Mungkin bagimu ini permainan
karena terlihat aneh dan banyak tawa
ataukah karena wajah kami tidak seperti orang kebanyakan ?
sering kau mendapati lelucon
yang mungkin tak pernah kau dapati sebelumnya
dan bagimu, itu tak menyentuh rasa humormu
sehingga kadang tawamu seperti dipaksakan
aku bisa melihat itu
tapi biar kukatakan satu hal
Kami tidak sedang main main
dalam setiap pertanyaan yang kau sebut interogasi
dalam sapaan yang kau sebut basa basi
dalam setiap candaan yang kau anggap celaan
dan di dalam lambaian tangan yang mungkin kau anggap panggilan
yang pasti, Maksud kami adalah perhatian
Kami berharap, suatu hari kau atau kalian akan mengerti
Selasa, 01 September 2009
Sabtu, 29 Agustus 2009
yang tidak membuat pergi
jikalau suatu hari nanti kau memutuskan untuk pergi, maka pertimbangkanlah beberapa hal dibawah ini,
masih ada teman yang merasa sendirian
masih ada mantan kekasih yang pernah sakit hatinya
masih ada guru yang butuh engkau untuk diketikkan bahan ajarnya karena Beliau tak muda lagi
masih ada sahabat yang tidak grogi lagi di depan pacarnya jika bersamamu
masih ada tukang koran yang selalu menunggumu membukakan pintu setiap pagi untuknya
masih ada perempuan yang belum percaya diri kalau dia bisa masak
masih ada kata cinta yang belum terucapkan meski hatimu tak mau lagi
masih ada tetangga yang jauh selalu kesal sama kakaknya, padahal itu adalah anugerah baginya
masih ada adik yang selalu gusar akan permainanmu dan kawan kawanmu
masih ada kakak yang ragu akan dirinya sendiri
masih ada pelangi yang tidak lagi mewarnai langit disekitarmu
dan masih ada sinar mentari yang tidak menerangi
kalau masih ada itu semua, urungkanlah niatmu itu barang sebentar saja...
masih ada teman yang merasa sendirian
masih ada mantan kekasih yang pernah sakit hatinya
masih ada guru yang butuh engkau untuk diketikkan bahan ajarnya karena Beliau tak muda lagi
masih ada sahabat yang tidak grogi lagi di depan pacarnya jika bersamamu
masih ada tukang koran yang selalu menunggumu membukakan pintu setiap pagi untuknya
masih ada perempuan yang belum percaya diri kalau dia bisa masak
masih ada kata cinta yang belum terucapkan meski hatimu tak mau lagi
masih ada tetangga yang jauh selalu kesal sama kakaknya, padahal itu adalah anugerah baginya
masih ada adik yang selalu gusar akan permainanmu dan kawan kawanmu
masih ada kakak yang ragu akan dirinya sendiri
masih ada pelangi yang tidak lagi mewarnai langit disekitarmu
dan masih ada sinar mentari yang tidak menerangi
kalau masih ada itu semua, urungkanlah niatmu itu barang sebentar saja...
Jumat, 28 Agustus 2009
Puasa hari ke tujuh, rumah dan sebuah keputusan
Tidak sedikit orang menginginkan rumah, karena disitulah tempat menyimpan segala. Rasa senang sekaligus kecewa. Rindu dan benci juga bisa ditampung. Apalagi persoalan sakit hati dan memendam rasa. Pada rumah semua itu bisa kita timpakan. Dia tidak akan melawan, apalagi sampai meninggalkan kita.
Tetapi terkadang, sering kita meninggalkan rumah. Karena mungkin rumah kita tidak sebagus milik tetangga. Atau mungkin ada debu yang mengakibatkan wajah rumah itu menjadi bahan celaan orang lain terhadap kita.
Maka, diperlukan sebuah pertimbangan yang matang ketika kita akan menutup pintu rumah dan meninggalkannya sendirian atau sekalian saja meratakannya dengan tanah. Semoga keputusan itu benar benar beralasan.
Tetapi terkadang, sering kita meninggalkan rumah. Karena mungkin rumah kita tidak sebagus milik tetangga. Atau mungkin ada debu yang mengakibatkan wajah rumah itu menjadi bahan celaan orang lain terhadap kita.
