Rabu, 24 Desember 2008

24 desember, ketika malam pukul 11 lewat sedikit

Tepukan tanganku sengaja agak kukeraskan ketika memanggil pete-pete' (angkot) 05 jurusan cendrawasih-kampus karena jam sudah menujukkan pukul 11 malam lewat sedikit. Kami, (saya, patang dan debra) baru saja pulang dari acara syukuran wisuda anak-anak kosmik periode desember ini yang mayoritas angkatan 2004. Kabar baiknya, kami (patang dan saya - AKHIRNYA!!!) juga termasuk di deretan wisudawan tersebut.

Aku tak akan bercerita panjang tentang acara tadi. Kami datang memang agak telat, tetapi masih banyak anak kosmik yang hadir. Acara sebenarnya sudah dimulai sejak sore tadi. Banyak anggota kosmik dari senior sampai abang-abang yang datang, bahkan kabarnya ketua jurusan illmu Komunikasi yang baru, Bapak Nadjieb dan beberapa dosen-dosen serta staf administrasi hingga pak saleh, staf administrasi FISIP yang sangat berjasa membantu para wisudawan mengurus berkas kemarin pun turut hadir.

Malam semakin larut, untungnya bintang yang tampak di langit dengan jelasnya dan selalu kuperhatikan dengan seksama sejak berangkat tadi masih kelihatan bersinar terang. Ini berarti tidak ada awan mendung yang menutupinya. Otomatis hal seperti ini biasanya menandakan bahwa malam ini tidak akan turun hujan. Beberapa minggu ini Makassar memang selalu diguyur hujan. Makanya aku agak trauma, mungkin sama seperti lainnya. Manusia memang selalu belajar dari alam, dan tuhan menujukkan dirinya melalui tanda-tanda seperti itu. Mendung dan hujan selalu berpasangan untuk mengingatkan. Meskipun ada salah satu lirik lagu "mendung tak berarti hujan..." tetapi ku pikir itu merupakan kiasan untuk menyemangati kita bahwa ketika mendung mengancam akan turun hujan, bukan berarti segala kegiatan harus terhenti. "Life mus go on," masih ada payung, jas hujan atau daun pisang yang bisa di comot untuk melindungi diri agar tidak basah.

Angin dimalam ini bertiup sepoi-sepoi saja, tetapi tidak jika berada dalam kendaraan, apalagi seperti pete-pete' tumpangan kami ini. Pintu utamanya yang menganga membuat angin terasa lebih kencang ditambah dengan kekuatan daya dorong mobil hingga Aku agak menggigil dibuatnya. Beberapa kali pete-pete ini mengubah arah keluar dari jalur resminya karena di sepanjang jalan menuju kampus ini ada beberapa gereja telah disesaki umat nasrani untuk merayakan misa kudus peringatan natal yang jatuh pada esok hari.

Terlihat penampilan para jemaat itu sangat spesial malam ini, mulai dari tua, muda, bapak-bapak, ibu-ibu, para gadis, hingga anak-anak. Karena umat nasrani di kota ini di dominasi oleh etnis selain bugis-makassar, maka pemandangan di jalanan ini terasa lain. Kebanyakan terlihat olehku adalah dari etnis cina. Terkadang ada juga kudapati muka-muka selain cina dengan tanda bermata tidak sipit dan tidak putih. Meskipun begitu, mereka berbaur dalam nyanyian, doa dan kekhusyukan malam natal.

Di sudut jalan lain, cafe-cafe, tempat bilyard serta bar terlihat mulai berdenyut. Dinginnya malam memang menjadi penghibur tersendiri bagi para pengunjung tempat-tempat tersebut. Mungkin karena siang hari mereka harus kerja mencari nafkah, dan keadilan Tuhan menciptakan malam untuk beristirahat pun dimanfaatkan sedemikian rupa.

