Minggu, 07 September 2008

Puasa hari ketujuh, "pertemuan tak terduga di dunia yang dilipat"

Pagi ini aku berkesempatan pulang lebih awal. Ranes masih tidur ketika aku mengetuk pintu kamarnya. Dia terbangun dan mengucek matanya dan bertanya sudah jam berapakah saat itu? aku bilang sudah jam 3. Antara sadar dan tidak ranes membawa langkahnya menuju kamar mandi untuk cuci muka, aku tertawa melihat tingkahnya seperti itu.

Hari ini begitu panas, meskipun masih pagi tetapi matahari sudah sangat terik. aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8 pagi begitu aku tiba di xtra, pengunjung belum ada yang datang. Aku pun masuk kembali ke dunia ini, dunia yang dilipat.

Yahoo messenger adalah sebuah aplikasi untuk bercakap-cakap dengan teman, saudara, kerabat, guru, pacar, musuh, nenek, kakek, dan apa saja di dunia ini. Dengan syarat ia bisa mengetik dan membaca. Hanya saja aplikasi ini terbatas pada pemilik email yahoo saja. Yah mungkin sedikit narsis dan tertutup. Tapi di zaman sekarang, siapa sih yang tidak kenal yahoo ? Belakangan ini yahoo sudah mengembangkan jangkauan yahoo messengernya hingga bisa chat (ngomong) dengan pemilik hotmail. "Ye-Em" Sebutan gaul buat yahoo messenger, siang ini aku iseng-iseng menyapa teman-teman yang ada di daftar YM ku. Ketika baru beberapa kata ku ketik untuk temanku yang bernama "sharon keisha" aku melihat sebuah e-mail masuk berasal dari Puput 01. Aku terhenti sebentar, Puput? Puput yang itu kah? Puput teman angkatanku yang dulu setelah menikah tidak pernah lagi terdengar kabarnya.

Aku pun membuka inbox ku dan mendapati memang puput itu. Mempunyai nama panjang amelia putri, puput merupakan teman yang sangat menyenangkan. Tidak saja cantik, tetapi dia mempunyai berbagai macam keahlian yang jarang dimiliki kaum hawa lainnya. Musik, puput sangat piawai memainkan gitar, terkhusus bagian Bass, dan piano. Seni lukis, gambar anime yang ada di komik-komik itu bisa dibuatnya dengan singkat. Dia juga menciptakan karakter-karakter kartun teman-temannya. Aku pernah melihatnya melukis Ira (teman kami yang berjilbab sekarang berada di pulau antah berantah) dengan sangat lucu. Aku pun pernah di buatkan karikatur tentang ospek (gambar serigala imut). Pernah juga ketika puasa tahun pertama waktu masih mahasiswa baru menjelang idul fitri, aku minta dibuatkan kartu lebaran yang ada gambar sailormoon lagi memegang ketupat. Menulis, fotografi, Dunia broadcasting semua pernah pernah dilaluinya di makassar. Maka tak heran jabatan produser salah satu acara prambors sempat di pegangnya.

Tahun berganti, penampilan puput yang awalnya tomboy dengan rambut pendek dan cepak berubah menjadi sosok anggun yang dibalut dengan jilbab. Bersamaan dengan itu, ia berkenalan dengan seorang senior dari jurusan lain (saya ingat namanya tapi tidak usah ditulis disini). Dari perkenalan itu mereka memutuskan untuk menikah dan memiliki anak. Setelah itu puput tinggal di makassar sampai februari tahun 2007. Kabarnya tak terdengar hingga puput melahirkan seorang anak laki-laki yang lucu (foto dan namanya barukuketahui dari hasil pertemuan kami di dunia maya ini).

Aku melihat isi surat yang puput kirimkan berisi pertanyaan apakah masih ada yang mengingatnya atau tidak?. Spontan aku menjawabnya melalui milis. Dari tanggal pengirimannya ku ketahui surat itu baru dikirmkan 1 menit yang lalu. Aku langsung memasukkan dalam daftar temanku, dan hasilnya..... sebuah seruan panjang dari puput : "RAHE..............!!!"