Maka, diperlukan sebuah pertimbangan yang matang ketika kita akan menutup pintu rumah dan meninggalkannya sendirian atau sekalian saja meratakannya dengan tanah. Semoga keputusan itu benar benar beralasan.
Rabu, 26 Agustus 2009
blogshop membludak..!!!!
tak ada kata terlambat untuk belajar,
baik menulis maupun membaca
ngeblog juga begitu...
(masih mau lanjut, tapi nanti.. masih lapar....)
baik menulis maupun membaca
ngeblog juga begitu...
(masih mau lanjut, tapi nanti.. masih lapar....)
Selasa, 25 Agustus 2009
Puasa hari kelima, dari iblis untuk malaikat
Pernah aku menyarankanmu untuk tetap tegar dan memperhatikan sekeliling. Menyemangatimu agar tak jatuh jika kecewa datang. Pernah pula aku menyuruhmu bersikap begini begitu, “demi kebaikanmu” kataku waktu itu. Ketika melihat untuk kedua kali, aku baru sadar, ternyata itu bukan untukmu, tapi agar kau menganggapku baik, dan didepan orang lain agar terjaga reputasiku sebagai teman sejati.
Kadang itu semua bisa jadi baik menurutku, tapi belum tentu bagimu apalagi orang lain. Tapi celakanya, kau selalu percaya akan diriku dan aku pun terbawa akan posisi seperti itu. Kau terlalu baik, mampu mempercayaiku seperti itu, ketika orang kesayanganku saja tak mampu mempercayaiku.
Sementara aku, terlalu jahat dengan memanfaatkan kesempatan seperti ini berlaku sebagai dewa penyelamat di depan orang lain. Kadang pula engkau terlihat bodoh di depan orang lain karenaku, dan aku hanya menikmati itu semua dengan perasaan yang lapang. Sekali lagi bukan itu tujuanku, tapi entahlah….
Di dalam diri manusia tersimpan potensi baik maupun buruk, orang menyebutnya dalam asosiasi malakat dan iblis. Dan aku yakin, tak sedikitpun engkau memiliki sisi iblis itu.
Kadang itu semua bisa jadi baik menurutku, tapi belum tentu bagimu apalagi orang lain. Tapi celakanya, kau selalu percaya akan diriku dan aku pun terbawa akan posisi seperti itu. Kau terlalu baik, mampu mempercayaiku seperti itu, ketika orang kesayanganku saja tak mampu mempercayaiku.
Sementara aku, terlalu jahat dengan memanfaatkan kesempatan seperti ini berlaku sebagai dewa penyelamat di depan orang lain. Kadang pula engkau terlihat bodoh di depan orang lain karenaku, dan aku hanya menikmati itu semua dengan perasaan yang lapang. Sekali lagi bukan itu tujuanku, tapi entahlah….
Di dalam diri manusia tersimpan potensi baik maupun buruk, orang menyebutnya dalam asosiasi malakat dan iblis. Dan aku yakin, tak sedikitpun engkau memiliki sisi iblis itu.
Dari iblis kepada malaikat
Menulis dan abadilah
Tuhan pernah menulis di dunia ini
DIA menuliskan bumi, langit, laut, udara dan juga dirimu
Di suatu masa Tuhan menakdirkanmu untuk menulis
Ketika kau menulis, pada saat itulah kau membacanya
Karena tulisan adalah bacaan
Kata Kak Yusran Darmawan, Tulisan seperti anakmu sendiri, yang lahir dari rahim pikiran dan perasaan
Maka wajar kalau kau marah ketika anakmu diganggu, atau dipinjam tanpa permisi
Tulisan adalah kemenangan, dia lahir dari pertarunganmu melawan rasa malas yang menghinggapi tangan dan pikiranmu serta hatimu
Rasakanlah setiap tulisan yang pernah lahir itu
Karena menulis adalah pilihan
dan setiap pilihan memiliki konsekuensi
jika ada yang tidak suka, maka itu pun adalah pilihannnya
karena pasti tidak sedikit juga yang tergerak hatinya setelah membaca tulisan itu
mungkin kau akan dianggap payah karena tulisanmu
mungkin kau disebut manja karena curahan hatimu
tapi kau tidak akan diingat sebagai orang yang kalah
kau akan dikenang sebagai pejuang
Pejuang yang pernah setara dengan Shakespare, Hamka, Agatha Christie, JK Rowling, Dewi Lestari, Seno Gumira Ajidarma, Arina, Pramoedya Ananta Toer, bahkan Michael Buble ataupun Didi “element”
“Menulislah”, kata temanku. Agar kau abadi
Yang paling sulit adalah memaafkan
maka beruntunglah mereka yang mampu melalui saat paling sulit itu
DIA menuliskan bumi, langit, laut, udara dan juga dirimu
