak terasa saya tertidur bersama ranes dan ina di kamar ina setelah main computer. Setelah itu saya pindah ke kamarnya fajar dan meneruskan tidurku bersama dadi dan fajar.

Sinar matahari yang menandakan pagi tentu saja tidak terasa dari kamar yang tertutup rapat gorden dan jendela serta pintunya ini, kalau saja fajar tidak membangunkanku bahwa hari sudah siang. “hari ini yudisium” kata fajar menyadarkanku. “Yudisium?” saya terkejut. Bergegas langsung ku pergi menuju kamar mandi, mengguyur badan seadanya dan menggosok gigi dengan terburu-buru.

Saya heran, sebelumnya memang ada pemberitahuan dari Ibu ida bahwa hari ini kami akan di yudisium, tapi kemungkinan tidak jadi karena ada Fifi yang ujian meja. Mungkin sekalian saja sama Fifi yudisiumnya di hari lain. Tetapi fajar yang baru saja dari kampus itu mengatakan bahwa ini hari akan dilaksanakan yudisium.

Bersama fajar saya pergi ke kampus dengan motor Honda kesayangannya yang sangat berjasa mengantarkan kami kemanapun. Pemandangan yang tersuguhkan di depan pintu masuk parkiran FISIP dari arah rektorat ketika kami baru saja tiba sangat mencegangkan. Walaupun hari pertama puasa, motor yang parikir disini membludak. Seperti halnya pemandangan sewaktu ada UMPTN (SNMPTN untuk tahun ini) di kampus.

Ujian meja untuk Fifi sudah dilaksanakan sedari tadi. Sewaktu kami masuk di kantor jurusan, terlihat Fifi sudah keluar dari ruangan ujian. Kami pun mengucapkan selamat telah melewati prosesi akhir dari perjalanan panjang kuliah ini. Dari penjelasan Fifi pun kami mengerti bahwa yudisium untuknya tidak bisa diadakan hari itu juga karena masih ada perbaikan dalam skripsinya. Fajar menyarankan untuk mengikuti model dalam skripsi milik wiwin karena mirip-mirip metodenya dengan apa yang dipaparkan dalam skripsi Fifi.

Tidak berapa lama Ibu Ida memanggil kami, dan menyarankan untuk menungu sejenak siapa tahu yudisium bisa dilaksanakan hari ini juga bersama Fifi dengan perbaikan skripsi yang bisa menyusul kemudian. Tetapi sesuatu yang tidak diduga terjadi, "Saya tidak akan yudisium kau kalau belum ko potong rambut..!!"Suara Pak Edi menggelegar di telingaku. Dengan adanya perkataan dari pak edi ini,otomatis hari ini yudisium kami tertunda. Akhirnya Patang lagi ikut-ikutan jadi korban.

Ah…. ini semua karena keegoisanku. Rambut ini memang sudah waktunya di potong. Aku harus mulai bisa untuk menata diri lagi. Maafkan aku, patang…




Minggu, 31 Agustus 2008

Suatu sore menjelang ramadhan

Selebaran jadwal imsakiyah dan sholat 5 waktu selama bulan puasa untuk tahun ini telah saya terima. Disini saya dapati ada beberapa buah dengan model yang berbeda-beda. ada yang bergambar mesjid dan bedug serta logo sebuah instansi lokal serta ucapan untukmenunaikan ibadah puasa, ada pula yang memasang model-model muda dan cantik yang mnggunakan jilbab keluaran terbaru. Semuanya dengan tujuan yang sama yaitu menyongsong bulan baik dan penuh berkah ini.

Sore tadi, saya bersama dadi dan sosank menggotong komputer milik dadi bersama speaker dan monitornya menuju kamar patang. Karena alasan akan pindah dan belum tahu akan kemana, dadi akan menitipkan barang-barangnya untuk sementara di kamarnya patang. Biaya kos di kamarnya untuk tahun ini naik lagi, sehingga membuat dadi enggan untuk berlama-lama lagi di kamarnya yang baru ditempatinya selama setahun ini.

Ketika baru saja akan sampai di kamar patang, terlihat debra dan patang duduk di teras pondokan lantai bawah sedang asyik membersihkan buku-buku pemberian dari kak syam yang akan berangkat ke australia untuk sekolah doktornya. Buku-buku tersebut sebagian besar berbahasa inggris. terdapat pula novel dan beberapa jurnal di dalamnya. Saya dan patang mengambilnya ketika seminggu lalu mengantarkan undangan untuk ujian meja di rumah kak syam.

Senyum khas debra dan patang mengembang ketika melihat kami datang. Ternyata disitu telah ada pula were dan ka ucu yang sedang membalik-balik buku dari kak syam. Tidak berapa lama patang mempersilahkan untuk masuk ke kamar mencicipi sesuatu yang debra bawa dari rumahnya. Coklat!!! itu pasti. Ada debra, maka ada coklat. Kali ini dalam ukuran besar dan diletakkan dalam piring yan besar pula. kami semua mencobanya dengan perasaan puas dan rasa tambah. Debra hanya tersenyum-senyum saja ketika were memuji kelezatan coklatnya. Sayang dwi sedang pulang kampung. jadi tidak ada suara cempreng yang akan menanyakan resep dan komposisi dalam coklat tersebut. Saya lihat ada campuran warna putihnya dan seperti terasa kenyal seperti agar-agar. Yang jelas satu gigitan saja, akan meminta gigitan berikutnya sehingga dalam sekejap satu potong kue coklat seukuran 3 jari itu bisa habis dan saya yakin akan minta tambah lagi.

Sore semakin menjelang, ketika saya pergi ke kamar mandi, eva memanggilku dengan tergesa-gesa. Rupanya baju dan baskomnya jatuh ke dalam sumur. Bekerja sama dengan eva, kami mengambil kembali baskom yang berisi beberapa baju yang terjatuh ke dalam sumur tadi. Sedikit basah tapi tidak sampai tenggelam. Eva berjanji akan lebih hati-hati sambil berlalu dari hadapanku.

Tidak berapa lama adzan magrib berkumandang. Were dan kak ucu sudah pulang sehabis mencoba coklat tadi. Tinggal dadi, sosank, debra, patang dan saya di kamar ini. Dadi masih sibuk menyiapkan komputernya yang telah dibersihkan untuk dipergunakan main game sebentar malam. Sosank bersiap-siap akan pamit pulang. "terima kasih atas segala yang telah diberikan hari ini, semoga amal ibadah kalian di terima di sisi-Nya amien" layaknya seorang pastur atau kiayi sosank berdiri di pintu mengucapkan kalimat tadi dengan raut muka serius. Dan kami pun tertawa.

Gelap pun menyergap kembali, saya beranjak ke depan.
Ah... besok puasa, ini ramadhan yang ke tujuh.
Dan kami masih disini, mengharap kehadiran-Mu

Jumat, 29 Agustus 2008

Masih (selalu) bisa cinta

Hari ini kau patahkan hatiku
Kau patahkan niatku
Kau patahkan semangatku

Entah mengapa ku masih bisa cinta
Bisa cinta padamu
Lihat mataku
Akan kucoba perhatikan kamu
Akan kucoba terus cinta kamu
Air mata tak akan ku uraikan
Hanya mengelus dada
Aku masih bisa cinta


lirik ini milik Dewiq, melalui suara iwan fals, lagu ini dinyayikan dalam album 50-50. Dalam album ini terdapat lagu-lagu tentang cinta meskipun bukan ciptaan iwan fals. Ini salah satu yang sangat menyentuh. Sengaja sedikit kurubah posisinya, mewakili segala yang terjadi beberapa hari ini.

Aku baru tahu dan sadar arti cinta yang sebenarnya.
"membuat orang yang kau cintai itu tersenyum"

Itu saja tidak lebih.


Rabu, 27 Agustus 2008

Altar Ego

Ini merupakan sebuah istilah yang saya dengar dari perkataannya dwi tempo hari ketika mencoba laptop barunya bersama kak topan. Saya tidak tahu pasti definisi resminya, tetapi dari contoh yang dwi ungkapkan, sepertinya sangat cocok dengan yang terjadi.
"saraswati" menjadi altar ego bagi dwi, sementara bagi ka yusran saya lupa apa namanya. Kebetulan waktu itu ka yusran sedang menelpon dwi dan menyebut kata itu saat kami membahas kata pengantar yang saya tulis di skripsi.
"ooo... saya tahu, altar egonya kak rahe adalah Ranes" begitu kata dwi menganalisa kata pengantarku. Saya menyimak penjelasannya dengan seksama.
Saya tidak tahu, tapi perasaan ini susah untuk menyangkalnya
Meskipun itu sudah terjadi beberapa tahun lalu.
Saya tahu Ranes sedang berbahagia
Dan saya juga merasakannya
Karena kebahagiannya adalah kebahagiaanku juga, apapun itu

Selasa, 26 Agustus 2008

Belajar Cinta

Belajarlah untuk berbuat dengan tidak mengharap sesuatu
Bahkan untuk ucapan terima kasih
Belajarlah untuk selalu ikhlas
Ini memang merupakan pekerjaan yang teramat dan paling berat
Cinta itu memberi
Tanpa berharap untuk dibalas apalagi diperhatikan
Ketika Engkau mengaku cinta,
Maka bersiaplah untuk dilupakan