Ketika pete-pete' tumpangan kami mulai memasuki daerah tamalanrea, denyut kehidupan malam pun berangsur hilang, di kawasan pendidikan ini atmosfirnya memang terasa beda dari kehidupan kota. Ketenangan dan keheningan khas wilayah pendidikan menyelimuti kecamatan ini. Kecamatan yang selalu mengajarkan kepada kita agar tidak pernah menyerah dalam segala hal, termasuk menempuh pendidikan. "Tamalanrea" kata orang berarti "tak jemu-jemu" . Itulah alasan nama itu diberikan.

Tapi....itu sebelum berdirinya beberapa pusat perbelanjaan di sekitar sini. Ah... aku tak tahu apa maunya para pemilik modal itu, para pengambil kebijakan itu, atau para pengawal negara itu. Mungkin juga jika aku di posisi mereka, aku akan berbuat hal yang sama. Bukankah keuntungan memang selalu diatas segala-galanya...?

Di depan pintu satu UNHAS pete-pete' berhenti, kami pun turun dan berpisah. Patang dan debra ke arah pondokan, sedangkan aku kembali ke warnet.
Sebelum berlalu, aku sedikit berteriak ke arah patang dan debra : "off the record yang tadi ya...!!!"

Minggu, 14 Desember 2008

Relax time, minggu pagi itu entah tanggal berapa..

Saya menemukan foto ini dari kumpulan foto di salah satu profile fiendster temanku.

Jumat, 12 Desember 2008

Negeri “seng”, dan Pondok “hanya karena cinta”


Aku belum pernah membayangkan tempat seperti ini. Jalan pendek sekitar 1 km yang memiliki dua tikungan menyambut perjalanan kita sebelum memasuki gerbang negeri ini. Tidak dapat disebut gerbang, karena pembatas antara negeri ini dan dunia luar itu adalah sebuah jembatan yang aspalnya sudah terkelupas, tetapi masih bisa dilalui oleh mobil dan motor serta sepeda. Terkadang pula kawanan sapi serta kambing melalui jembatan itu. Lewat dari jembatan itu lah negeri ini berada. hawa khas yang tidak kita temui di tempat lain mulai terasa. Hawa itu muncul dari persetubuhan kulit seng yang menjadi dinding-dinding tempat tinggal disini dengan sinar matahari dan angin yang berhembus pelan, terkadang pula kencang,


Ya, seng merupakan bahan utama penyusun rumah-rumah yang ada di negeri ini. Jikalau ada rumah dari semen dan batu bata, maka jumlahnya tidak lebih dari jumlah kedua tangan dan kedua kaki yang digabung. Rata-rata lantai di rumah-rumah itu sudah menggunakan campuran semen bahkan tegel. Kecuali rumah bertingkat dua, yang lantai atasnya menggunakan susunan papan-papan sehingga bila kita menginjaknya, maka akan terdengar di telinga penghuni di lantai bawah.

Fungsi rumah kost mendominasi sebagian besar rumah yang dibangun dinegeri ini. Ada dua system pembayaran kost-kosan disini. Per bulan atau per tahun, tinggal pilih saja. Harganya pun bervariasi, ada yang perbulannya

Seperti pondokan yang ku tempati ini. Pembayarannya bisa per bulan yang berharga 70 ribu rupiah. Dengan atap seng dan berdinding seng, maka pada siang hari kita akan disuguhkan dengan fasilitas “mandi uap keringat” karena panas yang dihasilkan terbilang diatas normal menembusi setiap inci tubuh ini.

Yang tersisa bagi penghuni kamar-kamar ini mungkin hanyalah cinta pada pasangannya masing-masing. dan ini menjadi alasan untuk bertahan di tengah himpitan kebutuhan hidup sekarang ini. sebagian besar penghuni pondok ini adalah orang yang berkeluarga. Malah ada sebuah pasangan suami istri yang mengontrak 3 kamar berdampingan sekaligus. Untuk menghubungkannya, maka sekat pemisah antara ketiga kamar tersebut di singkirkan. Hasilnya sebuah kamar yang memanjang dan lebar serta luas cukup untuk ditinggali sebuah keluarga.