Di suatu masa Tuhan menakdirkanmu untuk menulis
Ketika kau menulis, pada saat itulah kau membacanya
Karena tulisan adalah bacaan
Kata Kak Yusran Darmawan, Tulisan seperti anakmu sendiri, yang lahir dari rahim pikiran dan perasaan
Maka wajar kalau kau marah ketika anakmu diganggu, atau dipinjam tanpa permisi
Tulisan adalah kemenangan, dia lahir dari pertarunganmu melawan rasa malas yang menghinggapi tangan dan pikiranmu serta hatimu
Rasakanlah setiap tulisan yang pernah lahir itu
Karena menulis adalah pilihan
dan setiap pilihan memiliki konsekuensi
jika ada yang tidak suka, maka itu pun adalah pilihannnya
karena pasti tidak sedikit juga yang tergerak hatinya setelah membaca tulisan itu
mungkin kau akan dianggap payah karena tulisanmu
mungkin kau disebut manja karena curahan hatimu
tapi kau tidak akan diingat sebagai orang yang kalah
kau akan dikenang sebagai pejuang
Pejuang yang pernah setara dengan Shakespare, Hamka, Agatha Christie, JK Rowling, Dewi Lestari, Seno Gumira Ajidarma, Arina, Pramoedya Ananta Toer, bahkan Michael Buble ataupun Didi “element”
“Menulislah”, kata temanku. Agar kau abadi
Yang paling sulit adalah memaafkan
maka beruntunglah mereka yang mampu melalui saat paling sulit itu
Puasa hari keempat, masa akan berganti tetapi semangat itu tetap sama
Dalam setiap rentan waktu ada masa lalu, masa kini dan yang akan datang
Yang lalu kini telah pergi
Yang sekarang tengah berjalan
Dan yang akan datang menyusul kemudian
Namun kadang masih ada masa lalu tertinggal
mereka tak pergi bukan karena tak mau
kecintaan mengalahkan keinginannya untuk pergi
maka tengoklah betapa indahnya ketika masa lalu, masa kini dan masa depan berkumpul dalam satu waktu
Tak ada jarak, meski terkadang kau tak boleh terlalu dekat berdiri karena akan saling berbenturan
atau pun terlalu jauh dalam memandang karena tidak akan saling mengenali
(dari buka puasa pertama kosmik, bersama maba 2009, tapi hm... ada yang lain atau ada yang hilang ?)
Yang lalu kini telah pergi
Yang sekarang tengah berjalan
Dan yang akan datang menyusul kemudian
Namun kadang masih ada masa lalu tertinggal
mereka tak pergi bukan karena tak mau
kecintaan mengalahkan keinginannya untuk pergi
maka tengoklah betapa indahnya ketika masa lalu, masa kini dan masa depan berkumpul dalam satu waktu
Tak ada jarak, meski terkadang kau tak boleh terlalu dekat berdiri karena akan saling berbenturan
atau pun terlalu jauh dalam memandang karena tidak akan saling mengenali
(dari buka puasa pertama kosmik, bersama maba 2009, tapi hm... ada yang lain atau ada yang hilang ?)
Puasa hari ketiga, apa lagi yang kurang ?
Seorang sahabat baru saja datang dari jauh dan menyapamu
Beberapa orang teman mengajakmu makan bersama, walau hanya sebungkus kacang mente yang jumlahnya tidak akan penuh jika ditumpahkan ke dalam sebuah piring makanan anak pondokan
Seorang teman yang terpaut jauh dari usiamu mau menemanimu bernyanyi mulai dari selepas dzhuhur hingga tak terasa waktu buka telah sampai
Seorang teman mau menemanimu menangis untuk hal yang mungkin dia sendiri tak paham apa yang sedang ditangisi
Apalagi yang kurang ? kalau kau punya itu semua
Apalagi yang kurang ? ketika matahari pagi masih bisa terlihat dari sudut matamu, sementara tenggelamnya pada sore hari tidak mungkin kau lewatkan karena tepat berada di depanmu
Apalagi yang kurang ? ketika temanmu seperti keluargamu sendiri
Karena menurut mereka, menjadi keluarga bukan karena satu darah dengannya
Bukan karena kalian harus terlahir dari rahim yang sama atau pernah tinggal di rumah yang sama
Tetapi ketika kesusahan menyapamu, maka mereka juga akan merasakannya seperti dirimu
Apalagi yang kurang ? kalau seseorang yang baru kau kenali selalu mau mendengarkanmu bercerita tentang orang-orang yang mungkin dia sendiri tidak mengenalinya. Selalu bertanya kabarmu, walaupun kau akan membecinya jika kau telah bosan.