Aku pun suka cita menjawabnya. Tak terasa tetes air mataku meleleh (biar keren dan sedikit menyentuh, hehehe). Kami pun saling menanyakan kabar. Dari percakapan ini aku baru tahu puput sempat mengalami cobaan dan masa-masa sulit dalam hidupnya. Itu terjadi sekitar tahun 2007 lalu. Setelah menderita demam berdarah pada titik akut dan masuk rumah sakit, ditambah dengan meninggalnya sang ayah secara tiba-tiba membuat penopang hidup di keluarganya tidak ada. Hal ini membuat puput mengalami depresi berat dan berujung pada temporary amnesia. Aku tidak dapat membayangkan sosok yang sangat lembut itu menghadapi semua rintangan ini. Tetapi dengan kekuatannya, Puput tetap tegar. Cahaya mata zidane (anaknya yang lahir waktu final piala dunia 2006) termasuk yang memperkuat keteguhan hati puput.




Kini puput bekerja di Showroom Hyundai, di sela-sela kesibukannya dia membuka kursus menggambar komik. Tempat kursus ini dikelolanya bersama adikynya rahma yang lulus di LP3i. Karena bakat keduanya yang hampir mirip pada seni lukis ini, maka sekolah yang dibangunnya baru beberapa bulan ini sudah mempunyai murid yang lumayan banyak.



Puput online dari rumahnya, hari minggu begini dia libur. Jadinya di rumah mengurus si kecil zidane. Puput sempat menanyakan kapan kita bisa reunian kembali dengan teman-teman, aku pun meniatkan dalam hati suatu saat nanti kita akan berkumpul bersama kembali meskipun hanya dalam waktu singkat.



Aku jadi ingat kembali, semuanya, BLUR 01, kabar anak-anak...
ah puput, semoga engkau selalu dilindungi yang maha kuasa
kuatkan hatimu ya.....
kami selalu mendukungmu....


Ini profil puput :

http://www.perfspot.com/profile.asp?uid=99BB1D2D-A41F-4FF5-9398-82535CDA4947







Sabtu, 06 September 2008

Puasa hari keenam, "cerita kecil dari sudut antang"

Aku tersentak bangun ketika guncangan kecil menghampiriku. Aku sangat terkejut melihat dengan jelas ranes berdiri dihadapanku sedang tersenyum. Lalu dengan langkah perlahan membalik badannya dan berjalan ke arah luar, aku pun mengikutinya. Dia lalu bertanya mengapa aku tak pulang untuk sahur, lalu ku jelaskan bahwa aku menemani seorang yang sedang mendownload programnya, tidak enak ditinggal sendirian dan Ranes pun mengerti. Kedatangannya ke warnet mngabarkan bahwa ia akan masuk pagi, sehingga otomatis dia akan pulang kepondokan sore hari nanti.

Matahari pagi sudah mulai agak keras sinarnya. Aku pulang ke pondokan segera setelah ardi datang. Aku ingat hari ini akan ada acara buka puasa di rumah Kak Syam, sekaligus mungkin sebagai acara perpisahan. Dosen yang menjadi pembimbingku dalam menyelsaikan skripsi ku kemarin itu akan berangkat menuntut ilmu lagi dalam pencapaian gelar Doktor (S3) nya di Melbourne, Australia hari selasa 9 september 2008 nanti.

Jumat, 05 September 2008

Puasa hari kelima, "sehari tak bersamamu..."

Pukul setengah empat pagi aku dibangunkan ka anwar, setelah tadi mengcapture beberapa gambar dari video wisuda nya ke computer, aku tertidur. Kini sudah hampir imsyak. Aku tidak pulang ke pondokan, karena masih ada Pak Hafied yang mendownload programnya. Apa boleh buat, hari ini sahur tanpa Ranes. Padahal kami berencana melanjutkan menjawab soal-soal di buku psikotest itu. Tak berapa lama adzan subuh pun berkumandang. Aku bergegas mengambil air wudhu dan shalat subuh di belakang meja operator ini. Sengaja aku shalat duluan karena takut nanti tidak sempat subuh. Dan setelah itu aku tertidur lagi.

Aku bangun ketika matahari sudah tinggi. Karena ardi sudah datang, maka aku pulang ke pondokan kemudian terus ke kampus. Shalat jum'at di dalam kampus tetap penuh meskipun bulan puasa. Mushalla di ekonomi maupun sastra tidak cukup menampung banyaknya jemaah yang ada. Aku pun ikut di barisan luar yang hanya beralaskan koran dan tenggelam dalam kekhusyukan masing-masing.

