Rabu, 21 Januari 2009

sedihmu sedihku juga...



Bagiku, salah satu hal sulit dalam kehidupan ini mungkin adalah memulai. Seperti sekarang, ketika ingin mengawali tulisan ini kurasakan kesulitan bercampur dengan keengganan yang luar biasa. Kalau sudah begini, maka aku akan menyibukkan diri, seperti membuka-buka tulisan atau berita di website, melihat foto-foto atau mengambil segelas air putih kemudian meminumnya.

Sebenarnya sejak sore tadi kegelisahan ini kurasakan. Aku mencoba mengobatinya dengan berjalan-jalan seputaran unhas, mulai dari lapangan bola depan kolam renang kemudian lewat jalan pintu satu,masuk ke areal pondokan sampai singgah ke warnet Deanet milik Arya. Sempat juga ketemu sama mace yang dulu jualan di PKM, kini beliau berdagang nasi goreng diwilayah pondokan belakang workshop.

Sepertinya rasa itu tak mau pergi hingga aku tiba di warnet dan membaca postingan terakhir dari seorang sahabatku di blog miliknya. Aku mendapati jawaban kegelisahanku ini dan alasan mengapa suaranya terdengar sangat lemah ketika namanya kupanggil di pondokan pagi tadi.

Etta (panggilan sahabatku itu kepada bapaknya) sedang sakit, dan sahabatku itu sedang sedih karenanya. Satu hal yang saya sangat salut dari sahabatku yang satu ini, adalah dia sangat tegar menghadapi segala masalah. Dulu ketika Ibundanya pergi mendahuluinya menghadap Yang Kuasa, dia tetap tegar dan malah menasehatiku bahwa semua orang pasti akan pergi, apalagi ibundanya itu pergi karena suatu penyakit yang menurutnya bisa dimaafkan. Dan kini tidak pernah dia mengungkapkan kesedihannya pada kami, selalu dia berusaha terlihat ceria dan segar dengan suara cemprengnya, hanya melalui tulisan di blognya aku bisa meraba-raba apa yang sedang terjadi.

Meskipun begitu Aku merasakan kesedihan mendalam terpancar dari arah pondokan sampai kemari. Tetapi aku tak punya daya. Saat ini yang bisa kulakukan hanya memohon kepada Yang Kuasa agar memberi kekuatan dan semangat padanya.


Minggu, 11 Januari 2009

Januari di hari ke sebelas

Bukan main hebatnya tuhan menciptakan angka. Tentu saja melalui perantaraan akal pikiran manusia. Angka-angka itu sangat beragam. Dengan fungsi yang berbeda pula. Bila disandingkan dengan sesuatu diluar angka tersebut maka akan mempunyai makna tertentu. Bagi sebagian orang tentunya. Seperti siang tadi, ketika eva meminta tolong kepadaku mengambil uang di ATM yang berjarak beberapa kilometer dari pondokan menggunakan motor, aku menganggap angka 60 pada speedometer motor milik iccang ini adalah harga mati bagi kecepatan maximum yang bisa aku pacu. Karena bila kecepatan motor ini melebihi dari itu, maka aku tidak dapat membayangkan yang terjadi pada eva nanti.

Atm bri milik eva sebenarnya mempunyai fasilitas “atm bersama”. Jadi bisa digunakan untuk transaksi seperti mengambil uang di mesin atm bank lain yang mempunyai stiker “atm bersama” dengan konsekuensi pemotongan sekian rupiah pada rekening tersebut. Hal inilah yang dihindari eva, karena ketika tiba di atm tujuan kami (di depan stik tamalatea), ternyata mesin atm tersebut sedang rusak dan eva tidak ingin menarik uang dari mesin atm lain yang jaraknya sebenarnya lebih dekat dari pondokan (mesin atm bni di rektorat atau pintu 2 unhas). Karenanya, kami berbalik arah menuju mesin atm bri terdekat lainnya di universitas 45 panaikang. Aku pun kembali memacu motor dengan kecepatan 60 km per jam sambil berharap agar hujan masih mau bergantung di awan sedikit saja, setidaknya sampai kami pulang nanti sehingga kami tidak basah kuyup.