Oh.. sejak tadi aku lupa ya menyebutkan nama resmi kawasan ini. Letaknya di belakang pasar daya, jikalau hendak kesini, Engkau hanya perlu membayar dua ribu rupiah untuk menumpang pada tukang ojek. Katakan saja tujuanmu : "pondok sawah"

Minggu, 30 November 2008

Maryamah Karpov pertama di makassar

Hari ahad, penyebutan untuk hari minggu dalam agama islam. Ahad yang berarti satu atau yang pertama. Entahlah apakah ini berkaitan dengan bahasa tubuh dwi yang mengisyaratkan bahwa dia sedang menuggu sesuatu ketika aku baru tiba di pondokan pagi ini. Dengan kaus putih dan celana abu-abu dwi tersenyum-senyum sendiri dan tebakanku kali ini betul. Ternyata dia sedang menanti sesuatu. Sesuatu yang istimewa, kalau dalam istilah makassarnya "powerful".

Tentu saja itu istimewa karena yang ditunggu itu adalah "MARYAMAH KARPOV" !!!!!

ya buku tersebut akan datang pagi ini setelah ka yusran mendapatkannya kemarin. Dan pagi ini, salah satu saudara kak yusran membawanya langsung ke makassar. Beberapa saat kemudian dwi menerima kabar baru, dan dwi memutuskan untuk menjemput maryamah karpov itu saja.

Hari minggu memang hari yang tepat untuk bermalas-malasan. Acara di tv pun sepeti sengaja di program untuk hiburan seharian penuh. Mulai dari film kartun, sinetron hingga reality show hadir di hari ini dari pagi hingga pagi lagi. Film kartun mendominasi sepanjang pagi hingga siang ini. Sambil menghabiskan waktu luang ini, detective conan dan dilanjutkan dragon ball hingga naruto ku tonton habis.

Tidak berapa lama selepas kepergian dwi menyongsong maryamah karpov di BTP (rumah saudara kak yusran), dwi pun pulang dengan senyum sumringahnya. Kata dwi dia seperi mercon yang meledak. Aku melihatnya, "MARYAMAH KARPOV" tepat di depan mataku. Aku pun menyentuhnya merasakan ketebalan halamannya dan menciumnya sesaat.

Entah ini hanya perasaanku saja, tapi aku bolehlah merasa bahwa Maryamah Karpov di depanku itu adalah maryamah karpov pertama yang tiba di makassar. Dan boleh pula aku berbangga hati termasuk beberapa orang pertama yang melihatnya disini.

Ah.. penantian-penantian itu pun pelan pelan terobati, tapi aku malah semakin takut

Aku justru merasa penantian itu seperti buah yang mendekati masak. Bunga yang mendekati mekar. dan daun yang akan menguning. Ketika telah masak, atau mekar dan menguning, pelan-pelan pula akan habis dan gugur serta terlupakan.

Aku pun merasa perpisahan ini semakin dekat...

Belajar melepaskan

Terkadang memang kenyataan tidak selalu seperti rencana. Makanya rencana yang muluk-muluk bisa mengakibatkan sakit hati bahkan stress. Dengan belajar dari sebuah kenyataan yang tidak seperti rencana inilah kita bisa mengetahui tentang ikhlas.

Sedikit pelajaran tentang ikhlas kita dapat pula memahami arti cinta. Karena cinta bukan sekedar memiliki dan memahami serta menyayangi. Terkadang pula berupa bagaimana kita harus melepaskan sesuatu.

(untuk sebuah cinta yang kemudian harus dilepaskan karena dengan melepas itulah arti cinta yang lain)

Hari ini aku kembali melepaskan setelah beberapa kali berusaha menggenggam
dan kini ku tahu arti memiliki yang sebenarnya
yaitu ketika sang pemilik sesungguhnya datang untuk memintanya



Sabtu, 29 November 2008

Menanti maryamah karpov

Berapa hari yang lalu Fajar dengan setengah terpekik meemberitahu sesuatu. Dari situs buku www.inibuku.com, ia melihat "Maryamah Karpov" sudah bisa dipesan. Aku pun memberitahu dwi yang kebetulan juga sedang online dari warnet dekat pondokan lewat yahoo messenger.