Sore hari ketika bingung mencari dimana akan berbuka puasa hari ini, jun tiba-tiba mengajakku untuk pergi berbuka bersama kak nara (senior kosmik yang kerja di kompas). Bersama Irwan, dan wanto, kami bertolak menuju rumah makan padang yang blum lama ini dibuka dan terletak dekat kantor Briton tamalanrea. Sampai disana telah ada lisda, dkk bersama kak nara telah menunggu. Acara berbuka ternyata telah dimulai dari tadi.

Semua makanan dan minuman yang terhidang di atas meja sangat lebih dari cukup, aku sempat tertegun beberapa saat seperti teman-teman di sekelilingku. Akan diapakan makanan begini banyak?

Pikiranku melayang mencari dirimu, aku membayangkan kau masih tegak berdiri dengan senyum manis yang sedikit dipaksakan demi sesuap nasi. Ah Ranes.....

Kamis, 04 September 2008

Puasa hari keempat, "jangan berjanji, tapi berbuatlah..."

Ranes memanggilku pagi ini. Ketika menjelang adzan subuh berkumandang, dia masih sempat meminum seteguk air untuk menghilangkan rasa manis di lidahnya karena sebelumnya segelas susu coklat habis diminumnya. Setelah itu ia mengajakku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari buku psikotest yang ada di kamar ina. Soal-soal di buku itu gampang-gampang susah. Ada soal seperti ini,

Di tengah acara menjawab soal-soal itu, ranes sempat menanyakan dimna letak pondok Darussalam. Aku heran kenapa ia menanyakan tempat itu. Aku ingat nama pondokan itu karena aku, ilo, fajar, adi dan angga pernah tinggal di sana selama setahun sewaktu status kami masih menjadi mahasiswa baru 2001 silam. Pondokan itu memiliki kamar yang sangat mungil. Begitu muungilnya hingga Ilo yang tingi itu harus menundukan kepalanya bila akan masuk ke dalam kamarnya. Demikian halnya jika ingin mandi. Kamar mandi yang dimiliki juga sangat kecil.sehingga ada istilah dari angga untuk posisi mandi di kamar mandi tersebut. “tidak jelas itu duduk, jongkok atau berdiri”

Kata ranes ada temannya yang punya teman yang tinggal di Darussalam diwisuda hari ini, dan ia ingin peri ke sana tetapi tidak tahu jalannya. Aku pun langsung menyanggupi untuk mengatarkan teman ranes itu dan berjanji sore nanti akan menunggunya. Tetapi sampai matahari terbit ranes belum memberikan kepastian soal temannya itu. Hingga datang telepon dari temannya dan dia berbicara panjang lebar, aku pun tak ingin mengganggunya jadi aku turun ke bawah.

Kiranya matahari pagi sudah terbit, aku bergegas kembali ke warnet. Siangnya aku kembali ke pondokan, mencuci baju dan terus ke kampus. Di kampus sendiri, acara wisuda telah selesai, aku melihat dari kejauhan sosok Ilo sedang bersama seseorang yang mengenakan toga dan bersanggul layaknya putri keratin. Itu pasti Yani, tumpuan hati ilo yang membuatnya terbang melintasi beberapa pulau dan lautan hanya untuk menyaksikan Yani bertoga hari ini. Ku lihat mereka berjalan menuju pasar, aku mengikutinya hingga di pasar dan mendapati saudara-saudara dikosmik seperti yuda, kak riza, rani, kak yusran, dwi, arya, dan kak harwan. Seperti biasa, kalau sudah ngumpul seperti itu, pasti ada saja topic yang dibicarakan meskipun itu tidak jelas arahnya.siang itu pembicaraan mulai dari soal facebook, YM dan friendster sampai soal keberangkatan kak syam yang menurut kak riza tanggal 8 merupakan tanggal kepastian kak syam akan berangkat menuju Australia. Jadi ia menyarankan agar jika anak kosmik berencana mengadakan buka puasa di rumahnya sebaiknya dalam satu atau dua hari ke depan, agar sehari sebelum keberangkatannya kak syam bersama keularga sudah tenang.