Agaknya angka yang seperti kusebutkan tadi memiliki kekuatan tersendiri, dalam halnya orang indonesia akan membuncah perasaan dalam dadanya ketika kalender menunjukkan angka 17 dalam bulan agustus, hal ini tidak akan terjadi pada orang amerika, kecuali angka itu bergeser pada 4 juli yang dikenal dengan "independence day". Nah pada hari ini, armand maulana sang vokalis kelompok band "gigi" pasti sedang tersenyum-senyum sendiri atau bersama istrinya dewi gita. Angka penunjuk tanggal yang jatuh pada hari ini 11 januari, merupakan sebuah rangkaian perjalanan pernikahan mereka berdua. Ada beberapa hari, tanggal atau bulan yang pernah dijadikan inspirasi para musisi untuk dijadikan lagu. "11 januari" ini termasuk salah satu yang sangat menyentuh liriknya, tentu saja dengan indah balutan musiknya.

Ingin mencoba menyanyikannya ?

11 januari by GIGI

Sebelas Januari Bertemu
Menjalani Kisah Cinta Ini
Naluri Berkata Engkaulah Milikku
Bahagia Selalu Dimiliki
Bertahun Menjalani Bersamamu
Kunyatakan bahwa Engkaulah jiwaku

Akulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu

Pernahku Menyakiti Hatimu
Pernah kau melupakan janji ini
Semua Karena kita ini manusia

Akulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu

Chorus:
Kau bawa diriku
Kedalam hidupmu
Kau basuh diriku
Dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu adalah Hidupku
Kau sentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna


Jumat, 09 Januari 2009

(tidak) berhenti berharap....

Makassar januari hujan lagi. Meskipun sudah menginjakkan kakinya di tahun baru ini, hujan masih terus turun. Seharusnya awal tahun seperti ini terik matahari lah yang menyengat membakar semangat mengawali roda kehidupan 2009. Tapi tak apalah, mungkin inilah konsekuensi logis dari ulah manusia dengan akibat pemanasan global sehingga kondisi alam pun menjadi tak menentu.

Di tengah derasnya air hujan di luar sana yang terlihat dari dalam warnet ini, aku mendengar dari speaker kecil yang setia menemaniku selama ini, suara marcell melantunkan sebuah lagu. Aku menebaknya ini adalah sebuah lagu baru atau mungkin juga aku yang baru mendengarnya. Judulnya sama seperti lagu milik sheila on 7 beberapa tahun lalu."Berhenti Berharap". Liriknya sederhana, tetapi ketika masuk pada bagian refreinnya, barulah aku menyadari bahwa ini mungkin lagu perpisahannya dengan sang istri, dewi lestari belum lama ini.

Dalam setiap tarikan nafasnya menyanyikan lagu ini, marcell terdengar sangat menghayati dan pasrah menerima segala keadaan serta kenyataan. Sikap ksatria yang ditunjukkannya melalui lagu ini sangat terasa terutama ketika lirik ini mengalir :

Dan Ku Coba Melupakanmu
Karena Ku Tahu Kau Bukan Milikku

Dan Ku Berhenti Berharap

Akan Cinta Mu Yg Dulu Ada Di Hati

Dan Ku Coba Tuk Bertahan

Walau Berat Kini Ku Berhenti

Berharap...


Marcell merupakan salah satu penyanyi favoritku, beberapa lagu terdahulunya seperti firasat, mendendam, dan ketika kau menyapa turut menyemangati hari-hariku. Dengan lagu terakhir ini aku ingin meminjamnya kembali sebagai pengiring ritme kehidupan ini, terutama dalam menghadapi masa yang akan datang. Hanya saja aku akan menambahnya dengan kata "tidak" di depannya, sehingga menjadi "tidak berhenti berharap".

Harapan bagiku memang menjadi senjata sekaligus benteng terakhir menghadapi segala masalah. Usaha yang kita lakukan, doa yang kita panjatkan, akan berujung pada sebuah pengharapan. Dan pada titik ini aku tidak akan berhenti.

Seiring dengan itu, pengharapan padamu (ranes) untuk kembali seperti dulu tidak akan habis meskipun keriput tua akan menyergap dan kata-kata ini akan hilang ditelan waktu.

Aku ingin menyanyikannya tapi kali ini dalam hati saja....

Berhenti Berharap by marcell

Dulu Ku Tak Pernah Percayakan Cinta
Yang Tak Harus Memiliki
Pernah Ku Paksakan Walau Tak Sejalan
Meski Ku Tahu Ku Salah

Dan Ku Coba Melupakanmu
Karena Ku Tahu Kau Bukan Milikku
Dan Ku Berhenti Berharap
Akan Cinta Mu Yg Dulu Ada Di Hati
Dan Ku Coba Tuk Bertahan
Walau Berat Kini Ku Berhenti
Berharap...