Apalagi yang kurang ?
Beberapa orang teman mengajakmu makan bersama, walau hanya sebungkus kacang mente yang jumlahnya tidak akan penuh jika ditumpahkan ke dalam sebuah piring makanan anak pondokan
Seorang teman yang terpaut jauh dari usiamu mau menemanimu bernyanyi mulai dari selepas dzhuhur hingga tak terasa waktu buka telah sampai
Seorang teman mau menemanimu menangis untuk hal yang mungkin dia sendiri tak paham apa yang sedang ditangisi
Apalagi yang kurang ? kalau kau punya itu semua
Apalagi yang kurang ? ketika matahari pagi masih bisa terlihat dari sudut matamu, sementara tenggelamnya pada sore hari tidak mungkin kau lewatkan karena tepat berada di depanmu
Apalagi yang kurang ? ketika temanmu seperti keluargamu sendiri
Karena menurut mereka, menjadi keluarga bukan karena satu darah dengannya
Bukan karena kalian harus terlahir dari rahim yang sama atau pernah tinggal di rumah yang sama
Tetapi ketika kesusahan menyapamu, maka mereka juga akan merasakannya seperti dirimu
Apalagi yang kurang ? kalau seseorang yang baru kau kenali selalu mau mendengarkanmu bercerita tentang orang-orang yang mungkin dia sendiri tidak mengenalinya. Selalu bertanya kabarmu, walaupun kau akan membecinya jika kau telah bosan.
Apalagi yang kurang ?
Minggu, 23 Agustus 2009
Puasa hari kedua, gundah hati
Selepas subuh di puasa hari kedua ini diawali dengan pergi bersama menemani arya belajar nyetir mobil. Bertindak sebagai pengarah adalah kak riza dan kak aidil, sementara saya dan kak yuda dibelakang memberi semangat. Di tengah perjalanan, kak yuda menerima telpon yang entah dari siapa kemudian berujung pada pemberian les privat tentang photoshop kepada orang yang menelpon itu. Jadilah dua pelajaran diajarkan pagi itu, yaitu menyetir mobil dan kursus kilat photoshop. Pelajaran menyetir arya tidak terlalu lama, selanjutnya kami pulang dan tidur lagi hingga siang menyapa.
Sebenarnya panasnya matahari siang tidak terlalu terasa hingga sore menjelang. Sampai waktu buka puasa, saya mendapati kak jun baru pulang dari berolahraga kemudian ia mengajakku berbuka bersama di “pondokan dalam” (sebutan untuk daerah pondokan di belakang workshop teknik unhas). Disana ternyata telah menunggu kak riza, dan kawan-kawan. Kebetulan hadir juga arshanti, cokke, alam serta ari yang baru pulang dari KKN beberapa hari lalu.
Sambil menikmati hidangan buka puasa berupa es buah dalam mangkok kecil, seorang temanku yang duduk didepanku bercerita tentang kegalauan hatinya. Dia rupanya tengah bingung memilih diantara dua sosok yang selalu hadir di setiap jejak langkah hidupnya beberapa waktu ini. Saya pun ikut bingung.
Saya jadi teringat akan sebuah komentar di weblog milik salah seorang sahabatku yang menyukai senja di bulan oktober (tapi rupanya dia sedang menyenangi senja bulan juli juga tahun ini).
Jangan katakan cinta jika kau tidak benar-benar peduli
jangan bicarakan soal perasaan bila itu tidak benar adanya
jangan kau sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hatinya
jangan menatap kedalam mata bila apa yang kau lakukan itu bohong
karena hal terkejam yang bisa dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak berniat menerimanya saat ia terjtuh.