Panas mtahari kampus, membuatku gerah. Aku memutuskan untuk pergi ke korps saja. Mengingat disana ada pendingin udara. Jun juga sepertinya berpikiran sama denganku. Jadinya kami berdua naik ke atas dan mendapati Korps sedang tenang-tenangnya. Hanya ada debra yang sedang bermain dengan kucing, lalu ada edi yang sedang tidur dan darma di bagian dalam sedang bersiap akan nonton film di laptop bersama wuri dan rahmat. Aku pun masuk dan membaca Koran sebentar. Hembusan angina pelan dari pendingin udara membuatku terbuai dan tertidur hingga menjelang magrib. Opan membangunkanku karena sebentar lagi akan buka puasa.

Ah… aku jadi lupa akan janjiku pada ranes untuk menunggui temannya yang akan pergi ke Darussalam. Aku mengutuki diriku sendiri sepanjang perjalan kembali ke warnet. Penyesalan memang tidak pernah datang duluan.


Rabu, 03 September 2008

Puasa hari ketiga, "dwi, jun dan ilo (pejuang-pejuang yang berdatangan)

Ina membukakan pintu lantai atas dengan ragu-ragu ketika ku ketok pintunya subuh tadi. Lantas ku bertanya apakah ranes sudah bangun. Tetapi yang kudapat hanyalah gelengan kepala Ina. Ternyata dari tadi malam ina belum bertemu dengan ranes, anehnya di kamarnya Kartu absen dan baju kerja ranes tergelatak di dalam lemari yang menandakan bahwa ranes sudah pulang tadi malam. Aku bingung. Hingga pagi tiba barulah ku ketahui ranes tidak bermalam di pondokan, ia bermalam di rumah temannya dan tak sempat makan malam apalagi sahur. Aku cemas, mana lagi sebentar siang yang terik dia harus ke tempat kerja nya lagi.

Matahari semakin merangkak pelan, tiba-tiba aku dikejutkan suara cempreng dari arah teras bersamaan dengan deru abu yang beterbangan ditimbulkan oleh mobil AVP berwarna perak. Dwi datang...!!!! Dengan menenteng tas laptop dan berbaju putih, dwi tiba. Tak lupa senyuman khas serta suara cemprengnya yang memecah kesunyian pondokan hari ini. Wah... bakalan rame lagi pondokan. Dari pernyataannya yang menggebu-gebu dengan tema "ingin menyelesaikan skripsinya secepat mungkin", aku seakan melihat sosok dwi saraswati hadir di tempat ini. Aura mistis pun seperti terpancar dari arah kamar milik dwi tersebut. Aku lalu berdoa untuk mendukung semangatnya itu.

Aku memutuskan untuk pergi ke korps, entah kenapa hari ini aku rindu korps lagi. Dan seperti gayung bersambut, tuhan memberikan kekuatan baru bagi kaki ini untuk bisa melangkah di tengah teriknya matahari yang diselimuti awan mendung melewati lapangan satu unhas, tugu volcom, taman segitiga rektorat, dan terakhir tangga art FIS IV menuju ruangan korps. Tiba disana telah ada Jun, mbak wuri, nida, echy, darma, yudha, ruztan, kapten, wawan, cokke, dan taro yang sedang tidur. Ada gitar yang nganggur, ku ambil dan kupetik sedikit untuk mengobati rasa rinduku akan suara gitar yang beberapa bulan ini tidak sempat ku dengarkan karena gitar milik patang yang biasa aku mainkan sedang dipinjam angga.

Tidak berapa lama, jun berinisiatif untuk memainkan lagu sambil mencari lirik dan cord gitarnya di internet. kebetulan ada laptop milik kapten (khaerul) yang sedang dipinjam. Jadilah suatu kombinasi yang apik : ada gitar, lirik lagu plus kuncinya di depan mata, dan para penyanyi sekaligus penonton yang ada di sekitar. Maka alunan lagu pun mulai mengalir. Lagu-lagu berbahasa inggris era 90-an yang dipilih jun karena memang jun suka sekali akan lagu barat. Dari backstreet boys, beeges, ronan keating, blue, westlife sampai savage garden. Ketika lagu trully , meadly deeply dilantunkan, Nire pun ikutan nyanyi bersama jun. Kami pun terkesima akan duet dadakan ini. Darma mengisyaratkan kepada semuanya untuk tenang. Jun dan Nire semakin bersemangat bernyanyi dengan syahdunya. Kami pun semakin bersorak karena terhibur akan aksi jun dan nire ini. Dari gerak-gerik jun agaknya dia sedang berjuang mencari simpati dari nire, ataukah ini hanya sebagai ajang latihan untuk mendekati seseorang lain di sana ? aku tak tahu, aku hanya bisa menebak-nebak. Acara menyanyi ini tak terasa berlangsung menjelang sore, sampai sedikit lagi waktu berbuka puasa. Anak-anak pun berpindah dari korps menuju pasar, karena sebelumnya ada informasi dari ain, bahwa mace akan mengadakan buka puasa bersama di situ.