Kini Ku Akui Hatiku Tak Bisa
Selalu Miliki Dirimu
Pernah Ku Paksakan Walau Tak Sejalan
Meski Ku Tahu Ku Salah

Dan Ku Coba Melupakanmu
Karena Ku Tahu Kau Bukan Milikku
Dan Ku Berhenti Berharap
Akan Cinta Mu Yg Dulu Ada Di Hati
Dan Ku Coba Tuk Bertahan
Walau Berat Kini Ku Berhenti
Berharap...





Rabu, 31 Desember 2008

Sebelum 2008 ditinggalkan

2009 tinggal berapa menit lagi. Aku menuliskan ini mungkin sebagi postingan terakhir di 2008. Tetapi aku selalu berharap terakhir untuk 2008 saja. Semoga Tuhan masih memperpanjang umurku di 2009 nanti. Berharap memang selalu menjadi senjata terakhir setelah segala usaha telah dilakukan. (wah... ketika sampai pada kalimat ini sebuah petasan meledak dekat warnet dan terdengar seperti bom). Itulah ciri-ciri optimis. Didalam kehidupan, optimis mutlak selalu diperlukan. Tidak saja diperlukan, tetapi juga harus dilaksanakan. Perwujudannya dalam berpikir positif. kata dwi, alam akan menyerap segala harapan, dan optimisme seperti itu.

Bagi kawan-kawan yang sedang berjuang, dalam apa saja, selalulah berpikir positif, optimis dan menaruh harapan itu di depan setelah perjuangan itu dilakukan. Kegagalan mungkin akan kita temui di lapangan nanti. Tetapi itu bukan menjadi alasan bagi kita untuk mundur dan tidak melakukan apa-apa. Sekarang saatnya bergerak, bergerak dalam goresan penamu, dalam lentik jarimu, dalam tarikan indah vokalmu, dalam hentakan kaki kanan dan kirimu, dengan semangat yang terus menyala bagi diri kita, keluarga kita, orang-orang yang kita sayangi, bangsa dan negara kita.

Ah....tiga menit lagi pukul 12 malam waktu indonesia bagian tamalanrea...
Aku tak punya terompet, tetapi aku akan meniup terompet semangat tahun baru ini dalam hatiku. Terpatri kuat disana dalam tarikan nafasku.

Selamat Tahun Baru 2009 .....!!!!

2008 dalam alunan lagu

Kendaraan yang berlalu lalang di depan warnet terlihat bertambah ritmenya. Semakin banyak dan semakin cepat. Kebanyakan menuju ke arah kota. Hari ini memang hari terakhir di tahun 2008. Sejak sore tadi kuperhatikan hal tersebut. Tidak terasa sudah setahun ini berlalu. Sepertinya baru kemarin blog ini kuluncurkan. Ternyata ketika melihat tanggal postingan pertamaku : "saraswati library" itu bertanggal 23 pada februari 2008. Waktu memang hebat, membius kita hingga tidak mampu mengingatnya.

Dalam setahun ini, terkadang ada kepingan-kepingan dalam hidup kita secara spontan ataupun tidak kita sadari terlepas begitu saja, sehingga membutuhkan waktu untuk menyusunnya kembali menjadi suatu puzzle kehidupan yang utuh. Di sisi lain mungkin kita juga menemukan kepingan baru dengan keunikan dan kelebihannya tersendiri untuk melengkapi bahkan mengganti kepingan lama kita. Aku memilih memilih lagu sebagai media kepingan-kepingan tersebut diletakkan. Lagu dapat mewakili perasaan meski itu pun tidak semuanya, tapi aku akui sangat efektif menyalurkan sedikit kepenatan dan kegelisahan.

Seperti saat ini, sayup-sayup lagu "januari di kota dili" terdengar di seantero ruangan warnet xtranet. Aku memutarnya agak keras untuk mengusir sepi karena hanya ada satu pelanggan yang tersisa menjelang pergantian tahun. Awalnya aku mengira lagu yang cocok bagiku pada tahun ini adalah lagu milik ipang dengan "sahabat kecil" karena mengingat greget laskar pelangi telah merasukiku, mulai dari buku hingga filmnya diputar di bioskop beberapa waktu lalu. Ternyata seiring waktu berjalan, silih berganti lagu-lagu lainnya mengisi relung hati untuk menyejukkan jiwa. Sebutlah "malaikat juga tahu" milik dewi lestari pada cerita dalam rectoverso yang sangat menggugah padahal sampai sekarang aku belum membacanya sampai tuntas. Kemudian ada juga tembang lawas big yellow taxi yang di aransemen ulang oleh counting crows, lagu ini sarat akan pesan moral tentang kerusakan lingkungan. Tetapi aku sangat mengingat lagu ini bukan karena alasan itu, melainkan karena Dwi benci terhadap vannesa charlton yang cuma nampang nyanyi dengan sebuah lirik : "huuuu pap pap pap..."