Temanku itu mulai paham, dan bersiap menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Tidak terasa malam pun menjelang. Di tengah adzan magrib yang bersahut-sahutan, kompor kompor gas penjual makanan di kiri dan kanan kami, mulai menyala. Para koki pun mulai beraksi. Dari nasi goreng yang beraneka warna (putih, merah dan cokelat), mi kuah, aneka macam gorengan (bakkara, pisang goreng, ubi goreng) hingga gado-gado. Arshanti tiba-tiba mendekat dan memintaku menemaninya untuk mengantar pulang kak roni, belahan hatinya yang sedang sakit.
Sebenarnya panasnya matahari siang tidak terlalu terasa hingga sore menjelang. Sampai waktu buka puasa, saya mendapati kak jun baru pulang dari berolahraga kemudian ia mengajakku berbuka bersama di “pondokan dalam” (sebutan untuk daerah pondokan di belakang workshop teknik unhas). Disana ternyata telah menunggu kak riza, dan kawan-kawan. Kebetulan hadir juga arshanti, cokke, alam serta ari yang baru pulang dari KKN beberapa hari lalu.
Sambil menikmati hidangan buka puasa berupa es buah dalam mangkok kecil, seorang temanku yang duduk didepanku bercerita tentang kegalauan hatinya. Dia rupanya tengah bingung memilih diantara dua sosok yang selalu hadir di setiap jejak langkah hidupnya beberapa waktu ini. Saya pun ikut bingung.
Saya jadi teringat akan sebuah komentar di weblog milik salah seorang sahabatku yang menyukai senja di bulan oktober (tapi rupanya dia sedang menyenangi senja bulan juli juga tahun ini).
Jangan katakan cinta jika kau tidak benar-benar peduli
jangan bicarakan soal perasaan bila itu tidak benar adanya
jangan kau sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hatinya
jangan menatap kedalam mata bila apa yang kau lakukan itu bohong
karena hal terkejam yang bisa dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak berniat menerimanya saat ia terjtuh.
Temanku itu mulai paham, dan bersiap menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Tidak terasa malam pun menjelang. Di tengah adzan magrib yang bersahut-sahutan, kompor kompor gas penjual makanan di kiri dan kanan kami, mulai menyala. Para koki pun mulai beraksi. Dari nasi goreng yang beraneka warna (putih, merah dan cokelat), mi kuah, aneka macam gorengan (bakkara, pisang goreng, ubi goreng) hingga gado-gado. Arshanti tiba-tiba mendekat dan memintaku menemaninya untuk mengantar pulang kak roni, belahan hatinya yang sedang sakit.
Puasa, hari pertama. Cinta dalam semangat yang tidak habis dimakan waktu
Terik yang menyengat, haus dan lapar menyerang di hari pertama. Menurut sebagian orang, puasa pertama memang sangat berat. Kiranya begitulah yang terjadi. Saya baru ingat beberapa hal sebelum puasa hari pertama ini. Setelah perjalanan dari sengkang kemarin bersama tim Pusat Studi Media Unhas (kak riza, kak yusran, arya, yuda dan aidil) untuk mengambil data-data tentang sutra, kami sahur bersama di BTP tempatnya arya dan selanjutnya tertidur hingga matahari mulai meninggi.
Saya memutuskan untuk bangun dan pulang ke pondokan, selanjutnya mandi dan ke kampus. Entah mengapa selalu ada yang membawa kakiku untuk beranjak kesana. Suasana panas terus terasa hingga memasuki wilayah tugu layar terkembang unhas. Untunglah angin terus bertiup sebagai penyeimbang dan badan ini dapat terus tegak berjalan.
Sesampainya di gedung FISIP, saya langsung naik keatas dan mendapatkan pemandangan yang menakjubkan. Di tengah terik matahari, panas sekali, sangat panas seperti itu, kita mungkin akan menganggap sinting sekitar 20-an anak kosmik yang sedang duduk di depan kantor jurusan ilmu komunikasi pukul 2 siang hari ini. Mereka tetap tenang duduk beralaskan karpet hijau bersandarkan dinding gedung FIS IV mendengarkan pemaparan yang disampaikan kak taro, dan kak cokke dan kakak kakak lainnya tentang bagaimana sosialisasi kosmik terhadap mahasiswa baru nantinya. Sesekali terdengar tawa diantara mereka. Tawa hangat yang tetap terpancar diantara semangat anak anak kosmik ini. Saya sempat melirik sekilas dan mendapati sebagian besar mereka adalah angkatan 2008, seperti rizka, lispa, icha, dewi, aco, lucky, dan si Ade, (gadis pirang yang kuceritakan tempo hari). Ternyata dia sudah balik dari kampung. Ada juga nendeng, opi, icha dari angkatan 2007 dan tentu saja dari angkatan 2006 seperti Irwan sang ketua korps, Ain si ibu sekum, ruztan, asbid rembang, dan kang Himas selaku moderator.