Malam pun datang, aku bergegas menuju warnet. Dengan rutinitas yang sama dalam beberapa tahun ini, satu-satunya yang dapat menjadi alasanku masih disini adalah keyakinanku akan ranes. Entah itu saat ini, atau nanti bahkan di hari tua nanti, aku selalu yakin. Internet yang tiap hari aku temui ini sebagai pelajaran dan bekal bagi pencapaian kepadanya kelak.

Sedang asyik melihat apa yang sedang terjadi di dunia nyata dari dunia maya ini, aku dikejutkan oleh sesosok tubuh yang tinggi. Wajahnya sempat terhalang monitor di depanku. Tetapi ketika ku mencondongkan sedikit badanku kesamping, tampaklah wajah itu. Sumringah dan semangat, Ilo ternyata datang lagi. Menempuh perjalan ribuan kilometer melintasi pulau jawa, bali dan kalimantan untuk sampai di pula sulawesi ini. Semua itu untuk sebuah perjuangan masa depan. Dan masa depan itu di mulai dari besok, tanggal 4 september, hari dimana tambatan hatinya akan diwisuda.

Aku selalu berdoa agar semangat yang terpancar dari Dwi, Jun dan Ilo selalu di dengar yang maha kuasa. Ah... kekuatan semangat itu terasa mengalir di sekitar ku.


Selasa, 02 September 2008

Puasa hari kedua, "...dan musim pun berganti"

Sahur tadi ranes membangunkanku. Dia turun langsung ke kamar patang untuk membuatku terjaga, kemudian menyuruhku ke atas untuk makan disana. Sehabis sahur, ketika Ina sudah terlelap, Ranes masih ingin main game. Jadilah aku menemaninya main game kartu yang katanya pernah dimenangkannya waktu pertama kali memainkannya kemarin. Tapi ternyata kini permainan kartu itu terasa susah sekali. Akhirnya kami memilih main “bounce” saja. Balon-balon yang berjatuhan itu sangat disukai Ranes karena suaranya. Meskipun begitu kami hanya bisa menyelesaikannya sampai level 3 saja. Selalu game over pada level tersebut Karena susah sekali. Atau mungkin otak kami berdua yang tidak mampu ya? Ah tidak apa, yang penting kami menikmatinya saja. Tak terasa hari sudah mulai pagi, ranes pun mengantuk. Kemudian dia tertidur di samping Ina. Aku pun turun ke lantai bawah melanjutkan tidur ku.

Hari sudah siang ketika baru saja ku buka mataku. Sejenak aku berpikir akan kemana hari ini? Aku pun berinisiatif mandi dan berpakaian kemudian langsung menuju kampus. Tiba di sana, banyak sekali mahasiswa yang hilir mudik dengan urusannya masing-masing. Beberapa orang saja ku kenali sepanjang perjalanan menuju kampus tadi. Hm… rupanya orang-orang sudah berbeda dari tahun ke tahun. Kini tinggal dalam komunitas kosmik saja yang masih aku kenal, itu pun mahasiswa baru 2008 dan angkatan 2007 kemarin sebagian tidak dapat aku bedakan. Zaman betul-betul sudah berganti. Begitu pun musim perkuliahan yang sudah dimulai lagi bertepatan dengan bulan puasa tahun ini.

Mungkin inilah menjadi satu-satunya hal yang abadi di dunia ini, "Perubahan"

Senin, 01 September 2008

Puasa hari pertama, "Sesuatu yang tertunda"

Ramadhan baru memasuki hari pertama. Sahur pertama bersama ranes dan ina pagi tadi dengan makanan seadanya menambah semangat untuk puasa hari ini. Tak terasa saya tertidur bersama ranes dan ina di kamar ina setelah main computer. Setelah itu saya pindah ke kamarnya fajar dan meneruskan tidurku bersama dadi dan fajar.