Bertolak belakang sedikit dengan dwi, beberapa waktu lalu ketika ecy masih sering ke warnet, ia sangat suka lagu "thousand miles" milik vannesa charlton. Aku selalu memutarkan lagu ini ketika ecy baru sampai di warnet. Saking seringnya diputar ecy malah jadi marah-marah sendiri. Kalau darma lain lagi, suatu sore ia datang ke warnet dan langsung mencari sebuah lirik lagu. Ketika beberapa saat kemudian setelah dapat, ia memintaku memutarkan sebuah lagu. Ternyata lagu itu milik fastball, yaitu "out of my head", entah kenapa tiba-tiba tingkah darma seperti itu. Dengan lirik yang sudah didapatnya tadi, darma bersiap menunggu bait pertama "out of my head". Dan mengalirlah darma bernyanyi mengikuti alunan vokal Tony Scalzo.

Sementara itu dewiq kembali menggebrak belantika musik indonesia, melalui lagu "pernah muda" yang disuarakan oleh bunga citra lestari. Lagu ini sangat menyentuh sekaligus lucu karena iramanya yang membuat orang sedikit bergoyang. Suara BCL yang mendesah membuat ani di pondokan turut pula menyukai lagu ini. Aku pun sangat menyukai irama bossanovanya sehingga membuat orang yang memainkannya dalam alunan gitar terlihat sangat jago.

Akhirnya di penghujung tahun 2008 ini, aku bertemu narti. Teman sekaligus keluarga jauhku yang memaksa memoriku terlempar kembali ke tanah kelahiranku, tanah lorosae melalui cerita-ceritanya ketika dia nekat memasuki negara timor leste tersebut 2006 silam. Dari sinilah air mataku tak tertahankan ketika tak ada lagu yang cocok selain "januari di kota dili" dari rita effendi itu mengalun pelan kemudian kukeraskan kembali, sekali lagi untuk mengusir sepi.

Disini aku sendiri, masih seperti dulu, masih menunggumu (ranes)

Dua langit telah membaur di suatu cakrawala
Dua biduk t’lah berlabuh di satu dermaga cinta

Januari di kota Dili
tak terkira cinta bersemi
Januari lekas berganti
dan terhempas cintaku

Januari di kota Dili
kian hangat dalam ingatan
nantikanlah aku kembali
‘tuk menjemput cintamu

Cintamu Timor Lorosae
Cintamu Timor Lorosae

Selasa, 30 Desember 2008

Mengemas masa lalu, merangkai masa depan

Mungkin kota ini sudah bosan melihatku tidak pernah beranjak setelah sekian lama menuntut ilmu di salah satu bangunan diatasnya. Padahal waktu yang disediakan seharusnya dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga efektif dalam kehidupan. Tapi begitulah aku. Entah karena selalu merasa tak pernah cukup atas anugerah ini ataukah penghalusan daripada istilah “malas” dalam diriku sehingga rasa betah ini mengalahkan segala keinginan untuk pulang apalagi memikirkan masa depan, kerja dan kawin kemudian beranak pinak.

Tetapi mau tidak mau, tujuh tahun adalah waktu yang disediakan untukku. Kampus merah sudah menggariskan batas tersebut jauh sebelum kelahiranku di sini dari rahim UMPTN 2001 silam. Perjalanan waktu dan aturan seakan tidak mau berdamai denganku. Ataukah aku yang memang keras kepala tidak mau tahu segala ketentuan tersebut ?