Saya tidak tahu apa yang membuat mereka bisa bertahan dalam semangat seperti itu, yang pasti, ketika sore harinya ketika berbuka bersama kak jun di pinggir danau, saya mendapatkan sesuatu dari situ.
Mulanya Cinta tersusun dari dua elemen. Yaitu memberi dan menerima. Lalu seorang anak kosmik 2008 bernama Mutmainnah (ina, panggilannya) menambahkan elemen ketiga. “ikhlas” katanya. Maka ketika ditambahkan pada dua elemen pertama, akan menjadi : “ikhlas memberi” dan “ikhlas menerima”. Pada akhirnya inilah yang melahirkan elemen keempat, yaitu “mengerti”.
Hal itu pula yang didengar oleh seorang sahabatku yang sedang bimbang karena mungkin merasa bersalah setelah sedikit “memarahi” pujaan hatinya. Ia sebenarnya tidak bermaksud begitu sehingga ketika bertemu denganku setelah berbuka puasa, raut wajahnya masih terlihat gusar meski dalam gelap di pinggir danau
Saya memutuskan untuk bangun dan pulang ke pondokan, selanjutnya mandi dan ke kampus. Entah mengapa selalu ada yang membawa kakiku untuk beranjak kesana. Suasana panas terus terasa hingga memasuki wilayah tugu layar terkembang unhas. Untunglah angin terus bertiup sebagai penyeimbang dan badan ini dapat terus tegak berjalan.
Sesampainya di gedung FISIP, saya langsung naik keatas dan mendapatkan pemandangan yang menakjubkan. Di tengah terik matahari, panas sekali, sangat panas seperti itu, kita mungkin akan menganggap sinting sekitar 20-an anak kosmik yang sedang duduk di depan kantor jurusan ilmu komunikasi pukul 2 siang hari ini. Mereka tetap tenang duduk beralaskan karpet hijau bersandarkan dinding gedung FIS IV mendengarkan pemaparan yang disampaikan kak taro, dan kak cokke dan kakak kakak lainnya tentang bagaimana sosialisasi kosmik terhadap mahasiswa baru nantinya. Sesekali terdengar tawa diantara mereka. Tawa hangat yang tetap terpancar diantara semangat anak anak kosmik ini. Saya sempat melirik sekilas dan mendapati sebagian besar mereka adalah angkatan 2008, seperti rizka, lispa, icha, dewi, aco, lucky, dan si Ade, (gadis pirang yang kuceritakan tempo hari). Ternyata dia sudah balik dari kampung. Ada juga nendeng, opi, icha dari angkatan 2007 dan tentu saja dari angkatan 2006 seperti Irwan sang ketua korps, Ain si ibu sekum, ruztan, asbid rembang, dan kang Himas selaku moderator.
Saya tidak tahu apa yang membuat mereka bisa bertahan dalam semangat seperti itu, yang pasti, ketika sore harinya ketika berbuka bersama kak jun di pinggir danau, saya mendapatkan sesuatu dari situ.
Mulanya Cinta tersusun dari dua elemen. Yaitu memberi dan menerima. Lalu seorang anak kosmik 2008 bernama Mutmainnah (ina, panggilannya) menambahkan elemen ketiga. “ikhlas” katanya. Maka ketika ditambahkan pada dua elemen pertama, akan menjadi : “ikhlas memberi” dan “ikhlas menerima”. Pada akhirnya inilah yang melahirkan elemen keempat, yaitu “mengerti”.
Hal itu pula yang didengar oleh seorang sahabatku yang sedang bimbang karena mungkin merasa bersalah setelah sedikit “memarahi” pujaan hatinya. Ia sebenarnya tidak bermaksud begitu sehingga ketika bertemu denganku setelah berbuka puasa, raut wajahnya masih terlihat gusar meski dalam gelap di pinggir danau
Langganan:
Postingan (Atom)