Sinar matahari yang menandakan pagi tentu saja tidak terasa dari kamar yang tertutup rapat gorden dan jendela serta pintunya ini, kalau saja fajar tidak membangunkanku bahwa hari sudah siang. “hari ini yudisium” kata fajar menyadarkanku. “Yudisium?” saya terkejut. Bergegas langsung ku pergi menuju kamar mandi, mengguyur badan seadanya dan menggosok gigi dengan terburu-buru.

Saya heran, sebelumnya memang ada pemberitahuan dari Ibu ida bahwa hari ini kami akan di yudisium, tapi kemungkinan tidak jadi karena ada Fifi yang ujian meja. Mungkin sekalian saja sama Fifi yudisiumnya di hari lain. Tetapi fajar yang baru saja dari kampus itu mengatakan bahwa ini hari akan dilaksanakan yudisium.

Bersama fajar saya pergi ke kampus dengan motor Honda kesayangannya yang sangat berjasa mengantarkan kami kemanapun. Pemandangan yang tersuguhkan di depan pintu masuk parkiran FISIP dari arah rektorat ketika kami baru saja tiba sangat mencegangkan. Walaupun hari pertama puasa, motor yang parikir disini membludak. Seperti halnya pemandangan sewaktu ada UMPTN (SNMPTN untuk tahun ini) di kampus.

Ujian meja untuk Fifi sudah dilaksanakan sedari tadi. Sewaktu kami masuk di kantor jurusan, terlihat Fifi sudah keluar dari ruangan ujian. Kami pun mengucapkan selamat telah melewati prosesi akhir dari perjalanan panjang kuliah ini. Dari penjelasan Fifi pun kami mengerti bahwa yudisium untuknya tidak bisa diadakan hari itu juga karena masih ada perbaikan dalam skripsinya. Fajar menyarankan untuk mengikuti model dalam skripsi milik wiwin karena mirip-mirip metodenya dengan apa yang dipaparkan dalam skripsi Fifi.

Tidak berapa lama Ibu Ida memanggil kami, dan menyarankan untuk menungu sejenak siapa tahu yudisium bisa dilaksanakan hari ini juga bersama Fifi dengan perbaikan skripsi yang bisa menyusul kemudian. Tetapi sesuatu yang tidak diduga terjadi, "Saya tidak akan yudisium kau kalau belum ko potong rambut..!!"Suara Pak Edi menggelegar di telingaku. Dengan adanya perkataan dari pak edi ini,otomatis hari ini yudisium kami tertunda. Akhirnya Patang lagi ikut-ikutan jadi korban.

Ah…. ini semua karena keegoisanku. Rambut ini memang sudah waktunya di potong. Aku harus mulai bisa untuk menata diri lagi. Maafkan aku, patang…




Minggu, 31 Agustus 2008

Suatu sore menjelang ramadhan

Selebaran jadwal imsakiyah dan sholat 5 waktu selama bulan puasa untuk tahun ini telah saya terima. Disini saya dapati ada beberapa buah dengan model yang berbeda-beda. ada yang bergambar mesjid dan bedug serta logo sebuah instansi lokal serta ucapan untukmenunaikan ibadah puasa, ada pula yang memasang model-model muda dan cantik yang mnggunakan jilbab keluaran terbaru. Semuanya dengan tujuan yang sama yaitu menyongsong bulan baik dan penuh berkah ini.

Sore tadi, saya bersama dadi dan sosank menggotong komputer milik dadi bersama speaker dan monitornya menuju kamar patang. Karena alasan akan pindah dan belum tahu akan kemana, dadi akan menitipkan barang-barangnya untuk sementara di kamarnya patang. Biaya kos di kamarnya untuk tahun ini naik lagi, sehingga membuat dadi enggan untuk berlama-lama lagi di kamarnya yang baru ditempatinya selama setahun ini.

Ketika baru saja akan sampai di kamar patang, terlihat debra dan patang duduk di teras pondokan lantai bawah sedang asyik membersihkan buku-buku pemberian dari kak syam yang akan berangkat ke australia untuk sekolah doktornya. Buku-buku tersebut sebagian besar berbahasa inggris. terdapat pula novel dan beberapa jurnal di dalamnya. Saya dan patang mengambilnya ketika seminggu lalu mengantarkan undangan untuk ujian meja di rumah kak syam.