Aku sempat kalah di beberapa lini dan waktu itu. Kalau saja tidak bertemu ranes dan orang-orang disekitarku yang terus memberi baterei semangat agar lampu perjuangan ini terus menyala. Tidak terhitung sudah jasa-jasa mereka. Ketika rasa terpuruk itu kembali datang, maka aku teringat semua wajah-wajah tersebut. Semangatku pun berkobar kembali. Tugas akhir yang selalu menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa tingkat akhir seperti diriku, berubah menyenangkan karena adanya tangan halus Kak Syamsuddin Aziz, ditunjang dengan kondisi pasar mace yang begitu bersahabat secara tidak sadar mengumpulkan ide-ide dari teman-teman seperti abang, bento, kak harwan, arya, yudha dan masih banyak lagi . Api semangat itu juga ditiupkan oleh beberapa adik spesialku rahma "pelangi", nendenk, debra dan keluarga cuacanya (riana shunshine, dll), ifzan, ruztan, cokke dan masih banyak lagi

Tampang sangar seekor naga memang membuat ciut siapa saja yang menatapnya. Tetapi disini, naga-naga itu menyayangiku seperti saudara sendiri. Aku sengaja memang menuliskan nama-nama itu disini, mereka bejumlah sembilan makanya disebut Sembilan Naga. mereka itu adalah : Dwi, ecy, shanty, were, icha, darma, azmi, wuri dan emma. Persahabatan itu terjalin begitu indah dan tak terasa terus memompa hingga puncaknya tanggal 25 oktober kemarin aku bisa ujian meja bersama seorang temanku, saudaraku, Fajar .

Kini dalam penantian ijazah yang insya allah akan keluar januari nanti, aku akan mencoba berdamai dengan waktu. Mencoba melepaskan pelampungku dan berenang ke tengah lautan nasib. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, pengalaman masa lalu, dan setumpuk harapan akan masa depan yang lebih baik, aku akan kembali mencoba. Mencoba merasakan kata "pulang" meskipun makna pulang itu sebenarnya telah kurasakan disini. Ketika makassar telah memelukku dan menerimaku seperti anaknya sendiri. Maka tidak salahlah aku selalu sedih jika "feels like home" chantal kreviazuk terdengar olehku. Dalam 7 tahun ini Makassar sudah seperti ibuku sendiri. Tapi aku tak akan memaksanya mengakuiku sebagai anaknya.

Pulang disini dalam arti sesungguhnya. Arti oleh kebanyakan orang. Ketika kau menyebutkan asalmu dari mana disitulah kau akan kembali pulang. Dalam hal ini ketika berkenalan dulu, aku selalu menyebutkan gorontalo sebagai asalku.

Mungkin kesanalah aku pulang nanti....


Jumat, 26 Desember 2008

menulis kehidupan

seorang teman pernah bertanya
atau lebih tepatnya aku yang menganggapnya bertanya

mungkin seperti ini inti pertanyaannya,
(karena sebelumnya saya pernah dengar abang rahmad bilang : "menulislah supaya kau abadi")
lalu muncul lah seperti kata teman saya ini
"ketika produsen alat-alat tulis menghentikan produksinya,scara tidak langsung mereka telah menghentikan keabadian seorang manusia?

ooh..
menulis yang satu ini “beda”
menulis bukan berarti mengabadikan diri kita dengan alat tulis
menulis seperti mencintai,
ketika kita menanyakan alasan apa bagi kita untuk mencintai sesuatu/seseorang
maka sebenarnya tidak alasan untuk mencintai sesuatu/seseorang tersebut

sebenarnya kita tidak perlu alasan untuk mencintai

begitu juga menulis,
maka tulislah…..
tulislah dalam kehidupan
melalui apa saja…
melalui bidikan kamera seorang fotografer
melalui sepakan kaki pemain sepak bola
lewat indahnya kelentikan jemari seorang penari
dalam alunan suara alto seorang biduan
atau pukulan maut seorang petinju
atau ayunan cangkul seorang petani
dan masih banyak lagi
maukah kalian menanmbahkannya ?

Kamis, 25 Desember 2008

Entah kenapa...

entah kenapa...
tapi saya merasa harus menyampaikannya...

SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU....

Rabu, 24 Desember 2008

24 desember, ketika malam pukul 11 lewat sedikit

Tepukan tanganku sengaja agak kukeraskan ketika memanggil pete-pete' (angkot) 05 jurusan cendrawasih-kampus karena jam sudah menujukkan pukul 11 malam lewat sedikit. Kami, (saya, patang dan debra) baru saja pulang dari acara syukuran wisuda anak-anak kosmik periode desember ini yang mayoritas angkatan 2004. Kabar baiknya, kami (patang dan saya - AKHIRNYA!!!) juga termasuk di deretan wisudawan tersebut.