Kini tanggal 29 mendekati hari terakhir bulan november. Buku tersebut memng dijadwalkan untuk terbit akhir bulan ini dan beredar awal desember nanti. Mungkin sekitar tanggal 3 atau 4 buku tersebut sudah beredar di makassar.

Ah... penantian panjang kami pun akhirnya berujung. Barusan sinopsis dari buku maryamah karpov sudah kudapatkan dari www.bukabuku.com serta bukudiskon.com yang kurang lebih sebagai berikut :

"Jika dulu aku tak menegakan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadapi gunung timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai magrib, menggantikan tugas ayahku, yang menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib kepada ayahku dan kepada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpi mimpiku. atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani.

Keberanian dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan perstiwa. Sudut-sudut dunia telah dia kunjungi demi menemukan A Ling. Apa pun Ikal lakukan demi perempuan itu. Keberanian ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap dengan sihir kata-katanya, Anda akan dibawa Andrea pada kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan."



Rabu, 26 November 2008

Lelaki yang menjadi suamimu

Suasana Pasar (tempat kumpulan mace2 penjual makanan dan minuman yang letaknya di belakang fakultas ekonomi dan sospol serta samping mesjid nurul ilmi) terlihat rame ketika aku dan Hj. Hasma baru datang. Sebelumnya aku bertemu dengan hasma di lantai dua gedung akademik fisip yang sedang menunggu pak ikbal. Karena mungkin masih lama jadi aku turun ke bawah dan hasma pun mengikutiku.

Coffemix 3 gelas di pesan hasma, untuk aku, aidil dan dia sendiri. Kami pun berbincang-bincang sekedarnya sambil mataku melihat di layar notebook yang sedang di gunakan oleh upi'. Sesekali upi' tertawa melihat gambar atau info dari internet yang ada di layar laptop itu. Internet memang bukan lagi barang mewah saat ini. Cukup bermodalkan laptop yang punya wifi (wireless idelity) dan mencari daerah kampus yang ada sinyal acces pointnya, maka kita bisa berinternet sepuasnya.

Selang 15 menit aku duduk disitu sambil mengedarkan pandangan, mataku tertuju pada satu sosok yang sangat ku kenal. Dia berada diantara kumpulan anak-anak antro dan sosiologi di kantin FISIP yang berjarak beberapa meter di depanku. Dia tersenyum. Aku pun membalasnya dan kemudian beranjak menghamprinya. Berjabat tangan kemudian memeluknya.

Rambutnya di potong pendek 3 cm. Dengan jas levis yang necis dan helm besar di tangan senyumnya tak lepas dari mulutnya sambil bertanya kabar kepadaku dan mengeluhkan bahwa sedikit sekali muka yang dia kenali di kampus ini. Hanya ka iccang (politik 97) dan anto (poltik 98) serta diriku.

Aku mengenalnya sejak mahasiswa baru, waktu itu rambutnya gondrong sehingga tampak sangar dihadapan maba apalagi waktu itu ospek. Orang memanggilnya yang kalau dalam bahasa indonesia artinya "anak laki-laki". Sewaktu awal kuliah dia sering menitip salam buat salah seorang teman angkatanku.

Kini dia berdiri dihadapanku sebagai salah seorang pegawai bank di tanah kelahirannya, papua. Dia berada disini karena sedang cuti. Katanya anaknya yang baru lahir kemarin hari minggu adalah laki-laki. Aku pun tak kuasa menahan rasa bahagiaku. Meskipun rasa perih ini juga sedikit menusuk. Aku tahu dia bahagia seperti bahagianya dirimu. Karena dia lelaki yang menjadi suamimu.


"lelahmu jadi lelahku juga.."
"bahagiamu bahagiaku juga.."

(dee)





Sabtu, 22 November 2008

Sebuah mitos tentang telepon koin

22 november itu…
Telepon umum koin mungkin sudah jarang terlihat di sekitar kita, apalagi yang terlihat digunakan. Di sekitar kampus unhas tamalanrea sendiri bisa dihitung dengan jari keberadaannya. Yang masih bisa disaksikan sampai sekarang adalah dua buah di pintu satu unhas yang tidak dapat lagi digunakan dan empat buah di lantai dasar rektorat dekat mesin atm yang masih dalam keadaan bagus meskipun terkadang butuh kesabaran dalam menggunakannya.