Senyum khas debra dan patang mengembang ketika melihat kami datang. Ternyata disitu telah ada pula were dan ka ucu yang sedang membalik-balik buku dari kak syam. Tidak berapa lama patang mempersilahkan untuk masuk ke kamar mencicipi sesuatu yang debra bawa dari rumahnya. Coklat!!! itu pasti. Ada debra, maka ada coklat. Kali ini dalam ukuran besar dan diletakkan dalam piring yan besar pula. kami semua mencobanya dengan perasaan puas dan rasa tambah. Debra hanya tersenyum-senyum saja ketika were memuji kelezatan coklatnya. Sayang dwi sedang pulang kampung. jadi tidak ada suara cempreng yang akan menanyakan resep dan komposisi dalam coklat tersebut. Saya lihat ada campuran warna putihnya dan seperti terasa kenyal seperti agar-agar. Yang jelas satu gigitan saja, akan meminta gigitan berikutnya sehingga dalam sekejap satu potong kue coklat seukuran 3 jari itu bisa habis dan saya yakin akan minta tambah lagi.

Sore semakin menjelang, ketika saya pergi ke kamar mandi, eva memanggilku dengan tergesa-gesa. Rupanya baju dan baskomnya jatuh ke dalam sumur. Bekerja sama dengan eva, kami mengambil kembali baskom yang berisi beberapa baju yang terjatuh ke dalam sumur tadi. Sedikit basah tapi tidak sampai tenggelam. Eva berjanji akan lebih hati-hati sambil berlalu dari hadapanku.

Tidak berapa lama adzan magrib berkumandang. Were dan kak ucu sudah pulang sehabis mencoba coklat tadi. Tinggal dadi, sosank, debra, patang dan saya di kamar ini. Dadi masih sibuk menyiapkan komputernya yang telah dibersihkan untuk dipergunakan main game sebentar malam. Sosank bersiap-siap akan pamit pulang. "terima kasih atas segala yang telah diberikan hari ini, semoga amal ibadah kalian di terima di sisi-Nya amien" layaknya seorang pastur atau kiayi sosank berdiri di pintu mengucapkan kalimat tadi dengan raut muka serius. Dan kami pun tertawa.

Gelap pun menyergap kembali, saya beranjak ke depan.
Ah... besok puasa, ini ramadhan yang ke tujuh.
Dan kami masih disini, mengharap kehadiran-Mu

Jumat, 29 Agustus 2008

Masih (selalu) bisa cinta

Hari ini kau patahkan hatiku
Kau patahkan niatku
Kau patahkan semangatku

Entah mengapa ku masih bisa cinta
Bisa cinta padamu
Lihat mataku
Akan kucoba perhatikan kamu
Akan kucoba terus cinta kamu
Air mata tak akan ku uraikan
Hanya mengelus dada
Aku masih bisa cinta


lirik ini milik Dewiq, melalui suara iwan fals, lagu ini dinyayikan dalam album 50-50. Dalam album ini terdapat lagu-lagu tentang cinta meskipun bukan ciptaan iwan fals. Ini salah satu yang sangat menyentuh. Sengaja sedikit kurubah posisinya, mewakili segala yang terjadi beberapa hari ini.

Aku baru tahu dan sadar arti cinta yang sebenarnya.
"membuat orang yang kau cintai itu tersenyum"

Itu saja tidak lebih.


Rabu, 27 Agustus 2008

Altar Ego

Ini merupakan sebuah istilah yang saya dengar dari perkataannya dwi tempo hari ketika mencoba laptop barunya bersama kak topan. Saya tidak tahu pasti definisi resminya, tetapi dari contoh yang dwi ungkapkan, sepertinya sangat cocok dengan yang terjadi.
"saraswati" menjadi altar ego bagi dwi, sementara bagi ka yusran saya lupa apa namanya. Kebetulan waktu itu ka yusran sedang menelpon dwi dan menyebut kata itu saat kami membahas kata pengantar yang saya tulis di skripsi.
"ooo... saya tahu, altar egonya kak rahe adalah Ranes" begitu kata dwi menganalisa kata pengantarku. Saya menyimak penjelasannya dengan seksama.
Saya tidak tahu, tapi perasaan ini susah untuk menyangkalnya
Meskipun itu sudah terjadi beberapa tahun lalu.
Saya tahu Ranes sedang berbahagia
Dan saya juga merasakannya
Karena kebahagiannya adalah kebahagiaanku juga, apapun itu