Aku tak akan bercerita panjang tentang acara tadi. Kami datang memang agak telat, tetapi masih banyak anak kosmik yang hadir. Acara sebenarnya sudah dimulai sejak sore tadi. Banyak anggota kosmik dari senior sampai abang-abang yang datang, bahkan kabarnya ketua jurusan illmu Komunikasi yang baru, Bapak Nadjieb dan beberapa dosen-dosen serta staf administrasi hingga pak saleh, staf administrasi FISIP yang sangat berjasa membantu para wisudawan mengurus berkas kemarin pun turut hadir.

Malam semakin larut, untungnya bintang yang tampak di langit dengan jelasnya dan selalu kuperhatikan dengan seksama sejak berangkat tadi masih kelihatan bersinar terang. Ini berarti tidak ada awan mendung yang menutupinya. Otomatis hal seperti ini biasanya menandakan bahwa malam ini tidak akan turun hujan. Beberapa minggu ini Makassar memang selalu diguyur hujan. Makanya aku agak trauma, mungkin sama seperti lainnya. Manusia memang selalu belajar dari alam, dan tuhan menujukkan dirinya melalui tanda-tanda seperti itu. Mendung dan hujan selalu berpasangan untuk mengingatkan. Meskipun ada salah satu lirik lagu "mendung tak berarti hujan..." tetapi ku pikir itu merupakan kiasan untuk menyemangati kita bahwa ketika mendung mengancam akan turun hujan, bukan berarti segala kegiatan harus terhenti. "Life mus go on," masih ada payung, jas hujan atau daun pisang yang bisa di comot untuk melindungi diri agar tidak basah.

Angin dimalam ini bertiup sepoi-sepoi saja, tetapi tidak jika berada dalam kendaraan, apalagi seperti pete-pete' tumpangan kami ini. Pintu utamanya yang menganga membuat angin terasa lebih kencang ditambah dengan kekuatan daya dorong mobil hingga Aku agak menggigil dibuatnya. Beberapa kali pete-pete ini mengubah arah keluar dari jalur resminya karena di sepanjang jalan menuju kampus ini ada beberapa gereja telah disesaki umat nasrani untuk merayakan misa kudus peringatan natal yang jatuh pada esok hari.

Terlihat penampilan para jemaat itu sangat spesial malam ini, mulai dari tua, muda, bapak-bapak, ibu-ibu, para gadis, hingga anak-anak. Karena umat nasrani di kota ini di dominasi oleh etnis selain bugis-makassar, maka pemandangan di jalanan ini terasa lain. Kebanyakan terlihat olehku adalah dari etnis cina. Terkadang ada juga kudapati muka-muka selain cina dengan tanda bermata tidak sipit dan tidak putih. Meskipun begitu, mereka berbaur dalam nyanyian, doa dan kekhusyukan malam natal.

Di sudut jalan lain, cafe-cafe, tempat bilyard serta bar terlihat mulai berdenyut. Dinginnya malam memang menjadi penghibur tersendiri bagi para pengunjung tempat-tempat tersebut. Mungkin karena siang hari mereka harus kerja mencari nafkah, dan keadilan Tuhan menciptakan malam untuk beristirahat pun dimanfaatkan sedemikian rupa.

Ketika pete-pete' tumpangan kami mulai memasuki daerah tamalanrea, denyut kehidupan malam pun berangsur hilang, di kawasan pendidikan ini atmosfirnya memang terasa beda dari kehidupan kota. Ketenangan dan keheningan khas wilayah pendidikan menyelimuti kecamatan ini. Kecamatan yang selalu mengajarkan kepada kita agar tidak pernah menyerah dalam segala hal, termasuk menempuh pendidikan. "Tamalanrea" kata orang berarti "tak jemu-jemu" . Itulah alasan nama itu diberikan.

Tapi....itu sebelum berdirinya beberapa pusat perbelanjaan di sekitar sini. Ah... aku tak tahu apa maunya para pemilik modal itu, para pengambil kebijakan itu, atau para pengawal negara itu. Mungkin juga jika aku di posisi mereka, aku akan berbuat hal yang sama. Bukankah keuntungan memang selalu diatas segala-galanya...?

Di depan pintu satu UNHAS pete-pete' berhenti, kami pun turun dan berpisah. Patang dan debra ke arah pondokan, sedangkan aku kembali ke warnet.
Sebelum berlalu, aku sedikit berteriak ke arah patang dan debra : "off the record yang tadi ya...!!!"

Minggu, 14 Desember 2008

Relax time, minggu pagi itu entah tanggal berapa..

Saya menemukan foto ini dari kumpulan foto di salah satu profile fiendster temanku.