Mungkin bukan saat ini, tapi nanti









(sebuah releksi diri)

ada sapi menyerbu kampus

Ketika jalan ke kampus siang ini terasa lebih panjang dari biasanya, tepat di depan tugu "volkom", dua wanita berjilbab naik motor vespa berwarna hitam menghampiriku. Saya belum dapat mencerna dengan baik ketika salah seorang dari mereka berbalik kepadaku. saat itulah saya baru tersadar, "IRA..........!!!" WA..A..AAAA............!!!"
Kegirangan saya tidak terkira, Salah seorang sahabat dekat itu kini hadir di depanku setelah beberapa waktu tidak bertemu. Sejenak saya tertegun.

Ira Demita, berkacamata, jilbab, dan selalu menggunakan celana panjang. Hanya Satu kali saya melihatnya pake rok, yaitu ketika ujian meja beberapa tahun lalu. Di hadapanku kini, berdiri sosok itu masih sama seperti ketika pertama kali kami memasuki dunia kampus ini 2001 silam, tetapi waktu itu ira belum berjilbab. Di awal kuliah hingga menjelang KKN dulu, ira selalu terlihat bersama puput. Dua sejoli ini selalu bersama. Di mana ada ira, disitu ada puput. hal ini berlangsung lama hingga puput menikah dengan seorang senior di fakultas lain. Kini puput entah dimana, tapi kata ira, puput sudah kembali ke jakarta. Bapaknya meninggal dan sekarang puputlah tulang punggung di keluarganya.

Suara misda yang besar itu membuyarkan lamunanku, "ku tunggu di pasar nah.."
Kemudian saya dan ira berjalan kaki menuju kampus dari tugu volkom tersebut.
"Sudah lama tidak jalan kaki, soalnya di pulau terus."
Ira, di angkatan kami dulu adalah "mace" nya. Di kostnya kami masak perbekalan buat konsumsi bina akrab "nurani" 01. Di tempat itu pula acta diurna yang kami kelola di buat. Waktu itu bersama wanna, puput, ira dan derlin. Kami menyusun format acta diurna tersebut dengan model warna-warni. Saya masih ingat dengan ide gila nya puput membuat sebuah rubrik "du-du" (dari-untuk). Rubrik ini adalah ajang salam-salaman anak kosmik waktu itu, karena HP masih merupakan barang yang langka.

Ira masih menikmati langkah-langkah tegapnya ketika kami memasuki wilayah fisip dan mendekati lokasi pintu WC yang kebakaran kemarin. Masih terlihat arang bekas api yang melalap pintu tersebut. Sementara di sampingnya berserakan genteng-genteng yang akan diganti seiring bergantinya tahun ajaran baru dengan berdatangnya mahasiswa baru.
Saat mencapai pasar, terlihat dari kejauan anak-anak "Dragons" sedang asyik bercengkrama. "kak ira..." teriak emma. Dan pelukan pun mengalir di pasar.

Ada dua hal yang mengingatkan kami pada ira, yaitu Johny depp dan Sapi.
Segala hal tentang Johny depp sangat sensitif di telinga ira. Begitu pula yang berbau sapi. Tapi bukan nafas sapi. Saya ingat ancu pernah bilang : "mahasiswa yang paling kuat di dunia adalah ira, karena tiap hari dia memikul sapi dengan enteng di tasnya"
Ya, seekor sapi memang bergantungan di tas kesayangannya. tapi dalam bentuk yang lebih keil (gantungan kunci). Di kamarnya pun ira dulu memiliki bantal sapi yang dikirimkan teman chattingnya di jawa. Dari sini panggilan ira "sapi" itu pun muncul. Ketika ada sapi, maka saya akan ingat dengan Ira.

Sore menjelang, kami berjalan ke pe-we (pariwisata), disitu Ira bercengkerama dengan jun. Menurut Ira, sosok unik Jun sangat mirip dengan tokoh "sid", seekor kukang dalam Film Ice Age, karena dia lincah dan aneh seperti Jun.

Tidak berapa lama deru khas mesin motor vespa milik misda terdengar. Misda datang untuk menjemput ira. Rencananya mereka berdua akan ke perumahan dosen mencari "Nipah", sebuah LSM milik kelautan. Entah apa yang dicari ira disana. Yang jelas dia berjanji akan datang ke pondokan nanti dan bertemu dengan teman lain, katanya dia rindu pada sosank dan patang.