Tetapi bukan itu yang membuatku teringat kepada telepon-telepon koin ini, melainkan di tanggal yang sama pada hari ini 5 tahun lalu, ketika angin malam bulan ramadhan meniup bulu-bulu kuduk dan yang terdengar hanyalah dua suara. Sebuah suara di tamalanrea ini dan suara lainnya di ujung telepon itu berasal dari kejauhan jalan cendrawasih. Waktu itu kau masih kuliah tetapi sudah pada taraf penyelesaian skripsi, sedangkan aku masih semangat-semangatnya berdiri pada kaki mahasiswa semester 4.

Suara disini terdengar, telinga disana mendengarkan. Aku bernyanyi, lagunya selamat ulang tahun. Aku tahu kau tersenyum, meskipun hanya telingamu yang mendengar. Lalu kau bilang bahwa aku terlambat beberapa jam. Karena siang sebelumnya seseorang lainnya berkata duluan persis seperti pintaku pagi itu dan kau tak kuasa menolaknya.

Kini 5 tahun berlalu, dan aku masih berucap yang sama di tanggal dan bulan ini tapi sekarang tidak dengan lagu. Karena ku tahu engkau pasti sangat lelah dengan kondisi tubuhmu saat ini untuk mendengarkan. Engkau bilang sedang cuti, makanya berada kembali di makassar ini. Aku tahu dengan perut 9 bulan itu engkau kepayahan berdiri berlama-lama. Tempat telepon di rumahmu hanya terletak di dinding dan tidak ada kursi di dekatnya. Tapi aku tahu kau masih tersenyum dan memintaku untuk datang, setidaknya menyemangatimu.

Aku tahu engkau pasti deg-deg an menanti kelahiran itu. Katamu lelaki perempuan sama saja ketika ku tanya yang mana akan kau pilih ?

Aku akan datang, nanti
Karena bahagiamu bahagiaku juga

Aku tak tahu kenapa lagu ini baru muncul sekarang
Apakah memang dee sudah menunggu kapan waktu tepatnya diluncurkan lagu ini ?
Meskipun begitu Aku bersyukur masih bisa mendengar lagu ini
Aku bersyukur pernah mengenalmu
dan Aku bersyukur kepada dwi yang mengenalkanku pada Dee


"mundurlah wahai waktu
ada s'lamat ulang tahun..."







Kamis, 20 November 2008

Pencapaian-pencapaian...

Huff.....!!
Akhirnya beberapa pencapaian sudah aku penuhi, setidaknya untuk diriku sendiri.

Menyaksikan dwi ujian meja kemarin merupakan salah satu dari beberapa pencapaianku. Masih ada dua lagi, melihat "malaikat dan iblis" yang akan diputar di bioskop 2009 nanti serta menanti "solomon key" yang juga akan terbit di tahun yang sama dan tak lupa pula nasib akhir ikal pada maryamah karpov.

Aku sebenarnya tidak muluk-muluk pada ketiga hal terakhir ini, melihat dwi yang ujian saja sudah menjadi hal terakhir setelah menanti film laskar pelangi dan tentu saja menyelesaikan skripsiku.

Aku ingin berdamai dengan lelah dan diriku sendiri, sedikit saja.

Selasa, 18 November 2008

Besok dwi ujian meja

Hari rabu besok mungkin menjadi sebuah hari istimewa bagi dwi. Fenomena Jurnalisme warga yang diangkatnya menjadi ulasan skripsi akan mengantarkannya menuju gerbang sarjana dengan sebuah kunci yang bernama “ujian meja”. Berbagai macam rasa sudah tentu menyatu di pikirannya saat ini. Aku bisa merasakan hal yang sama ketika tanggal 25 september lalu “da vinci code” ku di uji.

Sekarang aku hanya bisa berdo’a, tentu saja ku harap bersama teman-teman yang lain pun turut larut bersamaku.......


Ayo DWI… semangat………..!!!!!