Kamis, 04 September 2008

Puasa hari keempat, "jangan berjanji, tapi berbuatlah..."

Ranes memanggilku pagi ini. Ketika menjelang adzan subuh berkumandang, dia masih sempat meminum seteguk air untuk menghilangkan rasa manis di lidahnya karena sebelumnya segelas susu coklat habis diminumnya. Setelah itu ia mengajakku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari buku psikotest yang ada di kamar ina. Soal-soal di buku itu gampang-gampang susah. Ada soal seperti ini,

Di tengah acara menjawab soal-soal itu, ranes sempat menanyakan dimna letak pondok Darussalam. Aku heran kenapa ia menanyakan tempat itu. Aku ingat nama pondokan itu karena aku, ilo, fajar, adi dan angga pernah tinggal di sana selama setahun sewaktu status kami masih menjadi mahasiswa baru 2001 silam. Pondokan itu memiliki kamar yang sangat mungil. Begitu muungilnya hingga Ilo yang tingi itu harus menundukan kepalanya bila akan masuk ke dalam kamarnya. Demikian halnya jika ingin mandi. Kamar mandi yang dimiliki juga sangat kecil.sehingga ada istilah dari angga untuk posisi mandi di kamar mandi tersebut. “tidak jelas itu duduk, jongkok atau berdiri”

Kata ranes ada temannya yang punya teman yang tinggal di Darussalam diwisuda hari ini, dan ia ingin peri ke sana tetapi tidak tahu jalannya. Aku pun langsung menyanggupi untuk mengatarkan teman ranes itu dan berjanji sore nanti akan menunggunya. Tetapi sampai matahari terbit ranes belum memberikan kepastian soal temannya itu. Hingga datang telepon dari temannya dan dia berbicara panjang lebar, aku pun tak ingin mengganggunya jadi aku turun ke bawah.

Kiranya matahari pagi sudah terbit, aku bergegas kembali ke warnet. Siangnya aku kembali ke pondokan, mencuci baju dan terus ke kampus. Di kampus sendiri, acara wisuda telah selesai, aku melihat dari kejauhan sosok Ilo sedang bersama seseorang yang mengenakan toga dan bersanggul layaknya putri keratin. Itu pasti Yani, tumpuan hati ilo yang membuatnya terbang melintasi beberapa pulau dan lautan hanya untuk menyaksikan Yani bertoga hari ini. Ku lihat mereka berjalan menuju pasar, aku mengikutinya hingga di pasar dan mendapati saudara-saudara dikosmik seperti yuda, kak riza, rani, kak yusran, dwi, arya, dan kak harwan. Seperti biasa, kalau sudah ngumpul seperti itu, pasti ada saja topic yang dibicarakan meskipun itu tidak jelas arahnya.siang itu pembicaraan mulai dari soal facebook, YM dan friendster sampai soal keberangkatan kak syam yang menurut kak riza tanggal 8 merupakan tanggal kepastian kak syam akan berangkat menuju Australia. Jadi ia menyarankan agar jika anak kosmik berencana mengadakan buka puasa di rumahnya sebaiknya dalam satu atau dua hari ke depan, agar sehari sebelum keberangkatannya kak syam bersama keularga sudah tenang.

Panas mtahari kampus, membuatku gerah. Aku memutuskan untuk pergi ke korps saja. Mengingat disana ada pendingin udara. Jun juga sepertinya berpikiran sama denganku. Jadinya kami berdua naik ke atas dan mendapati Korps sedang tenang-tenangnya. Hanya ada debra yang sedang bermain dengan kucing, lalu ada edi yang sedang tidur dan darma di bagian dalam sedang bersiap akan nonton film di laptop bersama wuri dan rahmat. Aku pun masuk dan membaca Koran sebentar. Hembusan angina pelan dari pendingin udara membuatku terbuai dan tertidur hingga menjelang magrib. Opan membangunkanku karena sebentar lagi akan buka puasa.

Ah… aku jadi lupa akan janjiku pada ranes untuk menunggui temannya yang akan pergi ke Darussalam. Aku mengutuki diriku sendiri sepanjang perjalan kembali ke warnet. Penyesalan memang tidak pernah datang duluan.


Tidak ada komentar: